Tangkap Ikan dengan Kompresor, Enam Nelayan  Simeulue Diamankan Polisi

Tangkap Ikan dengan Kompresor, Enam Nelayan  Simeulue Diamankan Polisi

SINABANG, ANTEROACEH.com - Sat Pol Airud Polres Simeulue bersama Dinas Kelautan dan Perikanan dan Flora Fauna Indonesia (FFI) mengamankan enam nelayan di kawasan Konservasi Perairan Pulau Pinang, Pulau Siumat dan Simanaha (KKP PISISI), Senin (14/12/2020) malam, sekitar pukul 20.36 WIB.

Adapun keenam tersangka tersebut terdiri dari empat orang warga Desa Anaao, Kecamatan Teupah Selatan dengan inisial masing-masing ARS(25), TWP(19), BM(32) dan AD(20), kemudian YM (30) warga Desa Lantik, Kecamatan Teupah Barat dan DM(25) warga Desa Blang Sebel, Kecamatan Teupah Selatan.

Kapolres Simeulue, AKBP Agung Surya Prabowo melalui Kasat Pol Airud Ipda Sudirman Laili mengatakan, keenam pelaku ditangkap saat tim gabungan sedang melakukan patroli di sekitar perairan Simeulue.

"Tim patroli gabungan mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya aktifitas perahu motor nelayan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan atau kompresor yang masih marak beroperasi di seputaran wilayah hukum perairan laut Simeulue," ucap Ipda Sudirman Laili dalam keterangan yang diterima anteroaceh.com, Selasa (15/12/2020)

Kemudian lanjut Kasat, tim gabungan melakukan pengejaran, dan kapal motor tersebut berhasil  diamankan dititik lokasi koordinat 02⁰30'629" N. 96⁰23'985" E.

Kepada petugas, para nelayan tersebut mengaku melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu pernapasan kompresor.

Adapun barang bukti yang turut diamankan, yaitu berupa masing-masing satu unit perahu motor beserta mesin 13 PK, dan mesin kompresor beserta selang 100 meter, tiga masker, masing-masing dua kaki bebek, senter selam, tembak ikan dan dakor.

"Ke enam tersangka beserta barang bukti sudah kita amankan di Polres Simeulue dan sedang sedang dalam proses penyidikan langsung oleh pihak PPNS DKP dan di back up oleh Unit III Tipidter Sat Reskrim Polres Simeulue,” pungkas Kasat Pol Airud Polres Simeulue, Ipda Sudirman Laili.

Komentar

Loading...