Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Siaga

Siaga
Ilustrasi (Foto ; detik.com)

Cuaca ekstrem melanda sebagain besar wilayah Aceh sejak satu pekan terakhir ini. Dampak yang ditimbulkan beragam, mulai dari tanah, longsor, pohon tumbang, gelombang tinggi, hingga banjir disejumlah Kabupaten/kota.

Jika ingin dipetakan, dampak dari cuaca yang kurang bersahabat ini, pertama bisa dlihat di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Hujan dengan curah yang tinggi mengakibatkan terjadinya longsor dibeberpa titik.

Banyak ruas jalan tertutup material longsor, ada pula yang putus total hingga tidak bisa dilalui. Bahkan di Bener meriah dua orang kakak beradik harus dilarikan ke rumah sakit setelah terseret longsor saat membeli takjil berbuka puasa.

Empat orang di Kabupaten Abdya dinyatakan hilang setelah dihempas ombak saat memancing, dua ditemukan dalam kondisi selamat, satu meninggal dunia, sedangkan satu lagi hingga hari ini masih dalam percarian.

Lain di Abdya, lain pula ceritanya di Nagan Raya, dua rumah rusak tertimpa pohon tumbang akibat hujan lebat disetai angin kencang. Empat orang penghuni rumah harus mendapat pertolongan medis karena mengalami luka-luka.

Dampak ekstremnya cuaca ini tidak hanya sampai disitu. di Aceh Selatan dua Kecamatan terendam banjir, puluhan keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Banjir juga mengepung Kabupaten Aceh Jaya, ratusan jiwa diungsikan. Tiang trafo milik PLN di kawasan tambak di Kecamatan Indra Jaya tumbang, sebabnya karena erosi tanah. Selain itu longsor dan pohon tumbang juga terjadi di gunung geureute hingga menutupi badan jalan.

Hal yang sama juga terjadi di Aceh Besar, longsor membuat aktivitas lalu lintas di gunung Paro, Kecamatan Leupung terganggu. Sementara di Kecamatan Lhoknga, banjir merenggut nyawa seorang bocah yang masih berumur enam tahun. Ia terpeleset saat bermain di pematang sawah.

Banjir juga merendam sebagian wialyah Lhokseumawe ketinggian air mencapai 30 hingga 50 centi meter. Sedangkan di Kabupaten Bireuen, banjir merendam delapan Kecamatan, puluhan keluarga juga terpaksa mengungsi.

Meski tidak ada pegunungan ataupun sungai yang meluap, banjir yang cukup parah juga merendam ibu Kota Aceh. Hujan dengan intensitas tinggi membuat drainase di Kota Banda Aceh meluap, air mengenangi sejumlah jalan protokol, hingga masuk ke pertokoan dan rumah penduduk.

Begitulah gambarannya, tidak semua bisa uraikan. Namun satu hal yang pasti, bencana alam akan selalu menimbulkan dampak yang mengancam, bahkan ancaman kehilangan nyawa.

Maka dalam kondisi cuaca seperti sekarang ini, kesiapsiagaan sangat diperlukan, karena sebenarnya tidak ada yang betul-betul mampu menahan terjadinya bencana alam, hanya saja manusia masih berpeluang untuk berusaha meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

Pemerintah daerah harus menjadi garda terdepan dalam upaya penanggulangan bencana, seperti tanggap darurat dan rehablitasi yang diberikan dalam bentuk penyaluran bantuan.

Selain itu, pemerintah juga harus mempunyai perencanaan pencegahan, atau minimal melakukan upaya untuk mengurangi resiko dari dampak  bencana, ini bisa dilakukan dengan berbagai macam program pembangunan yang mendukung untuk hal tesebut.

Namun perlu diingat, ini tidak hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran akan ancaman dari setiap bencana yang akan dan sedang terjadi.

Setiap orang harus menyiapkan diri, meningkatkan kewaspadaan dan menghindari daerah-daerah rawan becana alam. Maka untuk itu kita perlu siaga.

Komentar

Loading...