Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Pengakuan Keuchik Matang Ulim setelah Ditetapkan Tersangka Korupsi Dana Desa

Pengakuan Keuchik Matang Ulim setelah Ditetapkan Tersangka Korupsi Dana Desa
ILM (41) pejabat sementara Geuchik Gampong Matang Ulim, Kecamatan Samudera, Aceh Utara yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana desa tahun 2017 sebesar Rp 325 juta lebih.

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - ILM (41) pejabat sementara Geuchik Gampong Matang Ulim, Kecamatan Samudera, Aceh Utara ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana desa tahun 2017 sebesar Rp 325 juta lebih.

Dana desa yang dikorupsi oleh tersangka yang juga berstatus PNS di Kantor Kesbangpol Pemko Lhokseumawe tersebut digunakan untuk kebutuhan hidup dan sebagian untuk membayar utang.

“Dananya sudah saya habiskan semua, ada sebagian saya bayar utang. Saya kembali ke kampung karena uang sudah habis,” terang ILM kepada wartawan saat digelar konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Minggu (23/2/2020) pagi.

Ia menjelaskan, ia kabur ke Malaysia dan menghabiskan sebagian besar dana tersebut di negeri jiran. Ia berangkat dari Medan dan  tinggal di Penang sebagai pendatang gelap. Disana berkumpul dengan teman-temannya.

Sebelumnya dikabarkan, Penyidik Tipikor Polres Lhokseumawe menangkap dan menahan ILM (41) oknum pejabat sementara Geuchik Gampong Matang Ulim, Kecamatan Samudera, Aceh Utara terkait dugaan korupsi dana desa tahun 2017.

ILM ditangkap pada 7 Februari lalu, sekembali dari Penang Malaysia. Sebelumnya oknum PNS di Kesbangpol Pemko Lhokseumawe itu kabur dengan hasil korupsi sebesar Rp 325 juta lebih ke negeri jiran itu via Medan disaat perkara tersebut mulai ditangani pihak kepolisian pada awal 2018 lalu.

“Ia kabur ke Malaysia dengan uang hasil korupsi itu saat kasus ini sedang diselediki, disana dana itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di Malaysia. ILM kembali ke kampung karena uang sudah habis dan akhirnya kita tangkap,” jelas Wakapolres Lhokseumawe Kompol Ahzan didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang, Minggu (23/2/2020).

Dijelaskan,tersangka menarik dana desa dari Bank Aceh sebanyak 4 kali sejak September hingga Desember 2017, dengan memalsukan tanda tangan bendahara desa, dengan jumlah total sebesar Rp 300 juta.

Kemudian penarikan sebesar Rp 110 juta lebih, ditarik dalam 3 tahap mengikutkan bendahara. Pada saat itu, tersangka sempat mengembalikan dana yang diambil tersebut sebesar Rp 80 juta  lebih ke sekretaris gampong.

“Sisanya dipakai untuk keperluan pribadi dan sebagian besar dihabiskan saat berada di Malaysia,” terang Kompol Ahzan.

ILM disangkakan dengan pasal 2 ayat (1), pasal 3 UU RI nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan  tindak pidana korupsi, dengan ancaman penjara  seumur hidup, paling singkat 4 tahun  paling lama 20 tahun penjara, denda Rp 200 juta , paling banyak Rp 1 miliar.

iklan grapela dan tangga seribu
Iklan Batu Berlayar dan masjid tuo

Komentar

Loading...