Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Sekedar Melawan Lupa!

Sekedar Melawan Lupa!
Foto: rri.co.id

Oleh : Alja Yusnadi

ANDA tau apa sebab daerah konflik menyisakan banyak masalah dan berpotensi terulang kembali? Salah satunya adalah fakta sejarah itu tersimpan rapi di dalam laci, dalam ingatan korban, yang suatu saat akan hilang, menjadi dendam yang berlipat-lipat derajadnya, selebihnya terhempas ke semak belukar atau laut lepas. Syukur-syukur para pelaku masih bisa tidur nyenyak karena tidak dihantui korban yang telah berpulang.

Bersembunyi dibalik dalih membuka luka lama tidaklah tepat, apalagi menggarami luka yang hampir kering. Bagi korban dan keluarga tidak akan kering, masih memendam dan diwarisi ke anak-cucu. Lagi pula, bukankah setiap perbuatan yang di lakukan harus dipertanggungjawabkan? Dan yang tidak kalah penting adalah biar tidak terulang sama sekali dimasa hadapan.

Lihatlah, bagaimana Australia dengan gagah perkasa, Perdana Menterinya menyatakan permohonan maaf kepada suku Aborigin yang telah menjadi korban kebijakan diskriminatif dari rezim sebelumnya. Yang pernah menempatkan suku paling tua di Negeri Kangguru itu pada derajad paling bawah.

Perang, konflik bersenjata, meninggalkan luka yang amat dalam bagi masyarakat, entah itu dibelahan dunia manapun. Yang celaka, dua pihak yang bertikai, masyarakatlah yang paling banyak jadi korban. Mereka tidak dicatat sebagai pahlawan atau mendapat penghargaan setelah damai. Tidak alang-kepalang, cukuplah masyarakat menjadi objek yang diperas saripatinya disaat konlik.

Diawal tahun 1999, situasi Aceh mulai memanas. Di Jakarta situasi politik memasuki era baru, kekuatan politik ekstra parlemen memaksa Soeharto sebagai penguasa orde baru selama 32 tahun mengundurkan diri. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1998, satu tahun sebelum tindakan brutal di simpang KKA terjadi.

Berkaitan dengan itu pula, status Daerah Operasi Militer (DOM) yang diterapkan di Aceh sejak tahun 1989 dicabut. disisi lain, issue Referendum dan tuntutan merdeka secara perlahan terus dikumandangkan.

Bagi yang menyatakan diri sebagai pejuang pembebasan, ini adalah cita-cita perjuangan, bagi serdadu upaya itu dianggap separatis, subversif, dan harus dibasmi. Yang paling banyak adalah yang berada diantara keduanya, itulah masyarakat, ditarik kesana-kemari, dihela sesuai selera, diprovokasi, digalang dan dijadikan tameng dan tempat pelampiasan, dipijak, ditunjang, samsak, dicongkel, diperkosa, dibakar, dicor pakai semen, disayat, dipotong, apalagi bentuk kekejian yang pernah dipraktekkan oleh manusia berhati iblis di dunia ini? Hampir semuanya ada di Aceh dalam rentang waktu 1989-1998 (DOM) dan 1999-2005, dan ditembak!

Salah satunya adalah tragedi berdarah simpang PT. KKA, Aceh Utara. Seorang bintara dari kesatuan Arhanud rudal menyelinap ke dalam kerumunan orang yang sedang mendengar ceramah maulid di desa Cot Murong pada tanggal 30 April 1999. pada masa itu, ceramah-ceramah agama juga dimanfaatkan oleh kelompok pejuang untuk menyampaikan testimoni perilaku serdadu semasa DOM, untuk membakar semangat masyarakat.

Markas kesatuan sang bintara tidak jauh letaknya dengan lokasi ceramah, hanya sekitar lima kilometer. Bintara malang itu tidak pulang dan dinyatakan hilang. Disinilah pangkal soalnya.

Pada hari-hari berikutnya, kawanan serdadu memasuki pemukiman penduduk untuk mencari kawan yang hilang. Masyarakat tak terima, mereka meminta Camat dan pihak berwenang untuk melarang serdadu masuk desa. Entah siapa yang menghasut, akhirnya masyarakat dari berbagai desa berkerumun, berkumpul di simpang PT. KKA, diantara simpang dan pabrik kertas itulah markas Arhanud rudal berada.

Ribuan masa ditembak oleh serdadu. sebagian besar hanya ikut-ikutan, termasuk anak-anak dan perempuan. Paling tidak, menurut data yang dikeluarkan pihak Rumah Sakit, 23 orang meninggal dan 30 luka-luka, kalau versi masyarakat, korban lebih dari itu, ada yang tidak dibawa ke Rumah Sakit. Koalisi NGO HAM Aceh mencatat 46 orang meninggal 156 luka-luka dan 10 orang hilang.

Entah sudah berapa banyak orang yang datang, harapan korban dan keluarga belum terpenuhi. Asa sempat terbentang, disaat Komnas HAM pada tahun 2016 menyatakan telah terjadi dugaan pelanggaran HAM berat. Kemudian terbenam disaat Komnas HAM dan Kejaksaan Agung entah saling tarik atau tolak menolak, yang jelas sampai saat ini belum ada pengungkapan kebenaran.

Bagaimana dengan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh yang merupakan amanah MoU Helsinki dan Undang-undang tentang pemerintahan Aceh? pada tahun 2010, pernah digelar pengungkapan kebenaran, tapi dilakukan keluarga korban, treatrikal, pura-pura belaka dilakukan sebelum KKR ada.

Sekarang?Husst, sama saja, tak bertaring. Lembaga yang dibentuk berdasarkan Qanun Aceh nomor 17 tahun 2013 ini memiliki sejumlah kendala. UUPA sebagai induknya menyatakan, dalam operasionalnya KKR akan mengacu kepada KKR nasional. Sungguh cilaka, telah dicabut oleh Mahkamah Konstitusi tidak lama setelah UUPA diundangkan.

Jadilah KKRA mengurus yang kecil-kecil saja, seperti mendengar curhatan keluarga korban, dan selanjutnya dijadikan fakta-fakta yang tercatat. Menggantungkan harapan besar tentu tak bisa, karena untuk mengurus diri sendiri kadang-kadang KKRA ini dibuat kerepotan.

Bagaimana kelanjutan? Entah, saya juga tidak tahu. Mungkin saja akan menguap, menuju langit atau mungkin saja ada kejadian luar biasa. Yang pasti, Saddam Husein, yang pada saat kejadian berumur tujuh tahun, kalau sekolah akademi kemiliteran, sekarang sudah menjadi perwira serdadu dengan pangkat Kapten atau Mayor. Tapi sayang, bocah yang belum tau apa-apa itu harus mengakhiri hidup diujung senapan yang dia sendiri tidak tahu, apalaku yang sedang terjadi. Entah setan apa yang merasuki pelaku, dan entah sedang apa pula dia sekarang? apa sudah jadi komandan, masih hidup? Sudah beranak yang wajahnya menyerupai Saddam? Atau bagaimana? Sungguh tiada yang tahu, kecuali Tuhan yang Maha Tahu.

Banyak negara sudah mempraktekkan pengungkapan kebenaran, Afrika Selatan, Brazil, Uruguay, dan beberapa negara lain. Jadi bagaimana di Indonesia? Saya tulis ini bukan untuk apa-apa, hanya sekedar mengingat saja, bahwa hari ini, 21 tahun yang lalu terjadi pembantaian di simpang KKA, paling tidak untuk merawat ingatan dan menjadi cerita pengantar tidur kepada generasi berikutnya. Sebagaimana kata Desmond Tutu, Ketua KKR Afrika Selatan, “Tiada masa depan, tanpa pengampunan,” Alfatihah untuk para korban.

Komentar

Loading...