Pembelian Pesawat Perintis Baik Untuk Iklim Bisnis Aceh

Pembelian Pesawat Perintis Baik Untuk Iklim Bisnis Aceh
Presiden Aceh Business Club, Sabri Aly

JAKARTA, ANTEROACEH.com – Aceh Business Club (ABC) mendukung upaya Pemerintah Aceh mengadakan pesawat terbang perintis, untuk membuka isolasi daerah dan memberikan koneksi cepat antar daerah.

“Pesawat yang dibeli adalah pesawat perintis, bukan untuk kepentingan gubernur atau elit daerah semata, tetapi untuk kepentingan masyarakat secara luas termasuk pelaku bisnis. Semoga ini baik untuk iklim bisnis dan membuka isolasi,” kata Presiden Aceh Business Club, Sabri Aly, Sabtu (14/12/2019).

Apalagi pesawat yang dibeli adalah N219 produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero), selain memberi keuntungan kepada Aceh dalam aspek membuka isolasi daerah ini juga menjadi sarana kampanye mencintai produksi bangsa sendiri.

“Tetapi, bagi Aceh Business Club, ini penting untuk memudahkan pelaku bisnis terhubung dari satu daerah ke daerah yang lain,” jelasnya.

Namun ia berharap pembelian pesawat harus diikuti dengan pemberian kemudahan bagi bisnis dan investasi untuk bekerja di Aceh.

Pemerintahan Kabinet Indonesia Maju telah melakukan beberapa terobosan, antara lain mereduksi panjangnya mata rantai perizinan dengan membuka sistem Online Single Submission (OSS). Perizinan terintegrasi secara elektronik dengan menjadikan BPKM sebagai Lembaga OSS.

“Ini layak diikuti oleh Pemerintah Aceh, dengan cara mendukung dan tidak menciptakan sistem dan cara sendiri yang mempersulit.”

Ia mengatakan Aceh harus bersaing dengan daerah lain setelah membeli pesawat perintis Pemerintah Aceh diharapkan melanjutkan dengan pernyataan pemerintah, bahwa Aceh akan mempermudah investasi dan bisnis dengan zero pungli.

Plt Gubernur Nova Iriansyah diharapkan harus segera membuat pernyataan komitmen yang diikuti oleh aparatur daerah yang menjamin investor yang bekerja di Aceh tidak ada pungli.

Jika pun ada kutipan untuk daerah, harus kutipan resmi berdasarkan qanun atau peraturan gubernur. “Kami banyak menerima laporan, investor gagal masuk ke Aceh karena banyak oknum yang minta saham,” ujar Sabri.

“Sebenarnya banyak yang mau invest di Aceh. Tetapi mereka saat ini sedang wait and see, apakah Aceh sudah membuka diri untuk investasi? Apakah ada jaminan dari Pemerintah Aceh bahwa mereka gak diganggu?  Apakah regulasi di daerah sudah pro pada bisnis?”, kata Sabri dengan nada bertanya.

Sabri menyarankan Pemerintah Aceh harus segera duduk, mengajak seluruh stakeholder, dunia usaha, LSM, ulama dan elemen penting lainnya untuk membahas agar Aceh bisa keluar dari beberapa masalah mendasar,  terutama lesunya bisnis dan rendahnya minat investor untuk investasi.

“Aceh Business Club siap diajak bicara, dan kita akan mengambil peran jika kita dilibatkan,” pungkasnya.

Komentar

Loading...