Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Sepanjang Tahun 2020 Perceraian di Aceh Capai Lima Ribu Kasus, Aceh Utara Tertinggi

Sepanjang Tahun 2020 Perceraian di Aceh Capai Lima Ribu Kasus, Aceh Utara Tertinggi

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com – Sepanjang tahun 2020 atau dari Januari hingga November Mahkamah Syar'iyah Provinsi Aceh telah menangani sebanyak 5.535 perkara perceraian dari total 6.578 laporan yang diterima.

Kasus perceraian paling banyak ditangani terjadi di wilayah Aceh Utara, yakni; 638 dari 749 kasus.

Adapun urutan kedua terbanyak tercatat di wilayah Aceh Tamiang sebanyak 456 dari 506 kasus, Pidie sebanyak 405 dari 482 kasus, Aceh Timur sebanyak 373 dari 443 kasus dan Aceh Tengah sebanyak 355 dari 426 kasus.

Panitera Muda (Panmud) Hukum Mahkamah Syar'iyah Aceh, Abdul Latif mengatakan berdasarkan data, paling banyak perceraian terjadi karena perempuan yang menggugat cerai suami, yaitu sebanyak 4.123 kasus dari total 4.918 perkara yang diterima pihaknya. Sementara suami yang menalak istrinya tercatat sebanyak 1.412 kasus dari total 1.660 kasus yang diterima.

"Terjadi pengurangan saat diterima perkara dan saat diputuskan perkara. Itu juga karena berbagai faktor seperti ada yang sudah kembali berbaikan dan ada yang mencabut kasus perkaranya," ungkap Abdul Latif saat ditemui anteroaceh.com diruangannya, Selasa (22/12/2020).

Kemudian lanjutnya, diawal masa pandemi data kasus perceraian di Aceh juga sempat mengalami penurunan, namun kembali naik seperti sediakala ketika memasuki fase new normal.

Dikatakan Abdul Latif, secara umum pihaknya mencatat faktor penyebab perceraian paling tinggi terjadi karena perselisihan dan pertengkaran terus menerus, yaitu sebanyak 4.108 kasus. Kemudian kedua disusul karena faktor meninggalkan salah satu pihak sebanyak 869 kasus.

"Bukan hanya pihak laki-laki ya yang meninggalkan salah satu pihak tanpa kabar, tetapi juga ada kasus perempuan yang melakukannya," tambah Panmud Hukum.

Kemudian lanjutnya, faktor ekonomi menduduki peringkat terbanyak ketiga, yaitu sebanyak 308 kasus dan karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 122 kasus.

"Beberapa faktor lainnya juga terjadi karena pasangan yang di hukum penjara, poligami, tidak bisa menerima kekurangan karena cacat badan, judi, mabuk, madat, zina, kawin paksa, murtad dan juga faktor lain-lain," pungkas Panmud Hukum Mahkamah Syar'iyah Aceh, Abdul Latif.

Komentar

Loading...