Narasi seorang bujang tongga

Narasi seorang bujang tongga

Ufuk terang pagi disambut balas tangis keras bayi yang hari ini telah menghasilkan tulisan ini dari jari jemari yang menari di papan ketik diselipi sedikit bisik merdu nurani. Bayi ini lahir jadi sukma pembawa bahagia keluarga. Ya, anak yang kelak jadi yang pertama dan terakhir dalam keluarga.

Lika-liku anak ini tidaklah terlalu menarik untuk disyairkan kembali, tidak ada yang membikin bergidik, anak ini tumbuh seperti kebanyakan. Hanya saja cerita yang dimiliki tidaklah persis sama seperti yang lain. Bergulir waktu anak ini tumbuh jadi remaja, ibarat bunga ketika mulai merekah menaburkan aroma sedap.

Semangatnya mulai muncul, mencoba hal-hal baru, mendapat masalaah-masalah baru. Namun dalam perjalanan merekahnya bunga kumbang-kumbang mulai datang mengusik, mulai dari sekedar terbang di sekitar bunga sampai menghisap sari dan menaburkan serbuk-serbuk bunga sampai menjadi bunga yang baru.

Bermacam masalah mulai menghampiri, orang tua yang terkadang kurang harmonis, dapur rumah yang terkadang sepi sebab tak ada bahan untuk meramaikan. Mulailah remaja yang baru beranjak ini mulai memikir, memikir kenapa hal ini bisa terjadi, mulai merasa akibat dari dinamika dalam keluarga, namun ternyata dinamika itu malah menambah kuat bathin remaja tanggung.

Tidak berhenti disitu, remaja beranjak dewasa ini mulai menginjak duri-duri lain di perjalanan. Tidak cukup mungkin apabila semuanya dituangkan kemari, namun yang paling membuat patah adalah ketika orang tersayang dijemput Sang Esa, pergi menemui-Nya dan tak lagi kembali.

Terlalu banyak dinamika turun naik membuat berpikir menjadi semakin terarah. Selayak bujang meminum kopi pahit, semalaman suntuk si bujang tetap terjaga tak kuasa tidur. Melihat masalah tidak lagi memakai hati, banyak dinamika sebelumnya membuat sudut pandang semakin bermacam.

Sampai pada akhirnya anak ini pergi merantau demi kelangsungan raga dan jiwanya sendiri. Mulai sedikit mengenal dunia dari wadah kecil bernama kampus. Tempat yang bernama kampus ini ternyata juga menyiapkan masalah-masalah yang siap disuguhkan. Benar saja, masa awal sudah bermasalah dikarenakan dirinya candu menghisap hasil olahan petani tembakau. Benar saja, dia tidak menerima itu.

Berliku. Tidak diterima di birokrasi tingkat awal, dikucilkan, jadi bahan omongan, hanya karena candu itu. Ternyata hal ini tidak sedikit pun mengganggu keyakinannya bahwa candu itu baik. Tidak masalah ditolak birokrasi, yang penting candunya masih bisa diselenggarakan tanpa tekanan.

Sampai akhirnya ia menemukan sebuah tempat yang mengganggap candu itu bukanlah sebuah masalah, di tempat ini pula lah menjadi tempat pilihan untuk menggali emas. Ditempa, dibentuk, dibentur, sampai menjadi bentuk. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kesuksesan yang diimpikannya.

Oleh Bujang Tongga (Seorang perantau sejati yang lahir 27 Oktober 20 tahun silam).

Bogor, 6 April 2018, pukul 01.19 WIB dinihari.

Tulisan ini sengaja ditulis dengan harapan sedikit mengasah kemampuan mencoret kertas demi sebuah karya.

Komentar

Loading...