Nestapa Tukang Becak di Aceh, Dari Penghasilan Rp.35 Ribu Hingga Tidur Dibecak Ketika Malam

Nestapa Tukang Becak di Aceh, Dari Penghasilan Rp.35 Ribu Hingga Tidur Dibecak Ketika Malam
Potret tukang becak di Kota Banda Aceh (ANTEROACEH.com/Wahyu Majiah)

SIANG itu saya berkeliling di kota Banda Aceh, saya sebagai perantau memilih Bus Transkutaraja yang gratis sebagai alat transportasi itung-itung hemat uang jajan. Saya sengaja turun di halte dekat kampung Prada dan berjalan kaki menuju Mesjid Raya, tujuan jalan-jalan ku hari itu untuk menikmati suasana riuhnya kota Banda Aceh.

Jalanku pelan, sambil memegang handbag berisi kamera miroles dan alat-alat kecantikanku. Saya berjalan sambil sesekali melirik kiri-kanan.

Selang beberapa menit saya sampai di halte Bus Transkutaraja, disana sudah ada dua teman laki-laki yang menungguku mereka berprofesi sebagai pewarta photo namun masih memegang tanggungjawab sebagai Mahasiswa. Mereka asik memotret keadaan sekeliling, namun saya masih sibuk menyetel kamer saya sambil sesekali memotret kearah pangkalan becak.

Melihat sekumpulan bapak-bapak dipangkalan itu saya mendekati mereka untuk duduk diatas batu besar disebelah sopir becak dan berteduh dibawah rindangnya pohon siang itu. Saya mulai percakapan dengan salah satu sopir becak sambil ketawa-ketawa kecil.

Becak, merupakan alat transportasi yang sudah ada sejak lama ada di Indonesia. Sejarah tidak mencatat kapan tepatnya kehadiran becak di Indonesia. Pada awalnya becak merupkan alat transportasi tiga roda yang terbuat dari sepeda dengan tiga roda (becak sepeda), namun setelah waktu berlalu becak kerap digunakan sebagai alat transportasi.

Perubahan perekonomian dan pengetahuan masyarakat makin bertambah, masyarakat yang kesusahan mendayung sepeda becak mengantikan sepeda dengan sepeda motor yang dijadikan becak. Melalui becak sepada motor tentunya jangkauan penarik becak semakin jauh dan pengahasilan makin banyak.

Keuntungan yang diraih penarik makin menambah dan para penumpang juga nyaman berperan sebagai pelanggan becak, para kolega yang memiliki banyak becak juga memutar otak untuk menyewakan becaknya pada penegmudi.

Penumpang mudah didapatkan dimana saja, karana pada masa itu trasportasi umum yang kerap digunakan iyalah labi-labi, damri dan becak.

Masuk ke Aceh, kota syariat yang pernah mengalami bencabna besar pada tahun 2004 ini juga melibatkan transportasi tradisionl becak sebagai alat transportasi yang sampai sekarang masih digunakan.

Abdul Salam, Pria kelahiran Sigli 1973 ini salah satunya. Ia sudah menjadikan tarek Becak sebagai mata pencahariannya, terhitung sejak tahun 2005 setelah Tsunami ia mulai bekerja sebagai sopir becak.

Pria berkumis tebal, berkulit sawo matang ini sering terlihat mangkal di pangkalan kelompok 09  khusus becak disamping Mesjid Raya dekat dengan Halte Bus Transkutaraja.

“Pak berapa penghasilan dalam sehari?”, Tanya saya

“Untuk sekarang dek, penghasilan saya sangat menurun”, jawabnya

Ia menambahkan jawabannya, penghasilan yang ia dapatkan sekarang sangat berbanding terbalik dengan dulu beberapa tahun dulu sebelum transportasi tradisional tergantikan. Pria perantau ini terus menceritakan putaran rezekinya pada saya, saya yang makin penasaran terus-merus medesaknya dengan pertanyaan.

“Berapa perhari pak?”, Tanya saya lagi

“RP.70.000 paling tinggi, dan itu masih hitungan kotor belum lagi setiap hari saya harus menbayar uang sewa becak sebesar Rp. 25.000. kalau dulu kami para tukang becak ini setidaknya bisa mengumpulkan Rp. 150.000 hitungan kotor dalam sehari” jawabnya. Ia terus melanjutkan jawabannya.

Saya sempat menyinggung tentag transportasi sekarang yang serba mudah bagi masyarakat Aceh sendiri, bila ingin berkeliling kota halte sudah berjejeran dibahu jalan tanda adanya pemberhentian Bus Transkutaraja. Saya bukan hanya menyinggung transportasi nyaman yang disediakan pemerintah Aceh itu, saya juga sempat mempertanyakan tentang kehadiran transportasi milenial (online) yang makin marak di Aceh.

Seteleh pada tahun 2016 pemerintah mengeluarkan transportasi gratis, kini pemerintah juga sudah membolehkan adanya transoprtasi online yang tentu becak sudah mulai tertinggal. Kami tidak mempermasalahkan kebijakan pemerintah tersebut, karena itu kebutuhan umum dan berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas namun kami merasa kurang mendapatkan jatah untuk mencari nafkah.

“Bagaimana bisa pemerintah menggratiskan bus, sedangkan tukang becak bisa saja kelaparan”, ujarnya.

Demi menafkahi istri dan dua anak yang ditinggal di kampung halaman,  pria yang kerap di panggil bang Abdul ini tidak menyewa rumah untuk berteduh ia hanya menggunakan becak sebagai tempat istirahat sekalius teman kerjanya. Setelah tokoh Barata tutup ia selalu memakirkan becaknya didepan tokoh dan memilih untuk menyenyakkan badannya yang kelelahan.

Cerita pilu yang dimilikinya bukan hanya itu saja, ia mengatakan tentang susahnya keadaan dia untuk bertahan hidup di kota Tanoh Rencong.

“Saya pernah dalam sehari hanya mendapat penghasilan Rp. 35.000 hitungan kotor, untuk makan saja saya harus mengutang kesana sini,” ucapnya.

Baju yang terlihat sudah kotor masih dipakainya, dia berkata “Kalau mau cuci baju mau jemur dimana, ya kalau sudah terlalu kotor dan sudah saya pakai seminggu baru terpaksa saya bawa londri”, ujarnya sambi tertawa kecil.

Di tanoh rencong ini bukan hanya bang Abdul sendiri yang bergantung hidup pada narek becak, namun masuh ada rekan-rekannya belum lagi suasana labi-labi yang kian sepi.

Para pengemudi becak juga berharap, pemerintah sadar akan kehadiran mereka setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk beroperasi dari jam enam sore sampai jam istirahat malam.

Setelah bercakap-cakap saya mengajaknya untuk berfoto di becak yang dikendarai. Ia mengiyakan dan langsung bergegas duduk sesuai permintaan ku sambil memegang setang setiran.|| WAHYU MAJIAH

Komentar

Loading...