Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Sebuah Escavator Tak Bertuan Ditemukan di Tengah Hutan Mangrove di Tamiang

Sebuah Escavator Tak Bertuan Ditemukan di Tengah Hutan Mangrove di Tamiang
Foto: Dok. Ketua LSM LembAHtari, Sayed Zainal

KUALA SIMPANG, ANTEROACEH.com - Petugas Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah III Aceh menemukan satu unit alat berat jenis eskavator (belco) tidak bertuan di tengah hutan produksi mangrove di pesisir Kabupaten Aceh Tamiang, Kampung Kuala Penaga, Kecamatan Bendahara, Sabtu (21/6/2020).  

Alat berat Belco itu diduga digunakan oleh salah seorang oknum untuk merusak dan mengalih fungsikan lahan hutan bakau produksi tersebut.

Kepala KPH III Aceh melalui Kepala BKPH Agus Irawan mengatakan, sebelumnya pihaknya menerima laporan dari Camat Kecamatan Bendahara pada Jum'at 19 Juni 2020 lalu, bahwa di wilayah Kampung Kuala Penaga ada satu unit eskavator yang sedang beraktivitas di areal hutan produksi mangrove. 

"Jadi ada beberapa masyarakat kampung Kuala Penaga melihat alat berat sedang melakukan pekerjaan di hutan produksi mangrove di wilayah kampung mereka," kata Agus, Minggu (21/6). 

Selanjutnya, masyarakat melaporkan kepada Datok Penghulu Kampung, dan kemudian Datok meneruskan laporan itu kepada pihak Kecamatan. 

"Mendapat laporan itu, petugas BKPH langsung turun menuju lokasi yang telah disebutkan keesokan harinya untuk melakukan pengecekan," katanya 

Benar saja, setibanya anggota BKPH bersama KRPH Seruway didampingi Datok Penghulu dan masyarakat Kuala Penaga, Babinsa, Babinkamtibmas Polsek Bendahara, dan juga LSM LembAHtari di lokasi, terlihat satu unit escavator (belco) berada disana. 

Namun, tidak ada satu orang pun disana, begitu juga dengan operator alat berat tersebut. 

"Diduga operator belco telah terlebih dahulu mengetahui akan kedatangan kami dan langsung melarikan diri," terang Agus Irawan.

Dari hasil kesepakatan petugas mencopot dan mengambil Dinamo belco itu, selanjutnya dibawa ke kantor KPH III Aceh.

“Hal ini dilakukan untuk menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan oleh alat berat tersebut.”  

Dalam hal ini, kata Agus, pihaknya terpaksa harus melakukan tindakan tegas terhadap pelaku pengrusakan hutan produksi mangrove tersebut. 

"Sebab alat berat itu diduga sengaja dimasukkan oleh oknum tertentu ke dalam wilayah hutan produksi mangrove untuk melakukan perambahan, perusakan, atau upaya penguasaan tanpa izin dari pejabat berwenang, dan hal tersebut diduga telah melanggar Undang - Undang  Nomor. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan atau Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H)," ujarnya.

Jika terbukti ada aktivitas oerambahan hutan, Agus mengatakan pelaku dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 5 miliar. 

Agus mengungkapkan, berdasarkan keterangan Datok dan masyarakat kampung Kuala Penaga, aktivitas belco tersebut diduga sudah berlangsung sejak Selasa, 16 Juni 2020 lalu. 

"Namun Datok, Pemuda, dan masyarakat Kuala Penaga mengatakan jika mereka sama sekali tidak mengetahui kegiatan itu dilakukan oleh siapa. Bahkan kegiatan itu juga tidak ada laporan dan izin kepada Datok setempat" ujarnya 

Saat ini pihak KPH III Aceh masih menunggu itikad dari pihak pemilik atau operator belco untuk datang ke kantor dan memberikan keterangan kepada KPH III atas apa yang dilakukannya tersebut, dan guna proses lebih lanjut.

Komentar

Loading...