Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Wartawan Ini Lihat Nur Halimah Sekarat di Shelter Rohingya Tak Dihiraukan Hingga Meninggal Dunia  

Wartawan Ini Lihat Nur Halimah Sekarat di Shelter Rohingya Tak Dihiraukan Hingga Meninggal Dunia  
Nur Halimah, pengungsi Rohingya terbaring di velbed sesaat sebelum meninggal dunia (Foto: Sirajul Munir/anteroaceh.com)

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com- kehadiran imigran Rohingya gelombang kedua di Kota Lhokseumawe pada Senin dini hari lalu membuat petugas penanganan Rohingya di Shelter BLK Kandang kawalahan. Banyak yang sakit belum mendapatkan penanganan medis hingga salah satu diantara mereka meninggal dunia.

Nur Halimah (21) dikabarkan meninggal dunia di luar tenda dekat kamar mandi kemarin  jelang Magrib , terbaring di velbed tanpa ditemani petugas medis.  Wanita menghembuskan nafas terakhir hanya ditemani beberapa rekannya yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Kejadian itu sempat diabadikan sala seorang wartawan tv , Saiful MDA. Ia sempat menyaksikan wanita malang itu terbaring lemas dengan nafas terengah-engah. Padahal waktu itu ramai petugas  dan relawan di lokasi, namun tidak ada yang peduli.

“Kejadian itu saat  dia mau ke kamar mandi kemudian terjatuh , muntah darah hingga dibaringkan di velbed. Saya sempat  teriak minta tolong ke petugas di lokasi, mereka semua mengaku tidak bisa melakukan apa-apa karena bukan tenaga medis,” kata Saiful dengan nada kesal.

Kemudian Saiful berusaha mencari perawat atau dokter di lokasi, ternyata tidak ada. Kemudian dia berusaha minta tolong ke kebeberapa relawan agar membawa Nur Halimah ke rumah sakit. Lagi-lagi tidak ada yang mengaku bisa. Padahal di lokasi ada  ambulance.

Hingga ia menemui seorang petugas dari BPBD Kota Lhokseumawe. Saiful meminta agar bisa menggunakan mobil Double Cabin petugas itu untuk mengangkut Rohingya yang sudah sekarat itu.

“Ketika teriak-teriak baru mereka datang menemui Nur Halimah, tapi terlambat , pas saya kembali wanita itu telah meninggal dunia,” sebut warga asal Kandang, Lhokseumawe ini.

Ia juga menilai seharusnya Rohingya yang sakit akut seperti itu harus mendapat penanganan medis cepat.   Tak hanya sebatas rapid tes saja. Ia juga menyaksikan banyak  imigran kondisi fisiknya masih lemah. Menurutnya mereka harus diberi rawatan medis.

Dilarang Meliput

Saiful juga merasa kesal, karena saat ia sedang meminta tolong kepada petugas di lokasi, tiba-tiba datang seorang wanita dengan atribut NGO, melarang dirinya meliput kejadian menyedihkan itu.

 “Anda siapa? Ini tidak boleh diliput, dilarang meliput kejadian ini,” kata Saiful menirukan ucapan wanita tersebut.

Ia mengaku sangat kesal dengan sikap wanita itu, karena sebagai pewarta ia berhak mendapatkan informasi penanganan Rohingya di Lhokseumawe untuk dikabarkan ke publik. Penjagaan ketat sah-sah saja, namun tidak menutup-nutupi informasi yang dibutuhkan publik. Karena Rohingya adalah isu dunia, semua berhak tahu bagaimana mereka diperlakukan di pengungsian.

Sementara itu Jubir Satgas Penanganan Rohingya Lhokseumawe, Marzuki membantah penanganan Rohingya tidak berjalan dengan baik. Menurutnya, pihaknya sudah berupaya sebaik mungkin menangani pengungsi sejak mereka tiba, hingga saat ini.

“Disaat awal kita sudah tampung di mereka di tepi pantaim, kita bawa ke shelter kemudian diberikan layanan Rapid tes dan pengungsi yang sakit dirujuk ke rumah sakit, bahkan salah seorang pengungsi sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi fisik Rohingya gelombang kedua memang menurun, karena kelamaan berada di tengah laut. Kemudian terkait Nur Halimah memang ada penyakit bawaan , seperti sesak hingga meninggal dunia.

Komentar

Loading...