Tapak Tuan Tapa, Wisata dalam Legenda

Tapak Tuan Tapa, Wisata dalam Legenda

TAPAKTUAN, ANTEROACEH.com – Alam menyimpan banyak cerita, ada cerita sejarah yang faktanya bisa dibuktikan secara ilmiah, dan banyak pula cerita legenda yang secara turun temurun terus dibicarakan dalam masyarakat, walau kebenarannya masih dipertanyakan banyak orang.

Salah satu legenda yang masyhur dimasyarakat adalah legenda Tapaktuan. Cerita rakyat yang satu ini  berasal dari Kabupaten Aceh Selatan. 

Salah satu dari banyak versi yang sering diceritakan, menyebutkan bahwa, dahulu kala hidup sepasang naga yang tidak memiliki anak di wilayah tersebut. 

Suatu hari, sepasang naga ini menemukan seorang bayi perempuan nan mungil terombang ambing di tengah lautan lepas setelah kapal orang tuanya berasal dari China hancur diterjang badai.

Dengan penuh kasih sayang, sepasang naga kemudian merawat bayi kecil itu hingga tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik jelita, kemudian dalam cerita dikenal dengan nama putri naga. 

Meski dirawat dengan kasih sayang, Putri Naga merasa tidak betah dengan keadaan yang ia rasakan. Ia tidak pernah diberi izin untuk bermain keluar, sebab kedua naga takut putri menumukan orang tua kandungya.

Sang putri merasa dikekang, sehingga ia berniat untuk melarikan diri. Singkat cerita kesempatan itu pun muncul. Saat kedua naga pergi, sang putri lari menaiki kapal yang sempat berlabuh di kawasan tersebut.

Mengetahui hal itu, naga pun murka. Mereka  mengira kapal telah mencuri anaknya, sehingga kapal dan semua penumpang terancam.

Karena ketakutan, penumpang kapal berteriak-teriak, dan teriakan itu terdengar oleh Tuan Tapa yang sedang bertapa di dalam sebuah goa, yaitu Goa Kalam.

Kemudian, Tuan Tapa keluar, dan melangkahkan kaki kanan di karang untuk melontarkan tubuh ke laut tempat pertempuran naga dan awak kapal. Jejak kaki itu membekas di karang disisi Gunung Lampu sebelah laut.

Singkat cerita pertempuran sepasang naga dengan Tuan Tapa terjadi sengit, namun pada akhirnya dimenangi oleh Tuan Tapa setelah kedua naga itu tewas.

Kini, legenda Tuan Tapa dan telapak kaki raksasa itu menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Aceh Selatan yang ramai dikunjungi, tidak hanya dari Aceh, namun juga dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Jejak kaki ini begitu tersohor di tengah masyarakat, lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjang sekitar 3 meter, terletak di bibir pantai dan deretan Gunung Lampu, Desa Pasar, kota Tapaktuan.

Selain legendanya yang unik, lokasi tapak ini juga menarik karena berpemandangan alam indah. Tempat itu berada di karang yang menjadi kaki Gunung Lampu serta menghadap ke Samudera Hindia.

Gunung Lampu adalah bukit yang berketinggian sekitar 50-100 meter dari permukaan laut. Bukit itu masih hijau penuh rerumputan dan pepohonan rindang.

Bentang alam itu membuat pendatang atau wisatawan bisa bersantai menikmati pemandangan dan berfoto bersama rekan ataupun keluarga.

Komentar

Loading...