Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Orang Tua Santri Mataqu Buat Surat Terbuka untuk Wali Kota Lhokseumawe, Ini Isinya

Orang Tua Santri Mataqu Buat Surat Terbuka untuk Wali Kota Lhokseumawe, Ini Isinya
santri Dayah Mataqu Lhokseumawe (Foto: Sirajul Munir/anteroaceh.com)

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Pemko Lhokseumawe tetap akan menjadikan bangunan eks SMP 1 Arun yang saat ini masih dijadikan ruang belajar bagi santri Dayah Mataqu sebagai ruang Pinere Covid-19 dengan berbagai dalih, salah satunya semakin banyak penderita virus Corona di kota tersebut.

Namun disisi lain, manajemen dayah tahfidz tersebut belum punya pilihan pindah ke lokasi lain, karena belum ditemukan lokasi memadai yang bisa menampung 300 lebih santri dan pengajar. Termasuk dua lokasi yang ditawarkan pemerintah. Sedangkan tenggang waktu yang ditetapkan Pemko hanya tersisa beberapa hari lagi.

Kondisi ini membuat wali santri atau orang tua santri semakin gundah, karena khawatir keberlangsungan pendidikan anak-anaknya  akan terganggu. 

Seperti yang diungkap salah seorang wali santri yang mengirimkan surat terbuka untuk Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya dengan judul “Surat Cinta untuk Pak Wali. Berikut isinya

Surat “Cinta” Untuk Pak Wali

Bismillahirahmannirahiim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah SWT …………………

Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW…………

 

YTh.  Tuan Suaidi Yahya Wali Kota Lhokseumawe 

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada anda dan dimudahkan urusan dalam menjalankan tugas sebagai Wali Kota Lhokseumawe.

Perkenankan saya,  seorang wali santri Mataqu untuk berkirim surat “Cinta” terkhusus untukmu Pak Wali. Dalam sebulan ini kami (tepatnya Saya) wali santri tersita energy untuk memikirkan nasib pendidikan anak kami di Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu).

Berawal dari surat “cinta” Pak Wali yang mengultimatum Dayah Mataqu untuk angkat kaki (sekalian barang dan lampirannya) dalam waktu 7 hari. Karena Gedung Ex. SMP 1 Arun mau dijadikan ruang Pinere bagi pasien “ Maop” Corona…

Bagi saya  walisantri Mataqu, surat cinta yang Bapak layangkan itu ikhlas kami tempatkan sebagai ujian bagi pendidikan Ananda kami.  Selayaknya sebagai muslim saya berhusnudhan (berbaik sangka)  kepada Allah dengan lafazd  Alhamdulillah….. Apun ujian bagi kami semua dari Allah dan itu baik bagi kami..

 

Tuan Suaidi Yahya sebagai Wali Kota Lhokseumawe

Untuk Tuan Wali kota Ketahui…..kami menitipkan pendidikan anak kami di Mataqu dengan sepenuh hati. Tak sebanding, seumpama, semisalnya dengan menitipkan barang mati untuk dilihat dan dijaga semata….(seperti Tuan menitipkan mobil pada juru parkir). Ananda kami hamba Allah …Makhluk hidup penerus harapan kami. Kami berharap mareka menjadi generasi pelanjut kebaikan di muka bumi. Lewat ikhtiar kolektif (berjamaah), kami (walisantri, manajemen mataqu) menempa adab dan ilmu qur’an sebagai bekal ananda  untuk mendapatkan ridho Ilahi….

Tuan Suaidi Yahya sebagai Wali Kota Lhokseumawe

Yang terusik dengan surat “Cinta” Pak Wali yang mengultimatum Dayah Mataku untuk angkat kaki (bahasa yang halu relokasi), Bukan semata-mata manajemen Mataqu tapi lebih dari itu…disitu ada wali santri lebing kurang 400 orang, keluarganya (kalikan saja rata-rata 4 orang/ keluarga), Ustad, Ustadzah sebagai pendidik, Lingkungan PAG, Badan Kemakmuran Mesjid Istiqamah, penyedian jasa untuk menunjang kegiatan pendikan Dayak Mataqu dari luar manajemen mataku, pelaku ekomomi yang selama ini bersimbiosis mutualisme (berinteraksi saling menguntungkan), para pemerhati LSM/Mahasiswa, donatur pendidikan Tahfizul Qur’an di Kota Lhokseumawe dan luar daerah. …..jumlah yang terusik Ribuan Pak Wali….

Mohon Maaf, sebagai pembanding  dampak mengusik Dayah Mataqu yang dirasakan melebihi dari dampak pengusuran/ penertiban  warung remang-remang disepanjang Krueng Cunda yang pernah dilakukan Pemko Lhokseumawe (itupun karena desakan sejumlah ormas yang tidak ikhlas Kota Lhokseumawe dikotori oleh praktek maksiat)…yang terimbas jumlah sedikit dari kebijakan Tuan Wali Kota. Kebijakan tersebut kemudian mendapatkan apresisasi masyarakat kota Lhokseumawe…sungai kemudian relatif bersih dan penyakit sosial berpindah kesudut yang lain… dan terkesan ditangani secara ecek-ecek (separuh hati).

Pak Wali untuk yang begituan saja pemko sangat toleransi (timbang rasa, memberi waktu yang lama)…bagaimana dengan kebijakan relokasi Dayah Mataqu lembaga pendidikan (tempat ananda kami mengkaji dan menghafal Kalam Ilahi)?

Tuan,  Suaidi Yahya Wali Kota Lhokseumawe.

Oya Pak Wali surat cinta ini juga  berangkat  dari keprihatinan kami atas hambatan komunikasi usaha wali santri yang ingin sekali beraudiensi langsung dengan Pak Wali…karena dengan utusan Bapak Wali kami pernah ketemu berdiskusi secara logis dan  santun. Tak berapa lama kami melihat berita (konfrensi pers yang Langsung Pak Wali hadir untuk mempertegas keputusan dayah mataqu harus angkat kaki dengan alasan dan alibi serta hiperbola yang menyesakkan dada kami. Saakan-akan tidak ada alternatif lain dan solusi setengah hati (tawaran gedung relokasi yang kapasitas sedikit plus  tak layak huni)

Dimata pemimpin kami, seakan Kota Lhokseumawe sudah ciut peta wilayahnya yang tinggal hanya sepetak tanah dan gedung tua yang sekarang dihuni ananda kami di Dayah Mataqu untuk dijadikan ruang Pinere…. Yang lain sudah ditelan bumi dilingkungan Komplek PAG hari ini (fakta masih banyak sumberdaya  lahan dan gedung untuk ruang isolasi pasien Pinere “Maop” Covid 19 ….Ya Allah kuatkan  kami dan lembutkanlah hati pemimpin kami.

Tuan,  Suaidi Yahya Wali Kota Lhokseumawe.

Sebagai sesama muslim bolehlah saya mengingatkan Bapak lewat surat “cinta” Ini. Hakikat dari kepemimipnan itu hanya dua… tidak lebih dari itu Pak Wali… Hakikat kepemiminan dalam Islam:  (1) Membantu Tegaknya agama Allah dan (2) Melakukan pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya.

Jujur batin ini terusik Pak Wali… dua hakikat kepemimpinan ini mampak-nampaknya belum teraplikasi pada solusi yang humanis (memanusiakan manusia) dalam hal kisruh Dayah Mataqu Versus Pemko Kota Lhokseumawe. Oya Pak Wali, anda berharap dengan sangat , jangan politisi kekisruhan ini (detik itu juga anda hakikatnya sedang berpolitik).

Pak Wali…kami bukan ahli politik dalam Islam yang kami kenal itu  siyasah namanya. siyasah berguna untuk mengatur segenap kebutuhan ummat (masyarakat). Islam memandang kehidupan dunia sebagai ladang bagi kehidupan akhirat. Hakikat kepemimpinan  sebisa mungkin ditujukan untuk kenyamanan sehingga masyarakat bisa mengabdi kepada Allah secara lebih sempurna. Tata kehidupan di dunia tersebut harus senantiasa tegak diatas hakikat tuntutan kepemimpinan itu.

Tuan,  Suaidi Yahya Wali Kota Lhokseumawe

Kami wali santri ini….. hakikatnya masyarakat bapak yang diperlu diayomi. Kami tahu diri dan faham posisi  tapi kami terus berikhtiar dan berdoa. Semakin gelap kesulitan ini (menyelesaikan masalah dan menghadirkan masalah baru) solusi yang Pak wali tawarkan untuk relokasi Dayah Mataqu …semakin yakin kami bantuan Allah itu semakin dekat.  Fajar akan menyinsing dhuha akan tiba Pak Wali.

Pak Wali , kepada Allah yang maha membolak balikkan hati manusia di 2/3 malam sebagian Walisantri dan Andanda kami menadahkan tangan memohon kepada yang Maha Kuasa (kaku jemari ini untuk mengetik  bunyi doanya, dan baiknya memang cukup yang berdoa dan yang dituju yang tahu lafazdnya.

Kami  yakin dan Haqqul yakin Allah tidak akan menelantarkan “Alhulllah” (keluarga Allah) dibumi  para penghafal Al-Qur’an Ananda kami Mataqu.

Tuan,  Suaidi Yahya  Wali Kota Lhokseumawe

Di Surat ”Cinta” ini,  izikan saya akhiri dengan cerita hikmah pertanggung jawaban burung pipit. Seekor burung pipit saat pelaksanaan pembakaran sang khalilullah (Nabi Ibrahim As). Burung pipit kecil merasa sangat bersedih karena sang Nabi Allah SWT dibakar. Ia pun berusaha memadamkan api itu dengan cara mengangkut air di paruh kecilnya. Ia bolak-balik dari sebuah danau untuk mengambil air dan menitikkannya ke atas api yang sedang melahap tubuh Ibrahim as.

Cicak yang melihatnya tertawa mengejek, "Mana mungkin air dari paruhmu itu dapat memadamkan api. Itu hanya beberapa tetes saja," ejek sang cicak. Burung pipit tidak peduli, apakah air yang sempat diangkutnya mampu memadamkan kobaran api atau tidak.  Ia terus saja meneteskan air dari paruhnya.

"Aku tidak sanggup melihat Nabi Ibrahim kekasih Allah dibakar kata sang burung pipit. Biarlah air ini terus menetes, karena Allah Maha Tahu pada siapa aku berpihak," burung pipit membela diri.

Sementara itu, cicak terus saja tertawa. Sambil menjulurkan lidahnya menghembuskan napas ke arah api agar api itu kian membesar. Memang tiupan cecak tidaklah sebanding kobaran api, tapi Allah SWT menyaksikan di mana dia berpihak. itulah sekelumit kisahnya Pak Wali,  Ikhtiar burung pipit adalah pilihan kami penulis surat cinta ini Pak Wali.

Wallahualam Bissawab

Salam Hormat

Salah seorang wali santri Mataqu Usman Bin Affan

Kota Lhokseumawe

Komentar

Loading...