Yayasan Geutanyo Persoalkan Pemindahan Rohingya ke Medan

Yayasan Geutanyo Persoalkan Pemindahan Rohingya ke Medan

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Kordinator Kemanusiaan Yayasan Geutanyoe, Teuku Nasruddin, merasa ada yang aneh dengan kebijakan pemindahan pengungsi Rohingya keluar dari Aceh  sejak dari 2009 sampai sekarang.

Padahal dari  segi fasilitas dan  akomodasi yang telah dibangun oleh NGO nasional dan internasioanl di Aceh sudah cukup memadai. 

“Saat fasilitas penampungan selesai dibangun, tiba-tiba ditimpali kebijakan yang mengeluarkan pengungsi keluar Aceh, menjadikan seluruh bangunan beserta fasilitas lainnya menjadi sia sia; padahal kita tahu itu dibangun dengan anggaran  besar dari para donatur,” ujarnya menyayangkan pemindahan Rohingya dari BLK Kandang , Lhokseumawe, Jumat (30/4/2021).

Disisi lain, katanya jika ditilik dari latar belakang penyelamatan Rohingya  oleh masyarakat Aceh sejak 2009, termasuk juga budaya, makanan, dan kebiasaan hidup lainnya, umumnya hampir sama dengan masyarakat Aceh; tidak heran jika perlakuan masyarakat setempat terhadap para pengungsi Rohingya ini kemudian sangat manusiawi.

 “Bahkan setiap hari anak-anak Aceh ikut bermain bersama dengan anak-anak pengungsi di kamp, beberapa diantaranya berteman cukup dekat, ini bukti masyarakat Aceh memperlakukan pengungsi seperti saudaranya sendiri. Belum terhitung selama penanganan di Aceh tersebut berbagai organisasi kemanusiaan baik lokal maupun internasional saling bahu-membahu mengelola kamp,” timpalnya.

Demi alasan mendasar diatas, Nasruddin pun merasa aneh, kenapa kemudian perlu ada kebijakan pemindahan  pengungsi Rohingya  dari Aceh selama ini ke daerah lain? Padahal selama ini berbagai pujian telah datang, baik dari pemerintah sendiri maupun komunitas internasional menganggap penanangan pengungsi di Aceh sangat baik dan luar biasa. 

Lebih lanjut, Nasruddin menanggapi alasan pemindahan karena di Aceh “tidak aman’” sehingga pengungsi yang melarikan diri. Ini menyakitkan hati masyarakat Aceh pasca-konflik yang masih sensitif dengan penggunaan istilah tersebut. Ia justru bila dibawa ke Medan, peluang untuk masuk ke Malaysia lebih terbuka dan bisa didengan mudah dimamfaatkan para pelaku penyelundupan manusia.

Menyikapi hal itu, Yayasan Geutanyoë  meminta  pemerintah Indonesia  maupun lembaga internasional meninjau kembali kebijakan pemindahan, setidaknya hingga seluruh perencanaan kebijakan penanganan pengungsi luar negeri dalam jangka panjang berhasil dibangun para pihak.

“Kami khawatir, ini berakibat kurang baik untuk penyelamatan pengungsi kedepannya. Bisa saja masyarakat Aceh meminta pihak pemerintah maupun lembaga internasional untuk langsung membawa pengungsi keluar Aceh, karena khawatir kejadian serupa akan terulang kembali dan berdampak terhadap bantuan yang diberikan menjadi sia-sia akibat ditinggalkan begitu saja,” sebutnya.

Ia juga menyebutkan sebaiknya pemerintah Aceh mulai menetapkan   penampungan pengungsi secara berkelanjutan di Aceh, agar kedepan penanganan terhadap pengungsi tersebut dapat dilakukan secara sistematis dan efisien, sejak dari penyelamatan hingga keberangkatan ke negara ketiga.

“Seharusnya Ramadan ini momen tepat untuk menetapkan sebuah reception centre atau pusat penanganan terpadu pengungsi asing di Aceh yang kebetulan secara geografis menjadi titik pertama yang dilihat pengungsi Rohingya dari sisi barat Indonesia (Asia Selatan, Asia Tengah dan Timur Tengah). Alih-alih memindahkan mereka ke luar Aceh dan meng-hampakan seluruh capaian dan pengorbanan yang telah diberikan masyarakat, NGO, pemerintah setempat maupun donor,” pungkasnya.

Komentar

Loading...