Wakil Donat

Wakil Donat
Ilustrasi.

Oleh: Alja Yusnadi

Wakil itu orang yang dikuasakan menggantikan orang lain. Misalnya, saya mewakilkan kehadiran kepada adik saya. Atau, dalam olahraga, wakil itu merupakan utusan negara, contohnya, Persiraja menjadi wakil Indonesia dalam turnamen paling bergengsi se Asia.

Bisa juga, wakil itu jabatan kedua setelah yang disebut di depannya, misalnya: wakil ketua, orang nomor dua setelah ketua, wakil rakyat, orang nomor dua setelah rakyat, wakil kepala, orang nomor dua setelah kepala, dan seterusnya, silahkan dilanjutkan sendiri.

Itulah macam-macam wakil. Dari segenap wakil itu, saya ingin menulis tentang wakil dari definisi terakhir: orang nomor dua. Dalam hal tertentu, menjadi yang nomor dua pasti tidak enak, apalagi diduakan, seperti dalam kisah-kisah yang itu.

Kecuali Astrid—penyanyi nan cantik lagi jelita itu—mau menjadi yang kedua, itupun saya duga hanya dalam lagu, kalau dalam kisah nyata, Astrid juga tidak mau menjadi nomor dua. Iya, kan Trid?

Upss, kita sudahi dulu perihal Astrid ini, nanti kepanjangan, ibarat makanan, kalau sudah terlalu banyak, ada saja yang kurang.

Perihal wakil ini, di Aceh sedang dibincangkan, tidak terlalu serius, tapi belum juga padam sama sekali. Setidaknya, ada tiga wakil: Wakil Gubernur Aceh, Wakil Bupati Aceh Selatan, Wakil Bupati Bener Meriah.

Wakil yang terakhir itu sudah aman, sudah terpilih. Bupati Bener Meriah sudah dua kali mengirim surat kepada partai pengusung untuk mengirimkan dua nama kepada dirinya agar diteruskan kepada DPRK.

Begitulah aturannya, partai pengusung mengusulkan dua nama kepada Bupati dan  Bupati meneruskannya kepada DPRK, lembaga wakil rakyat inilah yang akan memutuskan siapa yang akan menjadi Wakil Bupati.

Akhirnya, DPRK Bener Meriah memilih Dailami. Dia memperoleh 20 suara dari 25 anggota DPRK. Sisanya, menjadi suara rusak. Lawannya, tidak mendapatkan suara.

Kekosongan Wakil Bupati Bener Meriah bersamaan dengan kekosongan Wakil Gubernur Aceh. Pada saat itu, Irwandi Yusuf--Gubernur Aceh-- bersama dengan Ahmadi--Bupati Bener Meriah-- terlibat dalam skandal suap-menyuap.

Untuk mengisi kekosongan, naiklah para wakil itu menjadi orang nomor satu di daerah kekuasaannya masing-masing.

Yang paling heboh itu Wakil Gubernur. Jika dihitung dari masa Irwandi ditangkap KPK, posisi wakil hampir tiga tahun kosong melompong.

Partai pengusung sudah duduk beberapa kali. Pun belum ada titik temu terkait dua nama itu. Yang kelihatan paling lucu dan menggemaskan itu PNA, sudah 5  kali mengeluarkan rekom mandiri untuk calon wakil. Ada nama Muharuddin, mantan Ketua DPRA, Muhamamd Nazar, Ketua Partai SIRA, Muhamamd MTA, Zaini Yusuf, Sayuti Abu Bakar. Tiga nama terakhir adalah politisi PNA.

Saya sebut mandiri, karena rekomendasi itu dikeluarkan oleh PNA sendiri, tanpa PDI Perjuangan, PKB dan Partai Demokrat yang merupakan pengusung Irwandi-Nova.

Entah apa yang menjadi motivasi PNA—versi Irwandi dan Miswar-- untuk mengobral rekomendasi itu. Bisa jadi untuk memberikan tugas kepada masing-masing calon untuk melobi partai perngusung lain, atau juga cuma manasin mesin saja.

Sementara itu, partai pengusung yang lain masih malu-malu kucing, belum menyampaikan ke publik siapa yang mereka usung.

Idealnya, partai pengusung mengusulkan dua nama melalui form resmi, lalu mengirim ke Gubernur untuk selanjutnya diteruskan ke DPRA.

Lalu, ada satu wakil lagi yang masih kosong: Wakil Bupati Aceh Selatan. Jika dihitung sejak meninggalnya Bupati Azwir, kekosongan sudah terjadi sekitar 1,5 tahun.

Sejauh ini, partai pengusung sudah beberapa kali duduk, dan sudah mulai membicarakan nama-nama.

Pertemuan terakhir terjadi diawal Maret lalu, PKB di hadiri oleh Mirwan, Wakil Ketua PKB yang juga sedang diusul SK-nya menjadi Sekretaris DPC PKB.

Kemudian Asmara, Ketua DPC Hanura. Dari PNA, hadir Muzakir Walad, Sekretaris DPW PNA, dan Alja Yusnadi, Ketua DPC PDI Perjuangan. Pertemuan itu disaksikan oleh Tgk. Abrar Muda yang tak lain adalah petinggi PNA.

Saya menulis ini, salah satu sebabnya karena ada banyak pertanyaan, sejauh mana sudah proses itu.

Menggodok Wakil itu memang gampang-gampang susah. Gampangnya, karena partai pengusung “hanya” mengusulkan dua nama kepada Bupati. Susahnya, cobalah Anda membaca resep kue.

Misalnya resep untuk membuat Donat. Di dalam resep tertulis jumlah tepung, telur, gula pasir, dan entah apalagi. Lalu, apakah dengan membaca resep, tepung itu akan menjadi Donat dengan sendirinya? Tidak sodara-sodara.

Di resep itu tidak ditulis bagaimana cara mengaduk hingga menjadi Donat. Banyak sekali kejadian di balik resep. Entah itu listrik yang tidak nyala, minyak kompor habis, tangan terkena panas, dan adegan-adegan atraktif lainnya. Di situlah seninya.

Pertemuan di malam yang agak gerimis itu mengusulkan beberapa nama. Yang paling penting, nama-nama itu harus bisa bekerjasama dengan Bupati. Jangan menjadi duri dalam daging.

Selanjutnya, kita tinggal menunggu respon Bupati. Apakah dari nama-nama itu ada yang cocok, jika tidak, kita minta kepada Bupati untuk mengusulkan nama lain.

Jika sudah tercapai kesepakatan, barulah proses seperti yang di resep bisa dilaksanakan.

Kira-kira, begitulah yang dapat saya sampaikan terkait dengan para Wakil itu. Rupanya, memilih Wakil itu seperti membuat Donat juga.

Wakil itu penting, tapi jangan sampai menjadi Wakil Donat, ya! Yang kerjanya hanya menggunting pita sambil makan Donat.

Komentar

Loading...