Nol Bukan Berarti Tidak Ada

Nol Bukan Berarti Tidak Ada

Secara global, penyebaran pandemi Covid-19 belum menampakkan penurunan, bahkan negara se adidaya Amerika pun dibuat kewalahan. Lantas dii Indonesia? Sama saja.

Menurut data Kementrian Kesehatan, hingga Rabu, 15 April 2020, tercatat ada penambahan kasus positif sebanyak 282 orang, totalnya mencapai 4.839 kasus. Untuk pasien sembuh bertambah 46 menjadi 426, dan pasien meninggal 60 total 459.

Sementara di Aceh, empat dari lima pasien positif dinyatakan sembuh, satu orang meninggal dalam penanganan medis beberapa waktu lalu di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Itu artinya, per hari ini tidak ada lagi pasien positif di Aceh.

Jika dilihat secara global, masing-masing negara memiliki kebijakan berbeda dalam menangani Covid 19. Ada yang membatasi total pergerakan warganya, ada yang membiarkan, tapi memperbanyak tes swap, namun ada pula yang memilih diantara keduanya.

Di Aceh, Forkopimda sempat mengeluarkan himbauan pemberlakuan jam malam. Setiap warga dilarang beraktifitas di luar rumah, mulai pukul 20.30 sampai 05.30 WIB. Himbauan ini tidak bertahan lama, sekitar satu minggu. Plt. Gubernur Aceh membatalkan dengan alasan keluhan dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Selepas penarikan himbauan, pengunjung warung kopi kembali ramai. Seolah-olah, kondisi sudah pulih seperti sediakala. Anggapan ini tentu salah besar. Kita tidak boleh lengah sedikitpun, tetap menjalankan protokol kesehatan.

Masyarakat tetap harus waspada, walaupun di Aceh, beberapa pasien positif sudah dinyakan sembuh. Itu tentu kabar baik, tapi jangan sampai kabar baik berubah menjadi kabar lebih buruk lagi, karena kelalaian.

Semua tetap pada pakem masing-masing. Pemerintah Provinsi, Kabupaten/kota dan desa, karena kolaborasi mereka sangat menentukan keberhasilan pencegahan. 

Pemerintah Provinsi harus memimpin, sebagai kepala daerah dan wakil pemerintah pusat di daerah, Plt. Gubernur harus mengkonsolidasikan kebijakan dengan pemerintah di bawahnya. Revisi APBA untuk kebutuhan penanganan segera dilakukan.  

Pemerintah kabupaten/kota juga demikian, APBK harus segera disesuaikan. Dinas Kesehatan harus memiliki terobosan, misalnya menyediakan rumah isolasi untuk mereka yang baru pulang dari zona merah. Tenaga medis harus dipastikan memiliki Alat Pelindung Diri (APD) yang standart, tidak asal.

Jangan biarkan pemerintah Gampong berjalan sendirian. Corona ini telah merusak sendi-sendi kehidupan. Yang paling parah adalah ekonomi. Gampong merupakan ujung tombak sekaligus pertahanan yang paling dalam. Kolaborasi pemerintah semua tingkatan sangat membantu pencegahan. Masyarakat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan makan gegara pandemi ini harus diselamatkan, beri mereka jaminan makan.

Selanjutnya adalah pemuka agama dan cendikiawan, melalui keluhuran mereka diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat. Melalui tausiahnya, pemuka agama dapat memberikan petunjuk kepada pengikut agar terhindar dari Corona. Melalui lisan dan tulisan cendikia dapat menyejukkan orang banyak.

Pedagang juga demikian. Swalayan, warung kopi, dan pengusha lainnya harus menerapkan standar yang telah ditetapkan. Jangan beri ruang, tidak semata-mata profit, jauh lebih penting menghindari Covid.

Kemudian, yang tidak kalah penting adalah masyarakat, kita semua penghuni planet bumi ini. Apapun agama, suku, bangsa, Bahasa, status sosial. Kita harus dengan ketat  menjalankan protokol kesehatan. Tetap jaga jarak, menghindari tempat keramaian, kita harus patuh.

Jangan terlena dengan status Nol positif di Aceh. Kita belum tahu arus keluar-masuk orang, bandara, terminal masih terbuka. Belum lagi para kaum urban yang pulang lewat jalur tikus, tidak terpantau pihak berwenang.

Pembawa virus (carrier) tidak bertanda dan bergejala khusus. Semisal gatal atau benjolan yang sudah pasti kelihatan, ini tampak biasa saja. Tidak banyak yang bisa kita lakukan. Menghindari bersentuhan adalah yang paling aman.

Dalam berbagai pertempuran, kelalaian sesaat bisa berakibat fatal. Kali ini, walau bukan bertempur dengan senjata, namun akibatnya bisa lebih parah; kematian dan kemelaratan. Jadi, tetap waspada!

Komentar

Loading...