Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Sedekah Jariyah

Sedekah Jariyah

Oleh: M.Fauzan Febriansyah

Tuhan Maha Adil. Saya terlahir dengan suara vokal yang dalam (deep voice istilahnya). Saya juga suka bicara. Akibat hobi baca buku dari kecil. Bicara jadi sarana untuk saya bertukar ide atas hasil bacaan saya. Dulu, dimulai dari majalah Bobo dan komik.

Seiring perjalanan waktu, saya jadi gemar organisasi. Tempat berorganisasi pertama saya ialah mengurus mading sekolah saat SMP. 3 bulan pertama, tidak ada yang saya tulis. Mading SMP 7 Banda Aceh kala itu hanya diisi kliping potongan2 berita surat kabar, artikel majalah dan berita olahraga dari majalah soccer dan koran Bola. Belum pede saya.

Tuhan tak berikan bakat saya bermusik. Jemari saya tak mahir bermain gitar. Menari diatas piano atau menggebuk drum. Kaki saya juga tak lincah bermain bola kaki. Walau hobi luar biasa. Padahal kesemuanya sudah saya coba mulai dan latihan.

Akhirnya saya putuskan untuk maksimalkan saja potensi dan bakat saya yang “alami”. Singkat cerita, setelah ditempa proses saya jadi jago berorasi. Tugas sekolah atau kegiatan yang mengharuskan bicara, jadi saya jagonya. Saya sadari kemampuan ini.

Tak sengaja saya menemukan kutipan unik dari majalah intisari. Saya potong dan tempel di mading. Ukuran setengah A4 lengkap dengan foto dan tulisan:

“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator."

HOS Tjokroaminoto

Dua hari kemudian, selesai pelajaran olahraga (main bola di Lapangan Galapagos Geuce Komplek). Pak Adnan guru olahraga kami kebetulan liat itu poster. Dipanggilnya saya,

“Fauzan itu kamu yang tempel kan?”.

Iya pak.

“Kamu harus seperti yang kamu tempel itu”.

Siap pak!

“Karena kamu gak jago olahraga. Jadi manager pinggir lapangan bolehlah”.

Saya senyum aja.

15 tahun berlalu. Saya belum bisa nyetir mobil. Dapat tugas jadi Juru bicara kampanye Abudoto. Saya terima tugas itu. Tapi saya sadari saya belum punya pengalaman dan jam terbang.

Setelah browsing beberapa referensi, beli 2 buah buku dan nonton beberapa channel youtube. Saya belum puas. Akhirnya saya bertanya ke seorang senior Bang Andi Saiful Haq yang saya anggap pakar bidang ini.

Nasehatnya simple: “tiap minggu kau cari waktu ketemu Abu. Kau bikin resume isu media di minggu ini. Dan analisa prediksi isu di minggu depan. Kalau menurut kau ada yang urgent dan penting, minta Abu untuk respon. Selebihnya makanan kau”.

Saya jalani. Konsisten. Terus terang menantang bagi saya yang debutan ini. Hasilnya, menurut Abu sangat membantu. Saya dapat “poin” disini. Abu juga jadi respek karena saya berusaha konsisten. Hampir setahun melaksanakan tugas itu. Sampai akhir jabatan Abu.

Dampaknya sekarang (setengah dukun memang) saya kayak ada ilmu nujum untuk bisa prediksi momentum isu. Mana yg punya potensi viral atau tidak. Stratak mengatur ritme menu konten, dsb. Dan itu ada di alam bawah sadar.

Saya bisa off sosial media seminggu full. Hp saya mati total. Tidak baca media. Kecuali ketemu koran cetak. Karena selama seminggu punya target menulis sesuatu atau ingin habiskan beberapa film dan buku misalnya, atau karena habis kuota internet. Tanpa merasa ada “beban”. Luarbiasanya pengalaman bentukan alam bawah sadar ini bisa jadi pintu rejeki baru buat saya.

Ini namanya sedekah jariyah. Makasi banyak Pak Adnan dan Bang Ipul. Insya Allah, pahala terus mengali

Komentar

Loading...