Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Orang Utan di Pusat Reintroduksi Jantho Lahirkan Bayi Ketiga

Orang Utan di Pusat Reintroduksi Jantho Lahirkan Bayi Ketiga

JANTHO, ANTEROACEH.com - Tim Post Release Monitoring (PRM) Pusat Reintroduksi Orangutan, di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar menemukan satu  induk orangutan dengan bayinya berusia 3-5 bulan di trail FB1200, pada 26 Agustus lalu.  Itu  Bayi orangutan ketiga  yang lahir di Jantho sejak Program Reintroduksi Orangutan dimulai pada tahun 2011.

Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, merupaka program Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP)dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL). 

Pada masa Pandemi Covid-19 aktivitas pengambilan data orangutan di Jantho dengan metode dari sarang ke sarang sedang dihentikan sementara untuk meminimalisir resiko penyebaran virus Corona  ke orang utan dan satwa lainnya. Namun   pemantauan tetap dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan, termasuk aktivitas monitoring rutin orangutan di jalur pengamatan (trail system).

“Salah satu hasilnya, terpantaunya bayi orangutan jantan baru tersebut bersama dengan induknya. Kondisi satwa dilindungi itu sehat. Kondisi bayi masih digendong  dan disusui dan  belum terpantau mengkonsumsi buah atau daun,”       sebut Mukhlisin manager Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho dalam siaran pers, Selasa (29/9/2020).

Katanya, induk orangutan bernama Edelweiss, merupakan salah satu orangutan pertama yang dilepas di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho pada tahun 2011, dan setelah  itu dia langsung menjauh dari kandang dan masuk ke dalam hutan.

Kemudian pada Februari 2020,  Edelweiss sempat terpantau di sekitar Kandang Habituasi di Pusat Reintroduksi dalam kondisi hamil  dengan perut membesar dan alat kelamin bengkak. 

Direktur Konservasi YEL, M. Yakob Ishadamy   menyampaikan  kelahiran bayi tersebut kabar menggembirakan   di tengah  pandemic ini. Sebelum ini Bayi orangutan lahir dari induknya yang diberinama Marconi (induk) dengan bayinya bernama  Masen, selanjutnya  dari Orangutan Mongki lahirnya bayi diberinama  Mameh.

“Kedua bayi tersebut lahir  tahun 2017. Walau kami menyadari bahwa masih banyak tugas-tugas yang harus dilakukan dalam rangka membangun populasi baru orangutan yang mandiri dan lestari, tapi sejauh ini kami cukup puas dengan capaian-capaian yang ada,” kata Yakob.

Sedankan Head Ex-Situ, drh. Citrakasih Nente, menambahkan, tujuan program pelepasliaran orangutan di Cagar Alam Jantho untuk membangun populasi liar yang baru bagi orangutan Sumatera sebagai “jaring keamanan” atau “backup”, jika sesuatu yang buruk terjadi pada sisa populasi liar aslinya di dalam dan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser. 

“Hal tersebut semakin penting saat ini, khususnya di tengah wabah Covid-19 yang menginfeksi manusia dan kita belum mengetahui sejauh mana  ancaman virus tersebut terhadap orangutan dan populasinya.  Sampai saat ini, lebih dari 120 individu orangutan hidup  di Cagar Alam Jantho, namun agar kita  semakin yakin bahwa populasi baru akan bertahan dalam jangka panjang, jumlah nya harus terus bertambah. Dengan demikian semua orangutan yang lahir di Jantho akan sangat berarti secara signifikan dan menjadi harapan baru terhadap masa depan spesiesnya di Jantho dan semua orang utan Sumatera yang masih tersisa,” ungkapnya.

Komentar

Loading...