Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Problematika Beasiswa Abdya

Problematika Beasiswa Abdya
Rachmad Habibi

Oleh : Rachmad Habibi, Penulis adalah mahasiswa UIN ÔÇô Ar ÔÇô Raniry Banda Aceh, jurusan Bahasa dan Sastra Arab

KABAR adanya beasiswa khusus bagi mahasiswa Aceh Barat Daya (Abdya) yang menuntut ilmu di Timur Tengah beberapa waktu lalu menimbulkan problematika dan tanda tanya bagi mahasiswa asal Abdya yang menuntut ilmu di berbagai daerah termasuk saya sendiri yang sedang kuliah di UIN Ar-raniry, Banda Aceh.

Tentu idealnya bantuan dana pendidikan itu bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswa Abdya dalam meringankan biaya studinya tidak saja yang mengikuti pendidikan di tempat tertentu. Walau nanti dalam proses penyalurannya memiliki kualifikasi tertentu yang harus dipunuhi namun tidak membatasi dengan zonasi seperti yang terjadi dalam bantuan dana pendidikan yang dianggarkan Pemkab Abdya melalui APBK 2019.

Karena mengigat putr-putri Abdya yang sedang menjalani studi tersebar di seluruh wilayah di Indonesia tentunya juga membutuhkan sentuhan dari Pemerintah daerah.

Fenomena ini menggelitik penulis untuk mencoba sedikit beretorika tentang apa yang sebenarnya diinginkan Pemkab Abdya dengan beasiswa terbatas itu, hanya ÔÇÿTimur TengahÔÇÖ tersebut.

Kenapa beasiswa itu dikhususkan kepada mahasiswa yang kuliah di Timur Tengah ?. Ini visi misi Bupati Abdya yang hanya mendorong pendidikan di belahan dunia tertentu.

Jika melihat pernyataan Sekda Abdya Drs Thamrin, Beasiswa yang disalurkan hanya untuk mahasiswa yang mengikuti pendidikan Timur Tengah saja, bahkan masih menurut keterangan Sekda para mahasiswa itu mendapatkan bantuan biaya pendidikan setiap bulannya dengan jumlah bervariasi tergantung jenjang pendidikannya, Bagi S-1 sebesar Rp. 2 juta per bulan dan S-2 Rp. 2,5 juta per bulannya.

Sampai saat ini pernyataan sekda tersebut masih timbul tanda tanya besar oleh penulis pribadi, dan mungkin juga sebahagian mahasiswa Abdya yang kuliah di berbagai daerah lainnya.

Penulis menilai Pemkab Abdya masih kurang peduli terhadap aspek pendidikan, salah satu bukti sederhananya tidak adanya beasiswa pada tahun 2019 ini, kecuali mahasiswa Timur Tengah.

Pemkab dianggap berlaku tidak adil dengan pola penyaluran beasiswa yang dilakukan oleh pemrintahan Akmal Ibrahim ÔÇô Muslizar selaku Bupati dan Wakil Bupati.

Jika memang anggaran untuk para pencari ilmu itu ada maka berikanlah kepada yang berhak menerimanya dan sebaliknya jika memang tidak ada maka jangan salurkan beasiswa tesebut untuk keseluruhannya baik lokal dan Timur Tengah. Kalau prosesnya seperti diterapkan saat ini maka tidak punya prinsip pemberataan dan berkeadilan.

Padahal jika Pemkab bisa lebih jeli melihat kondisi saat ini dan menemukan data ÔÇô data akurat maka masih sangat banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan dana pendidikan tidak hanya di Timur Tengah.

Pemkab jangan hanya sibuk dan tergesa - gesa turun ke masyarakat hanya sekedar melihat tanpa menyikapi dan mencari solusi lebih lanjut dan nanti takutnya terkesan pencitraan.

Penulis tidak bisa menafikan dengan berbagai gejolak kepahitan dalam proses perkuliahan untuk meraih ilmu pengetahuan dan kesuksesan di masa depan. Namun penulis tidak ingin banyak berspekulasi apalagi berapologi kosong melompong tak tentu arahnya, akan tetapi penulis ingin adanya kejelasan kongkrit disertai solusi terhadap beasiswa Abdya.

Kemudian juga penulis menganalisa belum ada kejelasan transparansi penyaluran beasiswa oleh pemkab Abdya terhadap beberapa orang penerima dan bagaimanakah sebenarnya proses penjaringan dan seharusnya melewati berbagai tahapan bagi yang menerima beasiswa dari Timur Tengah tersebut.

Biasanya setiap orang yang akan mengikuti kontestasi atau masuk dalam perguruan tinggi dimanapun, mereka harus mengikuti jalur tes seleksi dari tahap awal hingga tahap akhir proses, sehingga mereka hanya menunggu hasil apakah lulus atau tidak. Jika mereka bekerja keras yakin dengan usaha, persiapan yang matang Insya Allah sampai dengan menerima hasil yang maksimal.

Deskripsi ini penulis ungkapkan dari proses yang penulis ikuti saat masuk perguruan tinggi dan juga mahasiswa Abdya mayoritasnya, tentunya kita semua pernah melewati proses tersebut. Namun beda halnya penyaluran beasiswa yang diterapkan oleh pemkab Abdya saat ini, tanpa transparansi proses penyeleksian, dan publikasi tersebut hanya singkat saja tanpa menyebutkan bagaimana latar belakang penerimaan beasiswa Abdya dan seperti apa tahapanya.

Bayangkan saja mereka yang kuliah di Timur Tengah itu anggaran yang disalurkan mencapai Rp 250 juta untuk tahun ini, uang ini akan mereka terima setiap bulannya.

Bagaimana kemudian pil pahit dirasakan oleh mahasiswa Abdya yang kuliah bukan di Timur Tengah yang mungkin hanya mendapatkan beasiswa setahun sekali bahkan tidak mendapatkan beasiswa.

Pemkab Abdya seharusnya memikirkan dua kali jika ingin menyalurkan beasiswa untuk mahasisiwa yang kuliah di Timur Tengah tersebut, karena mengingat bahwa hanya sebahagian mahasiswa yang dapat menikmatinya.

Informasi termukhtahir yang penulis dapat dari 10 slot beasiswa yang disiapkan hanya tiga orang yang menjadi penerima karena menurut Sekda hanya ada tiga mahasiswa yang layak menerima. Seraya mengatakan program beasiswa Timur Tengah itu program Bupati sebagai perwujudan Visi Misinya.

Penulis ingin sampaikan, Pemkab Abdya jangan pilih kasih terkait bantuan dana pendidikan tersebut karena kami hidup di tanah yang sama dan langit yang sama jangan kotak-kotakan kami, kami adalah warga Breh Sigupai, hari ini dan nanti.

Lewat tulisan yang sederhana semoga pemkab Abdya terbuka mata hati dan tidak melihat sebelah mata kepada seluruh mahasiswa yang ada di Nusantara ini.

Semoga kedepan setiap mahasiswa bisa menikmati beasiswa tersebut baik yang berprestasi maupun kurang mampu sesuai kualifikasinya.

Penulis tidak bermaksud untuk ambisius agar mendapatkan beasiswa tersebut, karna penulis sadar bahwa aspek ekonomi untuk saat ini masih mendukung. Namun dari lubuk hati yang paling dalam penulis berharap agar pemkab Abdya segera mencari solusi dan inisiatif untuk penyaluran beasiswa bagi mahasisiwa yang sampai saat ini belum ada titik temunya.

Penulis yakin bahwa mahasiswa Abdya yang kuliah di berbagai wilayah lainnya juga mempunyai kapasitas dan potensi yang bagus saat berproses perkuliahan baik di dalam kampus maupun diluar kampus.

Sudah sepantasnya kontribusi pemkab terhadap mahasiswa secara universal untuk aset daerah Abdya dengan memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang di miliki oleh mahasiswa sebagai estafet yang berperadaban.

iklan grapela dan tangga seribu
Iklan Batu Berlayar dan masjid tuo

Komentar

Loading...