MPTT Peringati Haul Abuya Syekh Muhammad Muda Wali Al-Khalidy

MPTT Peringati Haul Abuya Syekh Muhammad Muda Wali Al-Khalidy

TAPAKTUAN, ANTEROACEH.com – Majelis Pengkajian Tauhid Tasawwuf – Indonesia (MPTT-I) memperingati Haul Abuya Syekh H. Muhammad Muda Wali Al-Khalidy Jum’at (21/5/2021) malam. Acara dipusatkan di pondok pesantren Darul Ihsan di gampomg Pawoh, Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan. 

Haul adalah peringatan kematian seseorang yang biasanya diadakan setahun sekali dengan tujuan utama untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal beserta ibadah yang dilakukannya dapat diterima oleh Allah SWT. 

Acara itu dihadir oleh Direktur Penerangan Agama Islam Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Dr. H. Juraidi, MA, wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Dr. Ali M Abdillah.

Kemudian Wakil Walikota Subulussalam, Salmaza yang juga Gubernur Tauhid Tasawwuf Subulussalam, Anggota DPRA Azhar Abdurrahman yang juga Gubernur Tauhid Tasawwuf Aceh, anggota DPRK Aceh Selatan Lisa Elfirasman sekaligus Ketua MPTT-I Kabupaten Aceh Selatan dan ratusan Jemaah dari berbagai daerah.

Wakil Sekretaris Komisi Pengajian dan Penelitian MUI, Ali M Abdillah dalam sambutannya menyampaikan perkembangan tasawwuf atau tareqat dari masa ke masa terus berkembang bukan hanya di Nusantara namun juga di berbagai belahan dunia, terutama tarekat Naqsyabandiyah

Ia menyebut pada abda ke 16, 17 dan 18 masehi dakwah Islam di Nusantara dimotori oleh mursyid-mursyid tareqat dengan mengembangkan paham kesufian, tareqat dan hakekat tapi tidak meninggalkan syari’at.

“Meredupnya ajaran tareqat Sufi di Nusantara dimuali sejak Belanda mengirimkan Dr. Christian Snouck Hurgronje ke Indonesia, Dr. Christia Snouck sebelumnya sudah mendalami ilmu agama Islam di Timur Tengah yang kemudian dikirim ke Aceh dengan tujuan memecah belah persatuan ummat Islam pada masa itu dengan cara mengangkat mufti di Kerajaan Aceh dan menghasut sebagian ulama Aceh untuk mengeluarkan fatwa sesat kepada ulama-ulama tarekat atau sufi,”  kata Ali M Abdillah yang juga salah satu pengurus PB Nahdatul Ulama (NU).

Ali mengatakan dampaknya pada abad ke 20 sebagian besar ummat Islam takut untuk bertareqat dan jarang muncul tokoh – tokoh ulama yang mengajarkan tareqat dan hakekat pada masyarakat.

“Namun, saya merasa optimis di abad ke-21 ini, ajaran tareqat dan hakekat akan kembali bangkit di Nusantara, terlebih sejak kehadiran MPTT yang di gagas oleh Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidy,” katanya optimis.

Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Juraidi mengatakan ummat Islam harus menjadi ummat Islam yang moderat, berwawasan dan berpengetahuan yang luas, agar tidak mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang yang berbeda paham dengannya.

Kementerian Agama, kata Juraidi sangat mengharapkan ummat Islam khususnya di Aceh agar saling menghormati.  

“Jika ada perbedaan paham jangan dipertentangkan, apalagi sampai melakukan tindakan yang arogan,” kata Juraidi.

Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidy dalam kesempatan itu, menyebutkan bahwa ia  telah berusaha memperjuangkan pemahaman tauhid tasawwuf dan kesufian sejak 30 tahun yang lalu.

Sebab menurut Abuya, jika tidak mengamalkan paham tasawwuf dan kesufian, dikhawatirkan hidup dan amal akan  sia-sia.

Abuya juga menyebutkan dalam mensyi’arkan paham kesufian selama ini khususnya di Aceh, banyak hambatan dan penolakan dari ulama-ulama Aceh.

Namun ia meyakini ajaran ini merupakan ajaran yang haq, sehingga ia tidak berhenti mensyi’arkan paham kesufian hingga mendapatkan dukungan dari para ulama Nusantara dan ulama-ulama di belahan dunia lainnya.

Komentar

Loading...