Polisi Sita Satwa Dilindungi Bernilai Miliaran Rupiah dari Rumah Bandar Sabu di Banda Aceh

Polisi Sita Satwa Dilindungi Bernilai Miliaran Rupiah dari Rumah Bandar Sabu di Banda Aceh

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com - Polresta Banda Aceh bersama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh berhasil mengungkap dan menyita kepemilikan tujuh satwa liar yang dilindungi dalam kondisi hidup dan diawetkan di rumah TJ (54) berlokasi di Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Rabu (13/2/2021) sore.

Sebelumnya, TJ telah ditangkap oleh BNN Pusat dan Bareskrim Polri karena menjadi bandar sabu.

Adapun ketujuh satwa liar tersebut adalah dua ekor burung cendrawasih yang sudah diawetkan, dua ekor burung kakak tua jambul kuning (hidup), seekor burung merak (hidup), seekor macan kumbang diawetkan dan seekor macan tutul yang juga sudah diawetkan.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, didampingi Kasatreskrim AKP M Ryan Citra Yudha mengatakan temuan tersebut didapat dari informasi warga.

"Kami bersama BKSDA ke lokasi ternyata benar adanya satwa yang dilindungi sudah diawetkan dijadikan koleksi seperti jaguar (macam kumbang). Sementara itu, kami juga melakukan penyitaan terhadap burung cenderawasih, burung kakak tua, dan burung merak,” ucap Kombes Pol Joko Kridiyanto dalam konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Kamis (14/1/2021) pagi.

Dari hasil pemeriksaan, kepemilikan satwa liar itu tidak mengantongi  izin dari instansi terkait. Pelaku mengoleksi satwa liar itu sebagai hiasan dan sekedar hobi. 

Berdasarkan keterangan istri  TJ, TJ sudah memiliki satwa tersebut 10 tahun silam.

Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli (PEH) Madya BKSDA Aceh, drh Taing Lubis mengatakan akibat ulah TJ, kerugian negara diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

"Dari kasus ini negara mengalami kerugian sebesar tiga sampai lima miliar rupiah," ucap drh Taing Lubis.

Kemudian sebutnya, umur kedua binatang buas seperti macan tutul mencapai 12 sampai 13 tahun dan macan kumbang diperkirakan tujuh tahun.

Diakhir konferensi pers, Kapolresta mengatakan pelaku terancam dikenai pasal Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem , Pasal 21 ayat (2) huruf (b) dan (d) Jo Pasal 40 ayat (2) dengan ancaman pidana penjara paling selama lima tahun dan denda paling banyak Rp. 100 juta.

Sebelumnya TJ ditangkap pada akhir Desember 2020 lalu di Kampung Jawa, Banda Aceh karena menjadi bandar sabu dengan barang bukti 200 kg sabu. Saat ini TJ ditahan di Jakarta.

Komentar

Loading...