Breaking News

Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Terima 1 Persen dari Scrap Eks PT AAF, Forum Geuchik Dewantara Dinilai Khianati Masyarakat

Terima 1 Persen dari Scrap Eks PT AAF, Forum Geuchik Dewantara Dinilai Khianati Masyarakat

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com - Himpunan Mahasiswa Dewantara (Himada) Aceh Utara menilai Forum Geuchik Dewantara telah mengkhianati masyarakat, karena telah menerima 1 persen dari hasil lelang Scrap bekas pabrik PT Asean Aceh Fertilizer (AAF).

Ketua Himada, Antarullah dalam rilis yang diterima anteroaceh.com, Sabtu (29/8/2020) juga menyebutkan oknum geuchik yang menerima hibah itu telah melanggar UU no 6 tahun 2014, Pasal 29 tentang Larangan Kepala Desa.

Yaitu dilarang merugikan kepentingan umum, membuat dan mengambil keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain dan golongan tertentu, serta menyalahgunakan wewenang, hak dan kewajiban. Para oknum geuchik itu juga telah melanggar UU No. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik

“Kami sangat kecewa dengan oknum geuchik itu, bahkan sampai sekarang banyak rumah dhuafa yang belum dibangun di Dewantara. Seharusnya uang hibah tersebut di gunakan untuk kepentingan masyarakat dewantara, bukan untuk kepentingan pribadi,” sebut Antarullah.

Soal scrap, pihaknya bersama Forum Pemuda Dewantara (FORPEMDA) pernah audiensi dengan Sekper PIM beberapa waktu lalu, dan meminta perusahaan itu menghibahkan limbah besi itu kepada masyarakat lingkungan, sebanyak 25 persen.

Pihaknya juga ikut terlibat unjukrasa bersama warga dan beberapa kali ikut beraudiensi dengan pihak perusahaan urea.Namun belakangan, Himada mendapat kabar scrap telah dilelang kepada PT Kirana Saiyo Perkasa, perusahaan asal Bekasi, Jawa Barat.

“Ternyata ada udang dibalik batu, 15 oknum geuchik mengkhianati masyarakatnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak hanya mendapat 1 persen dari hasil lelang besi tua itu. mereka juga terlibat dalam proyek itu, dengan menempati posisi strategis di PT Kirana untuk mengelola keuangan, pengawasan, koordinasi, rekrutmen dan administrasi,” jelasnya.

Sebab itu Himada menuntut Forum Geuchik Dewantara mengembalikan Rp 600 juta, demi kepentingan masyarakat Dewantara. Bila tidak dilakukan, jangan salahkan bila ada masyarakat turun tangan.

“Kami dari Himara akan mengawal kasus ini bahkan akan menyurati Bupati Aceh Utara untuk memberikan sanksi tegas terhadap geuchik yang menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.

iklan grapela dan tangga seribu
Iklan Batu Berlayar dan masjid tuo

Komentar

Loading...