RSU Arun Tawarkan Rawatan Khusus Hingga Sembuh untuk Putri Aura 

RSU Arun Tawarkan Rawatan Khusus Hingga Sembuh untuk Putri Aura 
dr Haryadi, manajemen Rumah Sakit Umum Arun (Foto: ist)

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Rumah Sakit Umum Arun, Lhokseumawe siap menampung dan  memberikan rawatan khusus hingga sembuh kepada  Putri Aura (11) pasien gizi buruk dari kelurga miskin asal Gampong Meunasah Trieng Matang Ubi, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.

Hal itu diungkap  dr Haryadi manajemen Rumah Sakit Umum Arun, Minggu (4/4/2021). Tawaran tersebut sengaja dilakukan mengingat pihaknya berpengalaman merawat pasien gizi buruk persis sama seperti yang dialami Putri Aura.

“Kami siap menerima Putri Aura dan akan kita berikan layanan khusus dan intensif, termasuk menberikan asupan gizi secara terukur sampai pasien benar-benar sehat,” jelas Haryadi.

Pihaknya telah menyediakan ruangan khusus untuk Putri, juga disiapkan rumah inap bagi keluarga yang menemani pasien , kemudian akan diberikan juga akomodasi bagi keluarga pasien, hal itu mengingat keluarga pasien golongan keluarga tak mampu.

“Tawaran ini kami sampaikan karena kami pernah merawat pasien serupa hingga sembuh dan sehat kembali. pengalaman ini akan kami berikan kepada Putri, InsyaAllah kami akan berikan rawatan terbaik, apalagi pasien dari kelurga tak mampu,” jelas Haryadi.

Selain itu, tawaran untuk Putri Aura tersebut juga sudah dibahas dan disepakati  dengan unsur dokter di rumah sakit milik Pemko Lhokseumawe tersebut.

Putri Aura adalah penderita gizi buruk dan saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin Banda Aceh. Kondisinya sangat memperihatinkan, tubuh hanya tersisa kulit membungkus tulang. Sudah setahun lebih tak bisa makan dan minum normal, sering muntah. 

Kemudian Putri tidak lagi bisa berbicara, badannya terlalu lemas dan tidak bisa berjalan , bahkan untuk duduk saja sudah sangat susah, karena nyeri dibagian tulang punggung. 

Pengakuan ayahnya bernama Bukhari, Putri mulai sakit sejak pertengahan tahun 2020, diawali dengan demam tinggi seperti gejala tifus, sempat sembuh dan kambuh, dan itu terjadi berkali-kali hingga akhirnya anak sulungnya itu tidak bisa lagi bergerak dan sangat kusus seperti saat ini.

Bukhari mengaku tidak bisa membawa anaknya berobat secara maksimal karena terkendala biaya. Bahkan ia harus berutang ke saudara dan sahabat hanya untuk sekedar bawa periksa Putri ke rumah sakit di Lhokseumawe.

“Saya hanya buruh tani dengan pendapatan sangat kecil, karena tak ada biaya,  jadi anak saya itu hanya berobat biasa saja, saya juga tidak berani meminta bantuan dari apatur desa, karena takut diejek warga,” jelas Bukhari.

Komentar

Loading...