Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Saya Tidak Tahu, Petir Bacok!

Saya Tidak Tahu, Petir Bacok!

Oleh : Alja Yusnadi

“Malaysia adalah bahaja, mebahajai, membahajakan Revolusi Indonesia. Karena itu maka kita serempak seia-sekata, Malaysia harus kita ganjang habis-habisan.” Bung Karno, dalam pidatonya di sidang Komando Operasi Tertinggi (KOTI), 28 April 1964.

Jika ada negara-negara dimuka bumi, yang bersaudara tapi bermusuhan itulah Indonesia dan Malaysia. Kedua negara masih memiliki hubungan keakraban atau serumpun. Ibarat bambu, serumpun, berasal dari pokok yang sama walau tidak sebatang.

Keserumpunan itu bisa dilihat dari Bahasa, warna kullit, sejarah, dan sebagainya. Kedekatan ini tidak berarti hubungan baik-baik saja, lebih banyak cek-coknya. Sejak Indonesia ini dideklarasikan, hubungan Indonesia-Malaysia sudah diambang pertengkaran.

Lihat saja bagimana Bung Karno dengan fasih menyulut semangat rakyat untuk tidak bersimpati kepada Malaysia, menyerukan “Ganjang Malaysia”. Yang membuat Pemimpin Besar Revolusi dan juga Presiden pertama Indonesia itu murka adalah campur tangan Inggris atas negara surumpun.

Bung Karno sangat anti imperialis Inggris yang ingin memperluas negara federasi Malaysia dengan mencaplok Brunei, Singapura dan sebagian Kalimantan Utara. Hal inilah yang membuat si Bung Besar murka.

Hubungan sempat mereda, disaat Soeharto berkuasa, si “jendral senyum” itu memilih jalan damai. Melalui sebuah konferensi di Bangkok, 28 Mei 1966, Indonesia-Malaysia memperbaiki hubungan, hentikan pertikaian.

Kalau kita urut, akan banyak sekali letupan-letupan besar maupun kecil. Seingat saya, letupan itu terbentang dari semua penjuru, seni, budaya, kuliner, teritorial, tenaga kerja, mungkin masih banyak perselisihan lain, yang tidak saya ingat.

Malaysia pernah selfclaim Wayang kulit, Reog Ponorogo, Batik, Angklung, Tari Pandet, Tari Piring, Kuda Lumping sebagai warisan negara mereka.

Ini tentu sangat mengada, dari namanya saja, Reog Ponorogo kita sudah tau, itu Indonesia. Wong, Ponorogo itu adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur, sejak kapan pula Malaysia menyukai huruf “O”. kalaupun ada mungkin namanya Panarege, entah, saya tidak tahu.

Selfclaim berlanjut ke territorial, Malaysia mengatakan Pulau Sipadan dan Lilitan adalah kepunyaan kerajaan koloni Inggris itu. Ah, sudahlah, kita hentikan Sefcalim sampai disini saja.

Saya tidak tahu, apakah diawal penciptaanya, kedua negara ini ditakdirkan untuk terus berbeda? perkaranya, soal pekerja juga demikian. Semacam ada diskriminasi terhadap pekerja Indonesia, padahal, pekerja merupakan salah satu faktor produksi, selain modal dan mesin, begitu saja baca.

Barangkali, yang paling kencang itu di arena sepak bola. Dalam setiap pegelaran level Asia Tenggara, pertandingan Timnas dengan Tim Malaysia atmosfirnya beda. Penuh tipu daya, keras, gengsi tinggi, walau pertemuan di fase Group, serasa babak final. Begitulah kontruksi persaingan kedua negara. Secara keseluruhan, dari 95 pertandingan, Indonesia 39 menang, 21 imbang, dan 35 kemenangan Malaysia. Paling tidak, itulah data per september 2019, yang saya rangkum dari berbagai media, ditengah kemampuan bola saya dibawah rata-rata.

Dari semua rivalitas itu, ada satu yang menarik buat saya. Apa itu? Ditengah ancaman Corona, Kerajaan Malaysia merilis ada sekitar 43 orang mahasiswanya yang belajar di Indonesia dinyatakan positif Covid-19.

Ini mencengangkan, terutama 3 diantaranya dipulangkan dari Aceh, mereka kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Banda Aceh. Dr. Noor Hisham Abdullah, pejabat setingkat Dirjen Kementrian Kesehatan Malaysia merilis informasi itu pada hari Minggu, 19 April. Para mahasiswa , tiba di Banda Kuala Lumpur pada tanggal 16 April.

Sementara, pada tanggal yang sama, Aceh dinyatakan Nol Positif. Wah, bagaimana pula pejabat kerajaan bisa menyatakan 3 mahasiswanya itu positif? Saya tidak sedang mendebat Dr. Noor.

Tapi harus jujur, saya merasa was-was, sembari berharap ketiga mahasiswa asal negeri serumpun itu terjangkitnya bukan di Aceh, bisa saja, dari Aceh mereka transit di daerah zona merah, atau setelah berinteraksi dengan sejawat dari negara lain. Kalau boleh sih, harapannya, Dr. Noor salah diagnosa.

Saya tidak tahu, kapan persisnya ke tiga mahasiswa itu meninggalkan Aceh atau terakhir berinteraksi dengan orang Aceh disekelilingnya.

Kalau akhir Maret mereka masih di Aceh, sudah seharusnya orang-orang yang pernah bersentuhan atau berinteraksi jarak dekat harus diisolasi, untuk memastikan terjangkit atau tidak. Mulai dari kawan sampai pengajar.

Apakah kampus atau pemerintah Aceh dapat mentrackingnya?, Saya tidah tahu. Kalau pemerintah juga tidak tahu, ini keterlaluan. Saya juga tidak sedang menyerukan ganyang Malaysia, yang dapat membahayakan Revolusi kita sebagaimana anjuran si Bung Besar. Tapi, disaat seperti ini, kita harus mengganyang pemerintah yang tak bisa buat apa-apa.

Lihatlah Malaysia, mereka dengan segera melakukan tes kepada siapa saja yang baru tiba dari daerah yang dianggap berbahaya, termasuk Indonesia. Soal status bahaya ini, Indonesia yang ada Aceh didalamnya, juga menyatakan Malaysia sebagai daerah bahaya, setiap yang pulang dari negeri jiran ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan, yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi Pasien Dalam Pengawasan, kalau sekarang lebih gawat lagi, penerbangan dihentikan.

Baik Indonesia maupun Malaysia bisa saja saling sebut bahaya, tapi harus diingat, ada sekelompok manusia yang hari ini sedang mengharap bantuan, merekalah pekerja Indonesia, baik yang legal apalagi yang tidak memiliki dokumen lengkap. Jumlah mereka ratusan, pabrik, tempat mereka berkerja tutup. Hendak pulang kampung takut ditolak atau ditangkap.

Disinilah hukum tertinggi kita pakai, keselamatan manusia adalah yang utama. Pemerintah harus segera mengambil langkah, apakah dipulangkan, atau tetap disana dengan memberikan bantuan. Kita sudah pernah melakukannya, disaat Gempa dan Tsunami 2004 silam.

Disaat genting, lupakan perbedaan, hentikan sejenak kepentingan ekonomi-politik. Selepas ini kalau mau dilanjutkan lagi, silahkan. Jangan jawab tidak tahu, dan membiarkan para pekerja itu lapar, kalau sudah begitu, seperti orang Aceh bilang seperti “Geulanteu Tak” atau “Petir Bacok”. Huss, Saya Tidak Tahu, Petir Bacok!

Komentar

Loading...