OJK Minta Kendala Teknis ATM BSI Tidak DIbenturkan Dengan Qanun LKS

OJK Minta Kendala Teknis ATM BSI Tidak DIbenturkan Dengan Qanun LKS

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh, Yusri, meminta semua pihak untuk tidak membenturkan isu Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dengan situasi pelayanan ATM Bank Syariah Indonesia (BSI) yang saat ini secara teknis tengah mengalami kendala.

Menurutnya, proses migrasi sejumlah bank konvensional di Aceh, menjadi bank syariah ditambah mergernya tiga bank menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) membutuhkan proses untuk bisa settlement.

Pihaknya sendiri, kata Yusri terus meminta dan memastikan kepada BSI untuk benar-benar bekerja optimal agar pelayanan ATM di Aceh segera pulih.

Yusri menegaskan, membenturkan isu Qanun LKS dengan pelayanan ATM saat ini tidak tepat sebab aturan lembaga keuangan syariah di Aceh ini sudah dibahas sejak tahun 2015 oleh pihak terkait, dan telah disahkan pada 2018 dan berlaku efektif pada 2021. 

“Artinya isu dan perjalanan Qanun LKS Aceh sudah enam tahun,” terangnya, dalam keterangan persnya di Kantor OJK, Senin (10/5/2021).

Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) sendiri, baru diwacanakan pada 2019 oleh Presiden Joko Widodo, dan sama sekali tidak ada hubungan antara proses kendala teknis pelayanan ATM perbankan tersebut dengan Qanun LKS di provinsi ujung barat Sumatera ini.

Masyarakat juga harus memahami bahwa, di Aceh terjadi dua kali perpindahan portofolio perbankan dan migrasi sistem, yakni sejak berlakunya Qanun LKS, bank-bank konvensional, seperti BRI dan BNI dan Mandiri, telah melakukan transfer aset ke BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah.

Ditambah lagi, kebijakan pemerintah pusat yang menggabungkan bank-bank BUMN Syariah menjadi Bank BSI, ini juga telah menyebabkan bergabungnya seluruh sistem, aset, portofolio BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah di Aceh ke bank hasil merjer yakni; BSI.

“Jadi di Aceh itu menggabungkan 6 bank, dan semua itu membutuhkan proses dan partisipasi aktif masyarakat,” jelas Yusri.

Yusri juga mengharapkan masyarakat Aceh untuk senantiasa mendukung keberadaan Qanun LKS, sebab hal tersebut sudah menjadi keputusan saat ini, dan tentunya diharapkan aturan tersebut dapat memberikan kebaikan kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala Kantor Regional (Kanreg) Bank Syariah Indonesia (BSI) Aceh, Nana Hendriana menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aceh  atas kendala teknis pelayanan ATM yang kurang memuaskan saat ini.

Nana memastikan, pihaknya terus bekerja selama 24 jam untuk memasatikan pelayanan ATM kembali pulih dan memberikan kenyamanan kepada masyarakat. 

Ia menambahkan saat ini pihaknya telah menurunkan sebanyak 31 tim IT dari kantor pusat, guna bekerja siang dan malam di Aceh untuk melakukan migrasi sistem.

Saat ini, katanya, terdapat 450 unit ATM yang mengalami kendala, sebab sistem softwarenya belum migrasi ke sistem Bank Syariah Indonesia. Namun, katanya lagi, sejak turunya tim IT dan hingga jelang lebaran nanti, pihaknya memastikan 100 unit diantaranya akan rampung dan telah beroperasi normal sementara sisanya akan tuntas pada awal Juni mendatang.

Karna itu, dirinya meminta dukungan penuh dari masyarakat Aceh, agar proses migarasi yang tengah dipacu dapat segara tuntas. 

“Kami ingin selalu memberikan pelayanan optimal kepada rakyat Aceh,” pungkasnya.

Komentar

Loading...