Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Tiga Nelayan Aceh Utara Jadi  Tersangka Perdagangan Rohingya

Tiga Nelayan Aceh Utara Jadi  Tersangka Perdagangan Rohingya

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com - Polda Aceh menggelar konferensi pers terkait dugaan perkara perdagangan etnis Rohingya gelombang pertama, Selasa (27/10/2020) di Banda Aceh. Polisi telah menetapkan empat orang sebagai tersangka, dua diantaranya nelayan asal Aceh Utara.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono dihadapan wartawan menerangkan, dua tersangka nelayan asal Aceh Utara masing-masing, FA (47), R (32) dan AS (37) . Sedangkan dua tersangka lain, SB (42) Imigran Rohingya berada di Aceh sejak 2011. Sedangkan dua tersangka lain sedang diburu. 

Menurut Ery, keempat tersangka tersebut terlibat penjemputan 99 etnis Rohingya yang berada di tengah laut pada 25 Juni 2020 lalu. Sebelumnya, tersangka FA bertemu dengan  dua etnis Rohingya AJ dan AR di Idi, Aceh Timur. Kemudian  Pria asal Baktia Barat tersebut ditawarkan  pekerjaan  menjemput Rohingya di tengah laut  dengan imbalan  sejumlah uang.

Setelah pertemuan kedua, terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak untuk menjemput 36 etnis Rohingya yang saat itu masih berada di tengah laut dekat perairan Seunuddon, Aceh Utara. Kemudian  FA menyewa sebuah kapal motor.

“Sesaat sebelum proses penjemputan,  FA dan 2 ABK mempersiapkan kapal di TPI Seunudon,  Aceh Utara.  Kemudian saat itu,  tersangka AJ, AR dan SB mengajak FA untuk membeli makan dan serta rokok sebagai sandi untuk  menjemput Rohingya  ditengah laut, FA telah diberikan koordinat oleh AR via sms,” terang Ery.

Kemudian pada, 22 Juni 2020 pukul 07.00 Wib, kapal  berangkat menuju kordinat yang telah diberikan, setiba disana, 99 Rohingya dipindahkan dari kapal besar  ke kapal motor yang dibawa tersangka. Selanjutnya imigran tersebut dibawa ke kawasan pantai Lancok Bayu,  Aceh Utara. Setelah didaratkan oleh warga sekitar kemudian ditampung di bekas kantor Imigrasi di Blang Mangat, Lhokseumawe.

“FA sudah mendapatkan imbalan sebesar Rp 10 juta dari sejumlah uang yang dijanjikan tersangka lain yang masih DPO,” jelasnya.

Selama proses penyelidikan dan penyidikan, polisi menyita sejumlah bukti antara lain 2 Hp, GPS MAP 585 hitam, merek Garmin buatan Thailand. 1 kapal motor 10 GT 2017-811 milik Koperasi Samudera Indah , Aceh Utara.

Keempat tersangka dijerat dengan Pasal 120 Ayat (1) Undang-Undang RI nomor 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian, yaitu penyeludupan manusia dengan pidana  penjara minimal 5  tahun dan maksimal 15  tahun.  Denda paling sedikit  Rp. 500.000.000  dan paling banyak Rp. 1.500.000.000.

iklan grapela dan tangga seribu
Iklan Batu Berlayar dan masjid tuo

Komentar

Loading...