Pasien, Jujurlah!

Pasien, Jujurlah!
Foto: Facebook @Rumah Sakit Multazam Medika

BEBERAPA imbauan terpampang di koridor Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Bunyinya, “Tolong anda jawab jujur mengenai riwayat penyakit, riwayat perjalanan anda”.

Kata-kata yang di pajang dalam bentuk banner itu mengandung unsur ajakan, tenaga medis mengimbau pasien agar jujur dengan riwayat penyakit dan perjalanannya.

Jujur yang pertama adalah, pasien diminta menyampaikan riwayat penyakit apa adanya. Kalau batuk, katakan batuk, ada keluhan sesak, katakan sesak, itu misalnya.

Jujur yang kedua berkaitan dengan perjalanan, pasien harus memberitahu, kemana saja melakukan perjalanan, apakah baru pulang dari Medan, Jakarta atau di rumah saja.

Ini penting, agar para medis tahu, apakah pasien berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) atau tidak.

Kali ini, kejujuran dapat menyelamatkan nyawa tenaga medis, sebaliknya, ketidak jujuran pasien bisa mencelakakan tenaga medis. 

Lihat saja apa yang terjadi di RSUD dr. Kariadi, Semarang, ulah seorang pasien yang tidak mengatakan riwayat perjalanannya secara jujur, mengakibatkan 46 orang dokter dan tenaga medis dinyatakan positif Covid-19.

Sampai-sampai, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kesal. Di Surabaya, seorang perawat meninggal gegara tertular kasus yang sama.

Kejadian seperti ini juga pernah terjadi di RSUD dr. Zainoel Abidin, seorang pasien yang baru pulang dari luar negeri ditangani layaknya pasien umum, dirawat di Raudah, ruang rawat inap biasa.

Akibat ketidakjujuran ini, sebanyak 14 orang tenaga medis harus menjalani isolasi, untuk memastikan terjangkit atau tidak virus Corona.

Kejadian serupa juga terjadi di beberapa Rumah Sakit Kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Sebagaimana kita ketahui, keberadaan tenaga medis sangat krusial untuk menangani pasien Covid-19. Disatu sisi keberadaan mereka sangat kita butuhkan, disisi lain, mereka merupakan salah satu kelompok yang paling rentan tertular.

Angka tenaga medis yang terjangkit Covid-19 di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Ini adalah petanda, bahwa proteksi negara lemah. Hal yang paling penting untuk menyelamatkan mereka adalah ketersedian APD yang memenuhi standar. APD yang berfungsi sebagai penghalang bahan infeksius seperti virus dan bakteri yang bisa saja menempel di kulit, mulut, hidung, atau selaput lendir mata para tenaga kesehatan.

Jadi, pemerintah jangan main-main dengan APD ini, harus gelontorkan anggaran secukupnya. Jangan hitung-hitungan.

Selain APD, keselamatan para medis itu juga tergantung dari informasi awal yang diberikan oleh pasien. Karena pasien yang terjangkit Corona tidak memiliki tanda dan gejala khusus, jadi susah bagi tenaga medis untuk mengidentifikasi.

Petunjuk terbaik adalah riwayat penyakit dan perjalanan. Jika berdasarkan informasi awal, pasien terindikasi Covid-19, maka tenaga medis dapat dengan segera menerapkan protokol penangan standar.

Sudah seharusnya pemerintah dan manajemen Rumah Sakit memperketat protokal penanganan pasien. Setiap tenaga medis, apalagi yang bertugas di IGD wajib memakai APD standar.

Bukan hanya Rumah Sakit, setiap Fasilitas Kesehatan (Faskes) harus dengan ketat menjalankan, termasuk Puskesmas. Sebagai faskes yang berada paling dekat dengan masyarakat, petugas Puskesmas jangan lengah. Dinas Kesehatan kabupaten/kota harus rajin melakukan kontrol.

Terakhir, pasien. Apapun dugaan penyakit anda, tetap patuhi imbauan, penuhi standar.

Dalam menyampaikan informasi harus jujur, katakan apa adanya. Jangan sampai jadi pembunuh tenaga medis, maka dari itu,”Wahai Pasien, Jujurlah”!

Komentar

Loading...