Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

15 Tahun Aceh Damai

Sisi Yanto Tarah, Konflik dan Perdamaian Aceh

Sisi Yanto Tarah, Konflik dan Perdamaian Aceh
Supriyanto Tarah

Teman-teman dimasa kecil, memanggilnya dengan nama Yanto, namun nama lengkapnya   Supriyanto Tarah. Lahir disebuah kota kecil di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Aceh,  namanya lebih dikenal sebagai “Yanto Tarah”.

Panggilan Yanto  Tarah muncul di Bireuen, kala  dilantik sebagai  sebagai Kapolres  Bireuen pada saat konflik, persiapan perdamaian, saat perdamaian dan paska  MoU Helsinki, antara tahun 2005 sampai dengan  2007.

Saat konflik di Aceh.  Bireuen merupakan salah satu daerah  masuk  kategori “hitam pekat".  tanda “hitam pekat" ditapalkan sebagai daerah sangat rawan. Kontak tembak antara GAM dengan aparat keamanan TNI-Polri sering terjadi, baik siang maupun malam. Gangguan, teror  dan kriminalitas sudah seperti rutinitas.

Dalam situasi itu, sosok AKBP Yanto Tarah harus bekerja secara ekstra keras dan hati-hati, apalagi saat itu tugas pertamanya di Aceh. Tugas  berat dibanding dengan tugas Kapolres di luar propinsi Aceh.

Soal  penanganan kasus keamanan dan ketertiban umumnya misalnya, ia dituntut mampu membilah  perkara kriminalitas murni dengan kriminalitas politik. Jika salah penanganan, kasus kriminal murni dapat dipolitisir sehingga menjadi kasus kriminal politik. Demikian juga sebaliknya dan dampaknya akan menjadi konsumsi nasional maupun internasional.

Contoh kasus pembunuhan suami istri di Kawasan Pulo Nalueng, Kecamatan Peusangan. Terjadi saat paska damai, mengingat Aceh saat itu masih dipantau oleh AMM (Aceh Monitoring Mission) dari perwakilan 20 negara Uni Eropa dan Asean. Kasus itu harus ditangani dengan hati-hati.

Beberapa saksi dan calon tersangka diperiksa,  Polisi  yakin itu pembunuhan berencana. Motifnya,  sakit hati. Pasangan suami istri ditebas  pada tengah malam, ketika jalan  pulang usai melayat  di rumah keluarga korban di desa tetangga. Korban dan pelaku saling kenal dan merupakan penduduk desa yang sama.

Ketika pelaku hendak ditangkap,  muncul provokasi  agar warga mendatangi kantor polisi dan menghalangi penangkapan dengan dalih akan terjadi kasus serupa kembali didesa tersebut. Disisi lain situasi tersebut dikaitkan dengan adanya pihak-pihak yang mengaitkan pembunuhan itu dengan "kasus pulau Nalueng" saat konflik sebelum perdamaian Aceh.

Insiden Pulo Nalueng adalah  pengepungan "bunker GAM" di rerumpun bambu yang dijadikan tempat persembunyian di tengah-tengah tegalan/pematang sawah. Pengepungan dilakukan beberapa hari, melibatkan pasukan Satgaspur TNI  Bireuen dengan bersenjata lengkap.

Uniknya, ide membongkar "bunker GAM" dirumpun bambu tersebut muncul dari Yanto Tarah. Menggunakan ekskavator  yang disampaikan kepada Dansatgaspur TNI saat itu, Kolonel Inf. Syukron Hambali di medan kontak tembak terjadi. Alat berat  itu milik H. Syaifanur (alm), mantan Bupati Bireuen yang saat itu dikenal sebagai kontraktor.

Saat itu Yanto tarah tampil kembali memimpin langsung pembongkaran "bunker". Tidak tanggung-tanggung ia menaiki  ekskavator dan mengarahkan moncong alat berat itu ke  celah bungker.

Ada rasa kagum dan konyol pada usaha pembongkaran itu. Penulis merasa kagum atas keberanian Yanto Tarah berada dilini terdepan. Namun  konyolnya Yanto tidak menggunakan rompi dan helm anti peluru. Rompi dan helm justru dipakaikan   ke operator ekskavator. Ia tak peduli teriakan bawahan agar dirinya mengenakan perangkat pelindung itu.

Yanto Tarah menunjukan "nyalinya" yang luar biasa saat itu,  untuk Aceh. Usahanya tidak sia-sia karena  bunker persembunyian GAM  berhasil dibongkar. Harus diakui, Perwira menengah satu ini sangat berbeda.

Di lapangan, terutama di lokasi kontak tembak,  siang maupun malam, ia selalu berhadapan dengan  para jurnalis . Di setiap peristiwa, para pewarta   selalu  melihat Yanto  tanpa rompi pengaman diri. Ia seperti pasrah berserah kepada Allah SWT.

Saat paska perdamaian setiap isu yang diangkat oleh warga masyarakat akan menjadi hal yang sensitif bagi pemantau AMM di Aceh, sehingga perlu kepiawaian tersendiri untuk mengelolanya, agar tidak berdampak pada proses membangun saling percaya antara GAM dengan RI.

Kondisi awal pasca perdamaian Aceh tahun 2005  adalah satu sisi, hukum harus tetap berjalan pada sisi yang lain.  Keputusan yang diambil juga harus seiring dan harus mendukung proses perdamaian Aceh.

Sebagai Kapolres Bireuen  saat itu, keputusan tepat Yanto Tarah memilih bahwa proses damai lebih mendesak untuk dikawal secara inten,  dibandingkan  menangkap  pelaku kriminalitas.  pertimbangan  lain,  mengutamakan  keselamatan dan keamanan  masyarakat saat itu.

Hampir sama dengan kasus pengepungan ditempat lain, pengepungan Pulo Nalueng  ini berdampak kepada warga. Warga ketakutan akan kondisi yang berkembang saat itu. Tidak ada aktivitas ekonomi dan pendidikan. Semua harus tinggal  di rumah dengan  ketakutan tinggi.

Nah, kejadian pembunuhan suami istri ini dikaitkan dengan isu kasus Pulo Nalueng (terjadi saat konflik),  dengan dalih , bahwa kasus pembunuhan itu adalah aksi  balas dendam atas pengepungan bunker GAM  sehingga beberapa GAM  tewas tertembak.

Pengalihan isu  tersebut membuat proses penanganan sementara waktu tersendat, namun pada akhirnya terungkap.

Yanto Tarah saat itu  lebih memilih untuk mengulur waktu dan sambil terus memperbanyak saksi dan bukti pendukug lain. Jajaranya terus melakukan penyidikan dengan memeriksa sumber informasi tambahan dan tetap memantau calon tersangka lainnya.

Setelah bukti-bukti lengkap, Yanto Tarah memanggil pimpinan desa, tokoh masyarakat tempat asal pelaku dan  korban. Beberapa keluarga pelaku dipanggil untuk diberitahukan hasil kerja polisi,  termasuk melakukan  komunikasi dengan panglima wilayah GAM Batee Iliek, Darwis Jeunieb.

Ia juga menemui beberapa panglima daerah lain. yang kadang kala dilakukan seorang diri. Yanto Tarah berdialog dan mengkomunikasikan apa yang sebenarnya telah terjadi dan  apa yang akan dilakukan polisi.

Disini, Yanto Tarah menunjuk kesabaran  diatas rata-rata pimpinan Polri di daerah, menunjukan nyali menghadapi petinggi-petinggi GAM wilayah Batee ileik, pendekatan merakyat  atau ”low profile", karena sebagai Kapolres, tak perlu harus punya sabar dan senekad itu.

Itulah salah satu  ujian yang mampu dilewatinya  dengan bijak. Hingga saat ini, nama Yanto Tarah sangat akrab di tengah masyarakat dan sangat dihormati oleh warga Bireuen sebagai seorang bapak, sahabat dan  kawan. Kelak, Yanto Tarah diangkat sebagai warga kehormatan kabupaten Bireuen.

Selain mampu berkomunikasi dengan pihak luar secara baik terutama pemantau AMM, seorang Yanto Tarah  juga taktis dalam menjaga mental dan semangat bawahan atas tekanan tekanan dilapangan pada awal awal  pasca perdamaian Aceh.

"Untuk sementara biarlah mantan-mantan  Kombatan GAM yang berkendaraan tanpa gunakan helm atau surat ijin mengemudi. Jangan lakukan penyetopan atau razia kendaraan dulu. Beri waktu mereka mengalami masa awal perdamaian Aceh. Mereka saudara kita,  juga warga  Bireuen.  Himbau untuk tertib berlalu lintas. Biarkan saja karena kita sebagai manusia dan sebagai polisi juga  banyak kekurangan,” pesannya kepada bawahan.

Dalam situasi normal, itulah adalah perintah tak normal yang dikenal dikepolisian dengan istilah diskresi, yaitu  perintah itu menjadi normal karena terjadi pasca MoU Helsinki ditandatangani. Satu tindakan kecil, bisa berdampak besar kepada proses re-intergrasi GAM dengan RI saat itu dan  proses re-intergrasi  itu yang sangat diharapkan oleh Pemerintah Pusat di  Jakarta.

Satu sepeda motor tak memakai plat nomor polisi ditangkap, bisa ratusan  sepeda motor tanpa kelengkapan  yang akan datang ke markas polisi.

Seorang Yanto Tarah kala itu cukup memahami makna perdamian Aceh melalui MoU Helsinki. Hal ini terbukti dengan sikap beliau untuk tidak terpengaruh oleh provokasi massa. Bahkan tetap diam ketika ada warga mantan GAM  yang mengangkat kaki kepada diri  sebagai “sikap hormat”, atau tidak mau bersalaman ketika diajak bersalaman dan melihat tingkah yang kurang sopan.

Ketika itu, nama Yanto Tarah, malah semakin sering  disebut oleh  Kombatan GAM, yaitu  setelah beliau membantu kelancaran membuat SIM (surat ijin mengemudi) dan KTP (kartu tanda penduduk) bagi mereka. Itu menjadi kejadian pertama di Aceh,  serta salah satu implementasi dari perdamaian Aceh di Kabupaten Bireuen.

Setiap mantan kombatan nGAM di Bireuen, ketika bercerita tentang sosok Kapolres Bireuen, maka mereka akan langsung menyebut nama Yanto Tarah dengan senyuman. Senyum antara rasa pernah dibantu dengan rasa simpatik terhadap sosok kapolres yang sangat dekat dengan warga Bireuen. Karena dulu saat konflik mereka sering mendengar suaranya dalam menghimbau dan mengajak untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di Bireuen melalui siaran radio swasta di Bireuen, Yaitu “Radio Getsu" dalam acara "halo polisi" setiap jam 22.00 wib sd 23.00 wib pada hari kamis malam.

Mantan kombatan lain mengisahkan Yanto pernah menggelar pertandingan Volly GAM versus Polisi, saat perjanjian damai berjalan  belum genap sebulan.

Sisi lain, dalam mengisi dan menggerakan pembangunan masyarakat Bireuen saat itu baik saat konflik maupun pasca perdamaian, sosok Yanto Tarah mengisi kegiatan masyarakat dengan swadaya.

Membuat  kejuaraan tinju, lomba lari Bireuen 10 KM, festival budaya dan kesenian Aceh, festival musik, pertandingan olahraga, motocross, grastrack, membersihkan jalan sudut sudut kota juang (Koju),  hiburan  dari artis ibukota dan banyak lagi kegiatan lain. Yanto Tarah juga penggagas lahirnya ”Juangmania" untuk suporter PSBB (persatuan Sepak Bola Bireuen) yang saat itu masuk klasemen Devisi Utama liga sepakbola indonesia.

Secara rutin,  pada malam terakhir tahun, hari besar islam dan HUT Kabupaten Bireuen, AKBP Yanto Tarah berbaur dengan warga  kabupaten Bireuen . Tanpa atribut polisi, dia hilir mudik di tengah ribuan warga yang menonton  pesta kembang api yang merupakan tontonan langsung pertama bagi masyarakat Bireuen, hal itu membuat Yanto bergembira dan menikmatinya kebersamaan.

Yanto Bebas. Yanto bebas berada dekat mesiu kembang api yang sedang terbakar. Yanto bebas berada bersama anak anak. Yanto bebas tersenyum lebar  bersama  anggota dan jajarannya serta Yanto yang bebas bersama warga Bireuen yang dicintainya.  Tagline "Loen sayang Aceh", merupakan kalimat yang paling disukai oleh Yanto terpampang di spanduk sudut sudut  strategis kota.

Ada yang menyebutkan,  hingga saat ini setiap perayaan hari besar islam Pesta kembang api itu sebagai  hadiah dari “ Yanto Tarah, Kapolres Bireuen” yang terus dibicarakan di sudut2 kedai di kota juang . Tentunya saja sepak terjang Yanto Tarah yang membuat Kabupaten Bireuen yang saat Konflik Aceh merupakan daerah "hitam pekat" dan saat pasca perdamaian, Bireuen menjadi daerah paling aman di Aceh, terbukti dengan adanya  kunjungan Presiden RI,  Susilo Bambang Yudhoyona ke Bireuen untuk meresmikan Sekolah Sukma.

Kiprah dan kinerja menjaga dan melihara daerah konflik, saat persiapan perdamaian, pada saat perdamaian, pasca perdamaian dan kedekatan dengan para petinggi/panglimaGAM di Bireuen yang tidak mudah dilakukan  oleh aparat keamanan. Pasti, tidak ada cacatan terekam di Mabes Polri  bahwa nama Yanto Tarah sebagai  kepala polisi resort  Biruen. Yang ada adalah nama AKBP Supriyanto Tarah, yang kini berpangkat Brigadir Jendral Polisi.

Malam akhir tahun 2005  adalah tontonan  kembang Api terbesar yang pernah ada di kota Bireuen, ibukota kabupaten Bireuen dan menjadi Yanto Tarah sebagai salah satu sosok yang selalu di ingat dan diperbincangkan saat ngopi di kedai kedai  di “Kota Juanng  (koju). Para jurnalis  pun sangat dekat dengan sosok polisi yang satu ini. Totalitas dalam pengabdian sebagai Kapolres Bireuen, Yanto Tarah juga memboyong istri dan anaknya untuk menetap di Bireuen.

Kiprahnya untuk menciptakan perdamaian Aceh di Bireuen luar biasa, hal ini terbukti dari data dan  catatan yang ada. Yanto Tarah berhasil  menjadikan kabupaten Biruen menjadi  daerah pengumpulan senjata untuk dipotong oleh AMM terbanyak diatas rata rata  daerah lain.

Disisi penegakan Qanun atau Perda Syariat Islam, Yanto Tarah menuangkan  ide,  menciptakan tatacara hukuman cambuk pertama di Aceh dan Indonesia. Dalam memberantas  narkobanya, Yanto Tarah berhasil menemukan ladang ganja seluas 148 hektar.

Jika pun  semua kiprah dan pengabdian Suprianto Tarah  di Bireuen dianggap sebuah hadiah dari “kapolres Yanto Tarah”,  maka hadiah itu adalah hadiah kebahagiaan bersama dan secara bersama sama, karena Yanto juga ikut didalamnya.

Komentar

Loading...