Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Kisah Kepulangan Mahasiswa Aceh Dari Shanghai

“Satu Pesawat Heboh Karena Ada Penumpang Dari Wuhan”

“Satu Pesawat Heboh Karena Ada Penumpang Dari Wuhan”
Nia Alfi Khaira, salah satu mahasiswa asal Aceh yang menempuh pendidikan Master of Psychology, di central China Normal iniversity, Wuhan Provinsi Hubei. Foto: Istimewa

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com – Alhamdulillah, sungguh indah skenario Allah. 6 Januari 2020 : hari terakhir final semester I sekaligus perpisahan dengan classmate. 8-11 Januari 2020 : winter vacation (liburan musim dingin), biasanya satu bulanan. Nah, banyak yang planing di liburan musim dingin, sebagian mahasiswa ada yang kembali ke negara asalnya, sebagian lainnya ingin keliling China atau jalan-jalan ke negara lainnya.

Rangkaian kalimat itu tertulis di WhasApp Stories Nia Alfi Khaira, salah satu mahasiswa asal Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (26/1/2020) pukul 03.56 WIB. Nia, demikian ia kerap disapa, saat ini menempuh pendidikan Master of Psychology, di central China Normal iniversity, Wuhan Provinsi Hubei.

Nia terbilang beruntung. Di saat 12 mahasiswa asal Aceh lainnya masih tertahan di Wuhan, Nia justru telah kembali ke Aceh dalam kondisi sehat. Namun demikian, kepulangannya ke Aceh tidaklah mudah. Ia harus melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan di bandara, mulai dari deteksi suhu tubuh, hingga pendeteksi mata menggunakan sinar X. Saat itu, Nia hanya bisa mengucap istigfar dan berharap pertolongan Allah SWT.

Kepada ANTEROACEH.com, Minggu (26/1/2020) malam, Nia membagikan kisah liburan musim dinginnya yang tidak seindah rencana, hingga kepulangannya ke Indonesia melalui Bandara Internasional Shanghai.

“Karena aku kira ini winter pertama aku di China, jadi rencananya tidak pulang (ke Aceh), sambil menunggu salju dan ingin jalan keliling China. 16 Januari 2020, kami berencana liburan ke tiga kota di China, Hangzhou, Suzhou dan Shanghai. Aku, Mba Inu dan Titin berangkat Hangzhou dini hari. Saat itu virus corona baru menyerang lima warga Wuhan. Kala itu kampus dan laoshi tidak melarang siapapun untuk pergi keluar Wuhan atau jalan kemana pun. Saat itu semua tiket dan hotel sudah terbooking untuk liburan selama 10 hari,” ujar Nia.

Tepat 19 Januari 2020, kata Nia, tiket pulang mereka dari Shanghai tercancel tiba-tiba oleh aplikasi Ctrip. Uangnya pun langsung masuk ke aliplay (rekening China) tanpa adanya pemberitahuan apapun atau tercancel otomatis.

“Nah, kami langsung panik karena Imlek di depan mata, pasti kalau beli tiket tiba-tiba akan mahal, dan akhirnya minta bantuan teman lainnya untuk nginap. Namun setelah kami pikirkan kembali, dari pada merepotkan orang, maka lanjut booking hotel dan beli tiket baru saja. Karena Imlek, harga tiket naik 2x lipat. 20 Januari 2020, tibalah kami di Shanghai dengan harapan luar biasa, kota impian kami di China,” ucapnya.

Setiba di Shanghai, lanjut Nia, mereka dengan semangat menggebu-gebu ingin menjelajahi berbagai lokasi wisata di kota tersebut. Tapi apa daya, tepat 21 Januari 2020 coronavirus dari Wuhan menguncangkan dunia. Saat itu diduga 200-an orang terkena virus dan 7 di antarana meninggal dunia (di atas 45 tahun).

Di hari yang sama (21/1), mereka membooking kembali tiket dari Shanghai menuju Wuhan dengan harga yang terbilang cukup mahal. “Walau harga Mashaallah, kami senang dan lega karena berhasil terbooking. Sehari kemudian (22/1), aku dapat email dari kampus, bahwa setiap International student wajib menjaga kesehatan dan sterilkan diri dengan mengecek suhu tubuh setiap hari, serta pakai masker,” ungkap Nia.

Terhitung 22 Januari – 24 Januari, Nia dan dua temannya terus menjaga kesehatan dan hanya berdiam diri di hotel. Meski demikian, mereka tetap enjoy dengan menikmati suasana sekitar hotel dan kuliner di Shanghai. Saat itu Shanghai masih aman, tidak ada yang pakai masker dan mereka pun still enjoy.

Ketika mendengar kasus Wuhan, mereka konsultasi ke para senior kampus dan laoshi terkait kembali ke Wuhan atau tidak. Kala itu, laoshi dan senior di kampus menginstruksikan agar mereka kembali ke Indonesia saja, karena Wuhan sedang kurang sehat. Senior kampus juga mengatakan, mahasiswa Indonesia di Wuhan dalam keadaan aman, namun karena mereka telah berada di Shanghai baiknya tidak kembali ke Wuhan.

“Oke fix, kami punya paling baru kembali ke Indonesia. Tepat 23 Januari, semua akses transportasi masuk dan keluar Wuhan ditutup. Kami pun sudah oke, satu-satunya jalan pulang ke Indonesia meski agak sedikit khawator karena hanya ada passport dan baju di badan. Ya, kami kira ini hanya liburan, jadi tidak perlu membawa berkas penting lainnya karena kami pun berniat kembali ke kampus setelah liburan,” celoteh Nia.

Mereka pun langsung membooking tiket dengan harga luar biasa, because of Imlek. Tak lama berselang mereka mendapat kabar semua anak Wuhan dilarang keluar dari Wuhan, siapapun itu tanpa terkecuali. Bagi yang masih berada di Wuhan, diwajibkan stay dulu untuk menjaga agar virus corona tidak menyebar luas.

“Karena kami dari Bandara Sanghai, jadi akses ke negara mana pun masi bisa. Lagi pula, kami pergi dari Wuhan bukan karena kabur akibat takut virus, namun karena kami mau menikmati liburan dan melihat ciptaan Allah yang luar biasa,” tuturnya.

Saat flight Shanghai menuju Singapore, Nia satu-satunya penumpang dalam pesawat yang diperiksa suhu tubuh, tensi darah, denyut nadi dan pendeteksi mata sinar X. “Satu pesawat sempat heboh karena tersiar kabar ada penumpang dari Wuhan, bahkan pramugari pun bolak-balik konsultasi ke pilot mengenai hal ini. Dalam hati, kuserahkan

semua padamu, ya Allah. Sholawat dan istigfar terus, semuanya ketakutan melihatku, bahkan aku sempat diminta menuliskan biodata dan statement menggunakan bahasa China. Check kesehatan pun dilakukan berulang kali karena mereka tidak percaya dengan hasil yang ada,” kisah Nia sembari mengingat hal yang terjadi sepanjang perjalanannya.

Setelah landing di Singapore, kata Nia, pilot juga ikutan memeriksanya. Karena panik, semua obat-obatan dan ramuan China pramugari diberikan untuk Nia. Saat itu ia sempat kebingungan, namun ia memilih diam, sambil bershalawat di hati dengan pasrah.

Setiba di Bandara Singapore, Nia kembali menjalani pemeriksaan kesehatan lainnya oleh dokter. “Alhamdulillah, hasil pemeriksaan normal dan sehat. Aku pun dipersilahkan melanjutkan perjalanan dan penerbangan selanjutnya, hingga akhirnya tiba di Indonesia dengan selamat. Alhamdulillah, semua mahasiswa Indonesia di Wuhan, khususnya mahasiswa dari Aceh, semuanya sehat dan aman. Semuanya dipantau KBRI dan PPIT juga terus berusaha menjalin komunikasi mengenai bantuan konsumsi, kesehatan dan lainnya. Beberapa teman dari negara lain juga mengabarkan kondisinya aman di Wuhan,” terang Nia.

Diakui Nia, dirinya merasakan takut dan trauma saat menjalani pemeriksaan di pesawat dan bandara, ia takut apabila terkena virus tersebut.

“Sempat berpikir harus gimana, ya Allah. Sempat meneteskan air mata juga, dalam hati tidak terima jika terkena virus itu. Alhamdulillah, saat hasilnya aman dan bisa melanjutkan perjalanan langsung bersyukur atas semua skenario Allah. Apalagi banyak teman yang mau balik, tapi tidak bisa karena harus stay di Wuhan dulu demi kesehatan warga negara lainnya, dan juga demi keselamatan mereka. And so far, semua anak Indonesia saat ini sehat dan aman. Buat teman-teman yang ingin pulang ke negara

masing masing, sabar dan tetap jaga kesehatan. Semoga Allah memudahkan urusannya dan selalu dalam lindungan Allah. Special untuk anak Indonesia dan Aceh khususnya, stay strong,” pungkas Nia menyemangati.

Komentar

Loading...