Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Politik Kuah Beulangong

Politik <i>Kuah Beulangong</i>
Foto: Kanalinspirasi.com

Oleh: Alja Yusnadi, S.TP.,M.Si

SATU, diantara keunikan Aceh adalah kulinernya. Aceh memiliki beragam kuliner, diantara yang paling terkenal adalah kuah beulangong. Daging sapi atau kambing dimasak pakai bumbu khas, didalam kuali besar (beulangong), sehingga masakan ini populer dengan sebutan kuah beulangong. Rasanya juga menggugah selera, kalau datang tamu dari luar, kebanyakan diarahkan untuk menyantap kuah beulangong.

Hal selanjutnya adalah Kenduri. Di Aceh begitu lekat dengan kenduri, mulai dari dalam kandungan, hinga meninggal, orang Aceh menyambutnya dengan kenduri. Sebut saja misalnya kenduri meukawen (menikah), mulai dari pakat tuha/ninik mamak, pakat rame, hingga intat linto, preh dara baro. Selanjutnya kanuri jok bu bidan, peutron aneuk/peucicap hingga meusunat

Ketika orang meninggal dunia, ahli bait juga menggelar samadiah (tahlilan) hingga tujuh malam berturut-turut (ada juga daerah yang hanya sampai 3 malam). Kesemuanya itu tidak jauh-jauh dari kenduri. Bahkan, dalam penamaan penanggalan, hampir tiap bulan diwarnai dengan kenduri.

Begitu juga dalam mendamaikan para pihak yang berselisih, biasanya sanksi adat juga dalam bentuk makanan, seperti bu leukat (ketan), ie kupi (kopi), kameng (kambing), dan seterusnya.

Dalam menyambut hari besar ummat Islam, masyarakat Aceh merayakannya dengan kenduri, seperti maulid, menyambut puasa, lebaran (mak meugang).

Praktik kuah beulangong di acara kenduri menjadi kebiasaan di Aceh. Rasanya, kurang lengkap jika kenduri tidak menyediakan kuah beulangong. Di beberapa daerah, kuah beulangong yang di olah oleh kaum laki-laki menjadi menu utama di hari pesta.

Selain soal “tamah darah” ada beberapa hal lain yang dapat kita ambil hikmah dari Kuah Beulangong di rumah kenduri. Mulai dari proses memotong, mengiris, hingga memasak, dilakukan masyarakat (terutama anak muda) secara bergotongroyong.

Dibawah komando ketua pemuda, para pemuda mengelompokkan diri menjadi kelompok kecil dalam menyiapkan kuah beulangong, semua bekerja sesuai bidang. Biasanya, hanya pada bagian dapur yang tidak digotongroyongkan, dipegang oleh orang ahli. Hal ini untuk menjaga cita rasa kuah beulangong, karena disitulah takar-menakar, racik-meracik bumbu terjadi.

Walau kelihatan sepele, berikutnya dari proses kuah beulangong ini yang tidak boleh di pegang oleh sembarang orang adalah yang “mat aweuk”, harus yang sudah terlatih. Tugas utama dari yang “mat aweuk” adalah memastikan setiap tamu bagian belakang mendapat kuah beulangong

Biasanya yang menunggu kuah beulangong ini adalah orang sekampung dan anak muda. Bisa dibayangkan, jika yang “mat aweuk” tidak bisa memprediksikan jumlah piring dan jumlah persediaan kuah beulangong?.

Jokowi dan Kuah Beulangong

Sejak menjadi Presiden 2014 lalu, Jokowi atau Joko Widodo sudah beberapa kali berkunjung ke Aceh, dan menurut catatan, Jokowi pula Presiden yang paling banyak berkunjung ke Aceh, dan Jokowi juga yang suaranya paling sedikit di Aceh pada pemilihan Presiden 2019 lalu.

Sebenarnya, antara Jokowi dan Aceh memiliki nilai sejarah, karena, dimasa mudanya, Jokowi pernah bekerja di Aceh (Aceh Tengah). Dan di periode pertama mejabat, Jokowi juga telah membangun infrastruktur di Aceh. Modalitas ini tidak cukup untuk memutus mata rantai politik identitas yang hampir saja membelah bangsa ini, akhirnya Jokowi diganjar 14 persen suara di Aceh.

Angka 14 persen ini jualah yang membuat Plt. Gubernuh Aceh, Nova Iriansyah meminta maaf pada Jokowi pada saat menghadiri kenduri kebangsaan, di Bireuen beberapa hari yang lalu.

Dengan penuh percaya diri, dan dibalut dengan baju kemeja bewarna merah, Nova memulai 'jurus lobi' dengan mencoba untuk menyentuh hasil Pilpres tahun lalu, baru kemudian meminta Presiden untuk memperpanjang dana otsus Aceh, dan meminta beberapa program pembangunan.

Jokowi merespon dengan mempertanyakan, apakah pengelolaah APBA dan APBK selama ini sudah tepat sasaran?. Presiden menyebutkan anggaran 17 triliun (APBA) ditambah lagi APBK merupakan anggaran yang besar.

Pertanyaan tersebut sangat berdasar. Sampai hari ini Aceh masih menyandang status sebagai provinsi termiskin di Sumatera, dan nomor enam se Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah masalahnya semata dianggaran yang kurang? Atau pengelolaannya yang tidak tepat?

Sebagaimana filosofi kuah beulangong tadi, setelah semua elemen berjibaku, pada akhirnya distribusinya ada pada yang “mat aweuk”. Bersama dengan DPRA, Gubernur Aceh berperan sebagai “tukang mat aweuk”. Nova lah yang mempunyai otoritas untuk membangun Aceh saat ini, mengeluarkan Aceh sebagai provinsi termiskin se Sumatera.

Ganjalan sudah tentu ada. Baik kawan maupun lawan sudah barang tentu mendekati “tukang mat aweuk”, membisikkan dengan kode tertentu. Akan tetapi, sebagai pemegang otoritas, tentu distribusi normal harus dilakukan, Gubernur memastikan program APBA menyentuh kebutuhan dasar masyarakat Aceh. Atau, masih juga harus kita serahkan “aweuk” itu kepada Jakarta?

Alja Yusnadi
iklan grapela dan tangga seribu
Iklan Batu Berlayar dan masjid tuo

Komentar

Loading...