Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Terbanyak Belum Tentu Dipercaya

Terbanyak Belum Tentu Dipercaya

BUKAN aturan, namun indahnya peraih suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif akan didapuk menjadi ketua ataupun wakil ketua pada lembaga wakil rakyat.

Ketidak indahan itulah yang saat ini terjadi di Aceh, empat pimpinan DPRA yang terdiri dari satu Ketua dan tiga Wakil bukanlah mereka yang memperoleh suara terbanyak di internal partai masing-masing.

Misalnya Partai Aceh (PA), mereka memilih Dahlan Jamaludin dari dapil 2 sebagai Ketua DPRA, padahal ia hanya meraih 12.291 suara, sedangkan teman separtainya Azhar Abdurrahman dari dapil 10 mengantongi jumlah suara dua kali lipat lebih banyak, yaitu 24.425 suara.

Begitu pula Partai Demokrat, untuk poisi wakil ketua mereka menempatkan Dailami dari Dapil 2 dengan capaian 16.130 suara sedangkan peraih suara terbanyak di partai berlambang mercy itu adalah Teuku Sama Indra dari Dapil 9 dengan 22.556 suara.

Cerita yang sama juga terjadi pada partai Golkar, mestinya Ali Basarah dari Dapil 8 yang menduduki kursi wakil ketua, karena ia memperoleh suara terbanyak di partai yaitu 25.314 suara, tapi lagi-lagi partai menunjuk kader lain yang selisih suaranya sangat jauh, yaitu Hendra Budian dari Dapil 4 dengan raihan 6.722 suara.

Terakhir partai besutan Prabowo Subianto. Meski hanya memperoleh 9.159 suara, Gerindra lebih memilih Safaruddin dari Dapil 9 untuk mengisi posisi pimpinan, padahal dari dapil 2 ada nama Khairil Syahril yang berhasil mengantongi jumlah suara 15.263 suara.

Sebernarnya tidak ada masalah dengan keadaan itu, karena sekali lagi itu bukan aturan yang mengharuskan, penunjukkan ketua maupun wakil ketua di DPRA mutlak menjadi kebijakan internal masing-masing partai.

Namun, yang dikhawatirkan adalah munculnya dinamika baru dalam sistem perpolitikan di internal partai maupun di masyarakat.

Para kader partai untuk meraih kursi pimpinan tidak lagi mengedepankan prestasi dengan berusaha memperoleh suara sebanyak-banyaknya, namun juga harus melobi para pengambil kebijakan di partai, sehingga secara tidak langsung hal itu akan membentuk persaingan yang bisa saja memicu konflik antara sesama kader.

Dinamika lain yang mungkin saja terjadi adalah, muncul pembangkangan secara psikologi dari kader yang meraih suara terbanyak, karena meraka merasa lebih pantas menjadi pimpinan. Tekanan moral bisa juga terjadi bagi yang dipilih sebagai pimpinan, karena pemilihan itu bukan berdasarkan “prestasi”.

Keadaan yang lebih parah adalah, munculnya kekecewaan dari masyarakat terhadap partai pengusung, teruma mereka sebagai pemilih kader suara terbanyak, tentunya ada harapan untuk orang yang mereka jagokannya menjadi pimpinan di lembaga wakil rakyat itu.

Sudahpun terjadi, pilihan sudah diputuskan, saat ini semua orang pasti berharap, keadaan itu tidak memiliki pengaruh apa-apa bagi pimpinan DPRA dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Begitu juga bagi yang tak dipilih untuk tidak baper, karena menjalankan amanah rakyat jauh lebih penting.

Selamat bekerja, dan rakyat awasi mereka…!!

Komentar

Loading...