Para Keuchik dan Mahasiswa Kepung Kantor Bupati   Aceh Utara

Para Keuchik dan Mahasiswa Kepung Kantor Bupati   Aceh Utara
Para Keuchik (kepala desa) bersama elemen mahasiswa  berunjukrasa di Kantor Bupati Aceh Utara di Landeng, Lhoksukon (Foto: Sirajul Munir/anteroaceh.com)

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com - Para Keuchik (kepala desa) bersama elemen mahasiswa  berunjukrasa di Kantor Bupati Aceh Utara di Landeng, Lhoksukon, Selasa (9/3/2021) menuntut bupati Muhammad Thaib mencabut  peraturan bupati (Perbub) nomor  3 tahun 2021  tentang ADG.

Peraturan tersebut dinilai telah memangkas upah aparatur desa  dan menghilang pos anggaran untuk untuk para guru mengaji di desa-desa , dana bantuan untuk anak yatim piatu dan bantuan untuk majelis taklim.

Amatan di lokasi, para pengunjukrasa mulai memasuki halaman kantor bupati sekitar pukul 10.00 WIB, mereka memasang spanduk menuntut Pemkab Aceh Utara mencabut aturan tersebut sekaligus menuntut  penetapan penghasilan tetap aparatur desa kembali ke PP nomor  11 2019.

Kemudian pengunjukrasa berkumpul di depan pintu utama masuk kantor bupati baru tersebut, yang sebelumnya sudah dijaga ketat aparat kepolisian dan Satpol PP. 

Massa mendesak agar bupati menemui mereka, namun sekitar pukul 13.00 WIB seorang perwakilan menemui mereka dan mengatakan Bupati Muhammad Thaib sedang berada di Kota Banda Aceh. Setelah pemberitahuan itu pengunjukrasa mulai membakar ban di halaman kantor bupati, karena kecewa.

“Ini bukti pemeritah daerah Aceh Utara gagal dan bupati telah berkhianat kepada masyarakat Aceh Utara,” orasi  Eri elemen mahasiswa dari Lembaga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Aceh Utara.

Keberadaan Bupati Cek Mad diluar daerah dianggap sebagai sikap pengecut, karena berusaha menghindari bertemu dengan para aparatur gampong. Apalagi  rencana aksi tersebut sudah diberitahukan sejak tiga hari lalu.

"Keluar dari istana ber ac mu, temui kami yang sudah jauh-jauh datang. Unjukrasa ini sudah kita kabarkan sejak tiga hari lalu , mengapa bupati Aceh Utara tidak mengindahkan kedatangan rakyatny,” teriak mahasiswa disambut riuh para demonstran lain.

Pemkabaran ban akhirnya dipadamkan oleh petugas kepolisian dengan siraman air. Bahkan siramana air sempar mengenai sejumlah pengunjukrasa. Hingga berita ini diturunkan, ratusan pengunjukrasa masih berada bertahan di kantor bupati.

Komentar

Loading...