Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Pasangan Suami Istri di Aceh Barat Sulap Enceng Gondok Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Pasangan Suami Istri di Aceh Barat Sulap Enceng Gondok Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi
Pengrajin enceng gondok asal Aceh Barat, Mursalin. Foto: UCI SETIAWAN/ANTEROACEH.com

MEULABOH, ANTEROACEH.com - Siapa sangka tanaman liar enceng gondok yang dianggap gulma oleh masyarakat dapat menghasilkan uang sampai jutaan rupiah per bulannya.

Di tangan pasangan suami istri di Gampong Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat Mursalin dan Cut Afni Zahra, tanaman enceng gondok disulap menjadi sumber pundi-pundi rupiah.

Cut Afni memulai kisah, jika usahanya itu berawal dari program binaan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) mahasiswa UIN Ar- Raniry tahun 2016 lalu. Setelah digagas oleh para mahasiswa itu ternyata Cut Afni dan suaminya mulai terinspirasi dan terus mengembangkan kerajinan tangan itu hingga berlanjut di tahun 2017 sampai dengan sekarang.

"Kita juga masuk dalam binaan Kompak yaitu program dari pemerintah Indonesia dan Australia untuk memberantas kemiskinan. Awalnya itu saya saja yang masuk bagian kelompok pengolahan kampung ini dan ternyata suami saya juga hobi dan jadinya ikut – ikutan," terang Cut Afni kepada anteroaceh.com saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4/2020).

Setelah berjalan selama setahun, usahanya sempat terhenti dan bubar karena dihadapkan beberapa masalah.

"Karena potensi usaha enceng gondok ini besar ya, akhirnya suami saya dimagangkan oleh Pemkab Aceh Barat ke Jogjakarta selama sepuluh hari," kisah Cut.

Usahanya kembali bangkit pasca kepulangan sang suami dari pelatihan itu dan mereka kembali menjalankan usaha kerajinan berbahan dasar enceng gondok itu.

Setelah itu, kata Cut, ia bersama suami mulai berani mengajak warga desa untuk terlibat membuat produksi berbahan enceng gondok.

“Hingga saat ini, kami sudah memiliki 20 orang pengrajin aktif yang tersebar di berbagai Desa dalam Kecamatan Arongan Lambalek,” ujarnya.
Selain dalam daerah, produk Cut Afni juga sudah dipasarkan di luar daerah seperti Jakarta dan Jogjakarta.

Hasil kerajinan tangan dengan bahan dasar enceng gondok. Foto: UCI SETIAWAN

Berbagai jenis kerajinan tangan diproduksinya setiap hari, mulai dari tas, kotak tissue, keranjang baju hingga mebel. Harga yang ditawarkan juga sangat bervariasi tergantung tingkat kesulitan.

"Itu lama pembuatannya tergantung jenis kerajinan. Prosesnya juga melalui berbagai tahap, mulai dari penjemuran enceng gondok selama 15 hari, proses menganyam dan finishing, baru bisa jual," terang Cut.

Biasanya setiap hari pukul 4 sore ia mulai turun mencari bahan enceng gondok di rawa atau sungai dan akan melakukan penjemuran pagi esoknya hingga sore hari.

Bahkan Cut Afni mengaku kesulitan memenuhi permintaan pasar yang relatif banyak.

"Kendalanya kita masih kekurangan pengrajin yang terampil,” keluhnya.

Ia menyebut jumlah pesanan yang masuk per bulannya bisa mencapai 5.000 pcs.

“Pesanan banyak tapi tidak bisa terpenuhi semuanya. Kemarin ada pesanan 5.000 pcs per bulan, tapi kita baru bisa penuhi 1.000 pcs per bulannya," ujar Cut Afni Zahra.

Hal yang sama juga disampaikan suaminya, Mursalin. Ia mengaku tantangan saat ini adalah merubah pola pikir masyarakat desa agar terpacu dan mau bekerja sebagai pengrajin enceng gondok bersamanya.

"Kalau kerja mereka bagus memang, tapi semangatnya masih kurang. Padahal bahan baku di sekitar melimpah dan pasarnya juga sudah ada tinggal kemauan mereka saja yang kurang," ucap Mursalin.

Salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan melanjutkan menggeluti kerajinan tangan enceng gondok dikarenakan proses yang memakan waktu panjang dan tidak langsung menghasilkan uang.

"Coba saja satu desa ini tekuni satu pekerjaan sebagai pengrajin enceng gondok. Saya yakin pasti maju desa ini dan tidak termasuk dalam daerah termiskin lagi," imbuhnya.

Komentar

Loading...