Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Rangkulan Jokowi

Rangkulan Jokowi
Ilustrasi Presiden Jokowi karya Hari Prast (Istimewa/ Ilustrasi Hari Prast)

Oleh: Alja Yusnadi 

Sebulan terakhir, kondisi politik bikin jengah mengikutinya. Mulai dari penembakan laskar ormas, hingga kasus korupsi yang menyeret dua Menteri. Saking jengahnya, membaca berita saja saya malas.

Semangat itu kembali hadir, di saat Presiden Joko Widodo memperkenalkan enam orang calon menterinya.

Keenam itu adalah: Tri Rismaharini (Menteri Sosial), Sandiaga Salahuddin Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan), Yaqut Cholil Quomas (Menteri Agama), Wahyu Sakti Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan), dan M. Luthfi (Menteri Perdagangan).

Dari nama-nama itu, yang menarik perhatian publik, termasuk saya untuk mengomentarinya tentu posisi Sandi.

Sama-sama kita lihat dan rasakan bagaimana nuansa Pilpres 2019 kemarin hampir saja mencabik-cabik tenunan kebangsaan yang sudah 75 tahun disulam. Perbedaan pandangan politik yang masih dikulit itu menyeret isu yang paling sensitif dan krusial, apalagi kalau bukan isu agama.

Dan, salah satu yang bertarung dan dipertarungkan pada saat itu adalah Sandi yang sekarang ditunjuk oleh Presiden untuk membantunya. 

Sandiaga merupakan calon wakil presiden yang berpasangan dengan Prabowo Subianto yang sudah lebih dulu ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden.

Sebenarnya, baik Prabowo maupun Sandiaga tidak memiliki rekam jejak yang dekat dengan politik pecah-belah. Hanya pada saat Pilpres kemarin, seolah-olah keduanya mewakili kelompok ektrem kanan.

Narasi yang dibangun pada saat itu adalah pertentangan. Kelompok Islam politik habis-habisan mendukung Prabowo-Sandi, bahkan Neno Warisman yang pujangga itu membacakan puisi, jika pasangan ini tidak menang, ketakutannya tidak akan adalagi yang menyembah Tuhan.

Entah Tuhan mana yang dimaksud Neno. Karena, Pilpres telah selesai, Jokowi-Ma’ruf telah setahun lebih memimpin Indonesia, dan jumlah orang yang menyembah Tuhan tidak berkurang.

Memang, untuk menuju kemenangan berbagai cara dilakukan, termasuk “memperdagangkan” narasi yang sebenarnya sakral itu.

Sementara Jokowi-Ma’ruf dianggap sebagai musuh. Padahal, dari keempat nama itu, hanya Ma’ruf Amin yang “paling” Islam, mantan Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI), Kiyah Haji, pengasuh pondok pesantren.

Namun, dalam politik semua itu hilang, justru mengagungkan orang semacam Prabowo atau Sandi.

Efek kejut segresi politik itu hampir saja membelah hubungan sosial masyarakat, menjalar sampai ke lorong-lorong tak beraspal, ke kawasan perumahan tanpa jamban.

Saya bayangkan, jika tidak segera dilakukan rekonsiliasi nasional, betapa suramnya nasib bangsa Indonesia, mungkin akan menyerupai Suriah, Irak atau negara bekas konflik antar suku.

Sekilas, goncangan politik dalam negeri ini tidak lepas begitu saja dengan kepentingan politik global. Paling tidak, ada dua kekuatan yang memegang bola dunia sekarang: Amerika dan China. Mungkin juga suatu saat nanti Israel.

Dimana, kedua kekuatan itu tidak baik-baik saja dan tidak pula sampai mengirim peluru kendali. Mereka hanya berperang melalui negara ketiga seperti yang saya sebut tadi.

Di permukaan, konflik yang mengemuka adalah persoalan etnik, suku, atau agama. Sejatinya, bagi mereka ini adalah persoalan penguasaan sumberdaya ekonomi. Suriah, Irak, Libya itu adalah negara penghasil minyak.

Ke depan, selain minyak, yang sedang diperebutkan dunia adalah ketersediaan litium, sebagai cadangan energy masa depan. Dan, Indonesia memiliki itu.

Jadi, konflik horizontal yang terjadi di Indonesia tidak bisa bebas dari kepentingan politik global. Apalagi, peralihan orde lama ke orde baru memberikan pelajaran bagi kta, bahwa politik dalam negeri tidak lepas dari keterlibatan negara adi kuasa melalui agen-agennya.

Saya prediksi, hitam-putihnya pilpres kemarin juga bagian dari proses infiltrasi itu, ada campur tangan asing melalui tangan orang Indonesia.

Tugas terberat Pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara Amerika dan China. Tidak boleh terlalu Amerika dan tidak boleh juga terlalu China. Jika berat sebelah, maka yang sebelahnya lagi akan mencari keseimbangan.

Seperti kata Luhut Binsar Pandjaitan dalam salah satu pertemuan. Kala itu, Luhut baru saja pulang dari lawatannya ke Amerika. Gedung putih menyinggung soal hubungan Indonesia dengan China.

Luhut menjawab, Indonesia akan bekerjasama dengan siapa saja, saling menguntungkan. Saya sepakat dengan Luhut, Indonesia harus bekerjasama tidak dengan satu negara saja.

Entah ada hubungan atau tidak, setelah dilantik menjadi Presiden, Jokowi menunjuk Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Setahun kemudian, giliran Sandi yang diajak masuk.

Para pendukung pun riuh, mulai dari petinggi partai politik, seperti Irma Chaniago, sampai masyarat biasa. Apalagi, yang di saat kampanye dulu habis-habisan, sampai-sampai di pos jaga, masing-masing pendukung membuka lapak sendiri, tidak mau berbaur.

Fenomena ini harus menjadi catatan yang berarti bagi kita semua. Politik elektoral itu bukan persoalan syurga-neraka. Bukan pula soal siapa yang lebih alim atau tidak. politik elektoral adalah upaya untuk merebut suara rakyat.

Ada yang menempuh cara rasional, tidak jarang pula yang membalutnya dengan berbagai kamuplase, salah satunya ya isu yang paling sensitif itu tadi.

Oiya, tidak lama lagi sudah tahun 2024. Kita akan memilih Presiden kembali. Jangan sampai, yang terjadi pada pilpres 2019 lalu terulang dalam waktu dan kesempatan yang berbeda.

Komentar

Loading...