Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Perempuan Kotak

Perempuan Kotak
Foto: asuntosdemujeres.com

Oleh : Alja Yusnadi 

JIKA ada pertanyaan dari Tuan Presiden atau Mr. Sekjend PBB, siapa pihak yang paling dirugikan ketika konflik? Saya dengan lantang akan menjawab; PEREMPUAN!. Perempuan Kecil, perempuan besar, perempuan tua, dan perempuan sedang.

Kali ini kita bicara perempuan sedang. Kira-kira seumur Fathin, Marshanda, Cinta Laura. Saya menyebut nama-nama publik figure untuk memudahkan kita mengingat, sebaya apa mereka. Range nya 30-40 tahunanlah. Atau yang pada tahun 1998-2005 masih sekolah Menengah dan sekolah tinggi.  Tidak ada data kongkrit mengenai jumlah perempuan sedang menjadi korban, korban tidak langsung dari perang berkepanjangan.

Perempuan sedang itu ada yang dibuai, ditelantarkan, bahkan dibinasakan. Secara blak-balakan, cover salah satu majalah di Aceh saat itu menampilkan seorang perempuan sedang dikecup keningnya oleh pasukan non-organik yang segera meninggalkan Aceh.

Entah berapa orang perempuan sedang yang telah di “rusak”. Modusnya bermacam ragam. Kebanyakan dibuai dan dininabobokkan melalui cinta, cinta yang menjelma menjadi virus bagi mereka kedepannya.

Dijanjikan pernikahan dengan syarat harus menyerahkan keperawanan, jika yang sudah tidak perawan tentunya mau diajak berhubungan intim. Ujung-ujungnya, mereka dicampakkan.

Pernah, suatu ketika seorang kawan laki-laki main-main ke pos pengamanan pasukan non-organik, betapa terkejutnya, dia menyaksikan perempuan sedang yang juga kawan satu lokal sedang bugil telanjang dalam ruangan gelap seperti kotak. Setelah puas-puasan, beberapa lembar uang kertas diselipkan dikantong celana. Besok atau lusa sekolah seperti biasa. 

Celakanya, setelah masa tugas selesai, sang serdadu kembali ke daerah asal, tinggal lah perempuan penghuni kotak menangis, menyesali apa yang telah terjadi. beruntung bagi yang tak sempat kecolongan, mereka bisa menyembunyikan masa lalu.

Kelak, dia akan bercocok tanam dengan orang lokal. Entah bagaimana perasaan sang suami, jika nanti mengetahui.  Namun naas, bagi mereka yang kebablasan. Harus menanggung malu, tak ada pertanggungjawaban. 

Di lain cerita, seorang perempuan sedang pengedar barang terlarang, menjadi peramu saji, pemuas nafsu,  meregang nyawa diujung moncong senjata, gegara tak mau belanja.

Ada lagi anak sekolah, entah apa modusnya, keluar-masuk kotak. Memberikan pelayanan. Ada juga yang dibinasakan, pasal pertanggungjawaban. 

Ini hanya 2, 3 cerita di depan mata. Masih banyak cerita-cerita lain yang lebih pilu. Mari kita doakan semoga perempuan terselamatkan.

Jangan pernah terjebak dengan jebakan Bad Man. Cukup sudah perempuan muda menjadi penghuni kotak.

Di belahan dunia manapun, konflik bersenjata menempatkan perempuan sebagai kaum rentan bersama anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas.

Sebut saja misalnya pada perang Vietnam, tragedy berdarah Nanking, perempuan China diperkosa oleh tentara Jepang. Kekerasan seksual terhadap perempuan di waktu perang diperparah mendapat sokongan institusi negara.

Menurut Margaret A. Schuler, salah satu alasan para serdadu melakukan kekerasan seksual ada kaitannya dengan strategi perang.

Jika itu bentuk perkosaan, artinya dilakukan secara paksa, mereka sedang melakukan teror, dan mendorong penduduk sipil meninggalkan rumah, merendahkan musuh, dan untuk meningkatkan mentalitas.

Perempuan kotak tidak seberuntung Kartini atau Cut Nyak Dhien. Kartini, seorang perempuan Jawa yang memperjuangkan emansipasi perempuan, dia menerobos sekat yang sudah lama dibangun, yang memisahkan laki-laki dan perempuan dengan sebuah jurang yang menganga. Untuk mengenangnya, Indonesia menetapkan hari lahirnya 21 April sebagai hari Kartini dan menjadi hari besar Nasional.

Kemudian Cut Nyak Dhien, seorang perempuan Aceh yang perjuangannya bukan lagi menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Umar yang sudah meninggal.

Memimpin pasukan dan ikut bergerylia melawan Belanda, sebelum akhirnya diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Pasangan suami istri ini kemudian hari ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.

Kedua tokoh perempuan tersebut pasti tidak menginginkan penerusnya menjadi perempuan kotak.

Seharusnya perjuangan yang sudah diletakkan pondasinya harus dilanjutkan dengan menancapkan tiang pancang, dinding, dan atap, sehingga rumah itu kelihatan bentuknya.

Namun itu adalah ekses dari perang. Bisa jadi sebagian kasus sengaja dilakukan untuk menjatuhkan mental penduduk. kalaupun di kasus lain dilakukan karena kegatalan.

Perang Aceh menyisakan banyak masalah. Yang terbesar masalah sosial. Satu diantaranya perempuan kotak, perempuan yang semasa konflik keluar masuk pos serdadu, baik karena asmara atau terpaksa.

Celakanya lagi, mereka tidak menjadi objek rehabilitasi MoU Helsinki dan UUPA, tidak dimasukkan katagori korban konflik. Sesungguhnya mereka lah perempuan kotak, korban konflik, korban perasan, korban segalanya. Selamat hari Kartini!, 21 April  2020!

Komentar

Loading...