Mualaf di Aceh Utara  Lapor Polisi karena Ujaran Kebencian di Medsos

Mualaf di Aceh Utara  Lapor Polisi karena Ujaran Kebencian di Medsos

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com - Seorang warga Gampong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara melaporkan perkara ujaran kebencian  bernuansa SARA terhadap dirinya ke Polres Lhokseumawe. Ujaran tersebut diketahui korban  dari sebuah postingan facebook diduga milik  warga desa yang sama  pada awal Mei lalu.

Trisno Muhammadi (62) mengaku melaporkan  akun facebook https://www.facebook.com/jafar.capluk milik warga bernama M Jafar ke polisi pada 2 Juni lalu.  

Akun itu memuat video live streaming yang berisi acara rapat di Meunasah Gampong Seumirah yang ikut ia hadiri beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri.

“Dipostingan itu tertulis, bahwa keputusan rapat, yang bersangkutan harus pindah dari gampong tersebut. Kemudian postingan itu dikomentari oleh akun-akun lain dengan kalimat kebencian dan juga menyinggung status beliau seorang muallaf,” ujar Armia SH, kuasa  hukum Trisno Muhammadi.

Padahal kata Armia, pada malam rapat itu korban datang bersama seorang ulama ke meunasah atas permintaan kepala dusun. Dan tidak mengetahui duduk persoalan sehingga harus hadir dalam pertemuan tersebut.

“Faktanya, tidak ada keputusan dalam rapat itu yang menyebutkan saudara Trisno harus pindah dari Seumirah, jangankan keputusan dalam rapat sendiri tidak dibahas masalah itu. Kalau ada, mana suratnya?.  Artinya akun facebook itu telah menyebarkan kabar bohong yang bisa memunculkan keonaran di desanya,” kata Armia.

Menurutnya,  kejadian itu bisa membuat orang lain yang tidak hadir dalam rapat itu  terprovokasi seakan-akan kliennya bukan lagi warga setempat.  Bahkan pernah hampir terjadi keributan di desa, namun Trisno yang saat ini dikenal dengan panggilan Muslim berusaha menghindar agar tidak terjadi bentrok fisik.

Ia juga menyebutkan, kondisi pelapor di kampungnya terancam, termasuk anak dan istri. Bahkan ada yang menyebutkan pelapor bukanlah seorang Mualaf. Faktanya Trisno seorang mualaf dengan akta yang diterbitkan MPU Aceh Utara pada tahun 2014 yang ditandatangan ketua MPU saat itu Tgk Mustafa Ahmad atau Abu Paloh Gadeng.

“Kami sangat berharap kasus ini segera ditindak lanjuti, karena sangat merugikan klien kami. Dan kasus ini dilaporkan karena tidak ada penyelesaian di tingkat desa,” ungkapnya lagi.

Sementara itu Trisno alias Muslim menambahkan, bahwa pada malam rapat itu sebelumnya dia dijemput oleh kepala dusun, sesampainya di meunasah desa, warga yang hadir langsung meneriaki dirinya dan bahkan mengancam akan membakar rumah.

“Tidak jelas isi rapat apa, tiba-tiba saya diteriaki oleh orang-orang, mau diusir dan rumah saya akan dibakar. Setelah itu saya dan keluarga merasa diteror,” ucapnya Muslim.

Ia mengaku sudah tinggal selama 5 tahun di Seumirah. Asli orang Maluku, sempat tinggal di Medan dan akhirnya menikah dengan wanita asal Seumirah. Saat ini ia menghuni rumah yang dibuat oleh mertuanya.

Iklan Bank Aceh Idul Adha 1442

Komentar

Loading...