Pariwisata Aceh Menjadi Destinasi Utama Wisatawan Muslim Dunia

Pariwisata Aceh Menjadi Destinasi Utama Wisatawan Muslim Dunia

Oleh : Safaruddin S.Sos, MSP.  Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (2019-2024).

Saat saya di Jakarta bersama Pimpinan Anggota Dewan lainnya guna menerima Surat Keputusan pimpinan definitif untuk DPRA periode 2019-2024 salah satu yang menjadi headline media massa nasional adalah kontroversial mengenai ide wisata halal dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk diterapkan dibeberapa daerah diantaranya Bali, NTT, dan Danau Toba. Hal ini tentu saja menarik perhatian saya mengingat Provinsi Aceh tanpa diminta sudah pasti akan menyajikan dan menjual wisata halal sesuai dengan kearifan lokal daerah serta masyarakatnya.

Sebenarnya yang disampaikan oleh Wisnutama yang kini menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah daerah-daerah tersebut diharapkan menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan wisatawan muslim. Bupati Kabupaten Samosir, Gubernur NTT, sampai anggota DPR RI I Wayan Sudirta terpancing untuk menanggapi wacana tersebut, dan menurut saya dari point of view masing-masing semuanya bisa dipahami serta dicari pemahaman yang dapat diterima bersama. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa yang bisa kita (Masyarakat serta Pemerintah Aceh) ambil dari gejolak yang muncul ini? Apa yang bisa kita selaraskan untuk kepentingan Pariwisata Aceh saat ini dan kedepan? Tentu melalui tulisan ini saya ingin mengutarakan pendapat dan membuka ruang diskusi bagi masyarakat dan seluruh stakeholder yang ada di Aceh.

Pada tahun 2030 nanti diperkirakan satu dari tiga orang penduduk dunia adalah seorang muslim, kurang lebih akan mencapai angka 26% populasi manusia pada saat itu. Tahun depan (2020) diperkirakan jumlah wisatawan muslim naik dari angka 131 juta menjadi 156 juta manusia, dan dari laporan Indonesia Muslim Travel Index tahun lalu (2018) menyimpulkan kedepan yang menjadi alasan mengapa para wisatawan muslim ingin berkunjung ke suatu tempat adalah tersedianya kuliner halal dan fasilitas tempat ibadah, dimana secara detail disebutkan juga 'terbebas dari lingkungan non-halal dan menjunjung privasi' selain kemudahan akses, lingkungan, komunikasi, serta layanan. Sebagai perwakilan masyarakat Aceh saat ini saya ingin mendorong untuk kita bersama-sama melihat peluang dan menjadi daerah yang mendapat manfaat dari data-data yang tersaji diatas.

Ketua DPD ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Solahuddin Nasution mengungkapkan bahwa makna wisata halal dipersepsikan secara keliru dibeberapa daerah, 'Bukan mengubah yang non halal menjadi halal, atau semua aspek diatur berdasarkan Syariat Islam tetapi misalnya ketersedian restoran halal dan non hal yang representatif bagi wisatawan’. Melihat gonjang-gajing serta penolakan perihal pariwisata halal yang digencarkan di daerah-daerah mayoritas non-muslim dapat memberikan angin segar bagi Aceh untuk menjadi tujuan destinasi wisata religi di Indonesia. Kabupaten dan Kota di Aceh diharapkan dapat menciptakan paket-paket wisata religi yang menarik bagi wisatawan nasional maupun internasional, misalnya pada Bulan Ramadhan serta moment kegiatan keislaman lainnya. Selain hal diatas tentunya yang menjadi pondasi utama menuju Aceh tujuan wisata religi adalah tersedianya infrastruktur, sarana dan prasarana utama serta pendukung misalnya: fasilitas ibadah yang nyaman, fasilitas toilet yang baik, dan fasilitas wisata religi lainnya. Untuk yang berhubungan dengan hal teknis seperti penyediaan infrastruktur, sarana dan prasarana tentunya menjadi tugas pokok dari Pemerintah Daerah untuk mewujudkannya.

Yang menjadi segmen dan target dari 'Pariwisata Halal' ini adalah kelas menengah muslim serta millenial muslim. Tentunya yang kita sadari adalah yang menjadi sasaran kita tidak hanya masyarakat muslim dunia, tetapi juga para muslim di Indonesia karena pasarnya juga tidak kalah menarik dan potensial. Bulan lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata baru saja menggelar program Estafet Budaya Aceh, mengangkat tema yang sangat bagus menurut saya yaitu Generasi Milenial. Saya berharap untuk tahun depan program dan kegiatan yang akan dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan Aceh secara keseluruhan, dilaksanakan dengan pendekatan-pendekatan yang sesuai perkembangan zaman, dengan mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dan tradisi Aceh. RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah) yang berkaitan dengan Bidang Pariwisata dan Kebudayaan kedepan harus disusun sesuai dengan kebutuhan destinasi-destinasi wisata yang memberikan dampak positif bagi masyarakatnya.

Saya ingin konsep ekowisata kedepan benar-benar dapat di implementasikan dengan baik dan benar, konsep tersebut pada intinya bertujuan untuk melakukan kegiatan pariwisata yang bertanggung jawab, yang di tujukan untuk konservasi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal. Jika konsep ekowisata ini bisa di terapkan maka Aceh sebagai sebuah destinasi bagi wisatawan muslim bisa mendapatkan keuntungan berupa pelestarian lingkungan dan budaya secara bersamaan, juga keuntungan ekonomis bagi komunitas / kelompok pariwisata serta penduduk lokal. Pemerintah, pihak swasta, pengelola, maupun masyarakat diharapkan memahami prinsip-prinsip penerapan ekowisata, mulai dari mengurangi dampak buruk dari pariwisata, membangun pemahaman tentang pentingnya menghargai alam dan budaya, menyajikan pengalaman yang positif dan menyenangkan bagi turis maupun masyarakat setempat, memastikan keuntungan finansial yang bisa langsung dirasakan untuk kepentingan konservasi serta memberi keuntungan finansial juga bagi pemberdayaan bagi kelompok / masyarakat lokal.

Seluruh jajaran Pemerintah Daerah sudah saatnya turun untuk menyerap masukan dan melihat kondisi real yang berhubungan dengan Pariwisata dan Kebudayaan Aceh. Kedepan pelaksanaan program dan kegiatan diharapkan disajikan dengan mengadopsi peran teknologi informasi dimana selain menjadi jalur publikasi serta promosi secara global, juga menjadi ruang untuk menjangkau dan mengikutsertakan para kawula muda. Komunitas Pariwisata seperti GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Aceh, pada blogger, vlogger, serta influencer kedapan saya harap menjadi mitra pemerintah dalam menjadikan Aceh sebagai tujuan wisatawan muslim dunia.

Seperti pesan yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Bapak Tito Karnavian saat penyerahaan SK Pimpinan DPRA dimana diharapkan untuk seluruh program nasional dapat diselaraskan dengan program di APBA, maka saya berpendapat untuk Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini antara Aceh dan Pemerintah Pusat mudah untuk dicari ‘benang merahnya’. Dan sebagai penutup saya membuka diri berdiskusi serta menyerap aspirasi seluruh masyarakat guna menjalankan peran saya di ruang legeslatif untuk kita sama-sama mewujudkan Aceh yang lebih baik dimasa depan. Saleum.

Komentar

Loading...