Update COVID-19 Aceh

0 ODP
0 PDP
0 Positif
0 Meninggal
0 Sembuh

-

Sumber: -

Miris, Nelayan Miskin Ini Butuh Bantuan, karena  Menanggung Utang Setelah  Selamatkan Rohingya di Tengah Laut

Miris, Nelayan Miskin Ini Butuh Bantuan, karena  Menanggung Utang Setelah  Selamatkan Rohingya di Tengah Laut

LHOKSUKON, ANTEROACEH.com - Kondisi terkini 99 etnis Rohingya yang diselamatkan nelayan pada 24 Juni lalu semakin membaik, bahkan mereka telah dipindahkan ke shelter BLK Aceh Utara di Gampong Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua pada Jumat lalu. Setelah beberapa hari berada di penampungan sementara di bekas Kantor Imigrasi setempat.

Namun baru-baru ini muncul kabar sejumlah nelayan  yang pertama kali menyelamatkan Rohingya di tengah laut harus menanggung beban utang hingga jutaan rupiah. Mirisnya lagi, hingga kini mereka belum bisa melaut karena kapal motor milik mereka masih disita pihak kepolisian.

Faisal, nelayan asal Sampoinit, Kecamatan Baktia Barat, Aceh Utara telah mengutarakn persoalan itu ke beberapa pihak, namun hingga kini belum  ada solusi. Faisal dan rekan-rekan juga mengadukan persoalan perkara itu ke pihak Lembaga Peduli Dhuafa Indonesia (LPDI) Aceh Utara

“Dia (Faisal) adalah nelayan pertama kali yang selamatkan Rohingya di tengah laut, ia korbankan  logistik melaut selama tiga hari untuk membantu agar 99 Rohingya  bisa makan dan minum,” jelas Musfendi ketua LPDI Aceh Utara, Minggu (12/7/2020).

Menurutnya, Faisal dan beberapa nelayan yang ikut menolong Rohingya adalah nelayan miskin yang sangat membutuhkan uluran tangan. Pendapatan dan kebutuhan hidup bergantung dari usaha mencari ikan di laut.

Setiap hendak meluat, sambungnya, Faisal harus berutang logistik bahan makanan, BBM dan air minum dan pernak-pernik lainnya ke kios. Utang itu akan dilunasi setelah mereka kembali ke darat beberapa hari kemudian.

“Karena logistiknya sudah dibagikan ke Rohingya , dan BBM juga habis untuk membantu imigran itu, Faisal tidak bisa melaut dan harus menanggung utang besar. Awalnya ia mengira akan dibantu oleh para pihak, namun sampai saat ini mereka seperti dilupakan,” tambah Musfendi.

Parahnya lagi sejak kejadian itu,  Faisal tidak bisa  melaut karena kapal motor sewaan yang dipakainya telah disita pihak kepolisian. Seorang anak Faisal batal masuk ke pesantren tahun ajaran baru ini, karena belum ada biaya.

LPDI saat ini sedang berupaya mengumpulkan donasi untuk mengurangi beban Faisal. Namun sampai hari ini donasi belum masuk. Selain itu LPDI juga sudah menyerahkan sebentuk piagam penghargaan kepada Faisal, atas usahanya menyelematkan 99 Imigran Rohingya yang nyaris tenggelam ditengah laut pada Rabu pagi 23 Juni 2020 lalu.

“Semoga para pihak terutama pemerintah, NGO yang menangani Rohingya di Lhokseumawe saat ini terketuk hati untuk membantu Faisal dan rekan-rekannya. Tanpa Faisal, mungkin Rohingya itu tidak selamat. Berkat dia  Aceh  dikenal bangsa paling menusiawi dan dipuji dunia,” pungkas Musfendi.

Bagi yang ingin membantu Faisal cs, masyarakat dermawan bisa menyalurkan bantuan ke Bank BNI Syariah 453315197. An. Lembaga Peduli Dhuafa . Konfirmasi Pengiriman 085382528813.

Komentar

Loading...