Mewariskan Dagang

Mewariskan Dagang
Foto: Istimewa

Oleh: Alja Yusnadi

Ada satu hal yang saya hampir lupa: mengisi “ceramah” di AY Corner. Upss, maksudnya menulis di rubrik yang sedang Anda baca ini. Saya diberikan ruang khsusus oleh Pimpinan Umum anteroaceh.com untuk menulis apa saja yang saya suka, yang saya bisa, yang saya ingat, asal tidak bertentangan dengan cita-rasa dapur redaksi. Rubrik itu saya upayakan dapat dicicipi setiap hari Minggu.

Selama bulan puasa saya istirahat menulis, saya akan fokus ibadah hehehe. Bukan itu, sebab pokonya karena “mood” menulis lagi turun, lagi pula, di bulan yang penuh rahmat itu saya menjalankan misi khusus: membantu istri berdagang.

Di hari biasa, istri membuka gerai di toko depan rumah. Menjelang lebaran, menyasar keramaian. Berhubung masih di bawah ancaman Korona, kamipun masih memakai masker dan sebisa mungkin menjaga jarak dan cuci tangan. 

Dan, hal itu pula yang menjadi inspirasi saya untuk menulis. Berdagang itu rupanya bukan hanya tentang beli sembilan jual sepuluh, atau modal seratus jual seratus lima puluh.

Dagang itu sesuatu yang komplek sodara-sodara. Ada emosi di situ. Ada nyali. Ada kesabaran. Ada keuletan. Ada koneksi. Ada komunikasi. Ada Konsistensi. Dan entah ada apalagi, silahkan tambah sendiri.

Kecuali, Anda bedagang di Mall, Supermarket, yang harganya sudah di label dan tidak boleh ditawar. Anda pun hanya perlu menggaji karyawan untuk duduk di kasir, berdiri di depan pintu dengan stelan senyuman lima centimeter kanan-lima centimeter kiri dan menyapa setiap orang yang lewat.

Hal yang sangat berbeda jika Anda bedagang di pasar rakyat. Jangan kaget ketika barang dagangan Anda akan ditawar jauh di bawah harga modal. Stop! Anda tidak boleh emosi. Tidak boleh marah.

Belum lagi, pembeli mengomentari dagangan Anda tidak fashionable. Tidak sesuai model lah, sudah ketinggalan jaman lah. Padahal, dia hanya berharap harga sesuai yang dia tawar. Disitulah sebagai pedagang, Anda harus tampil sebagai komunikator yang baik. Saya yakin, seorang Efendi Ghazali yang pakar komunikasi itu akan kewalahan jika dilepas ke pasar.

Tidak semua orang bisa bedagang. Mungkin juga tidak semua orang mau bedagang. Sebagai pedagang Anda juga harus punya nyali. Agar dagangan Anda laku: semakin banyak orang yang singgah, semakin besar pula kemungkinan dagangan Anda laku--Kecuali Anda sudah memiliki market khusus.

Dimana nyali itu dibutuhkan? Bayangkan ya, bagaimana jika saat bedagang Anda berjumpa dengan kolega? Itulah mental yang baru memulai dagang. Saya selalu was-was jika mahasiswa atau teman melihat saya bedagang.

Itu awalnya, setelah itu, saya mulai menikmatinya, apalagi kalau lagi untung banyak heheehe. Nyali berikutnya ketika menyapa pembeli. Anda harus meruntuhkan segala keegoan, Anda harus turun, lebih rendah dari pembeli. Itulah makanya, ketika Anda sedang jalan-jalan di Mall, pasar, jangan jengkel jika disapa penjual.

Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah sabar dan ulet. Kesabaran revolusioner itu, rupanya, bukan hanya perwujudan dalam perjuangan politik tapi juga dalam bedagang. Apalagi, kalau dagangan sedang sepi, petuah Bung Karno itu terngiang-ngiang di telinga. Oiya, Sepi itu ada dua: benar-benar sepi dan sepi di tengah keramaian.

Sepi yang pertama adalah sepi mutlak, sedikit sekali yang menghampiri lapak dagangan Anda. Sepi yang kedua, banyak yang singgah, tapi sedikit yang beli. Bisa Anda bayangkan bagaimana perasaan pedagang di saat situasi seperti ini? margin yang diimpikanpun melayang. Mau sepi yang pertama maupun sepi yang kedua, sama saja, sama-sama menjengkelkan, mungkin lebih jengkel dari jomblo di malam mingu, sepi ciuyyyy.

Modal lain yang harus ada adalah konsisten. Sepertinya, konsistensi ini menjadi barang mahal dimanapun, termasuk di dagang. Jangan, satu kali Anda bedagang hasil alam, tahun depan sudah bedagang pakaian.

Saya memiliki contoh pedagang yang konsisten itu. Salah satu orang terkenal dan terkaya di kabupaten saya yang setiap pemilu hampir tidak ada calon kepala daerah yang tidak berurusan dengannya. Siapa lagi kalau bukan Haji Ramli.

Pak Haji ini adalah contoh pedagang yang konsisten. Mau harga mahal maupun harga murah, dia selalu bedagang minyak nilam. Bahkan, ketika dia menjadi anggota DPRK, tetap bedagang, membuka lapak di pasar. Satu lagi, Haji juga, namanya Haji Maswaldi atau lebih dikenal dengan Haji Buyong. Kedua kawan saya ini adalah contoh baik soal konsistensi.

Ada lagi, teman lain yang baru saya kenal. Dia pedagang aksesoris. Dia sudah menjalani profesi itu hampir lima belas tahun. Sejak masih bujang. Suatu malam dia cerita, tidak akan menukar jenis dagangannya, dalam situasi apapun.

Konsistensi seperti ini yang sukar kita temukan. Apalagi dalam sutuasi pelik, seperti dagangan aksesoris yang marginnya tidak seperti dulu itu. Dalam usaha skala kecil, saya sering menemukan konsistensi itu dalam dagang orang China.

Rata-rata, mereka generasi kedua atau ketiga dalam menjalankan usahanya. Artinya, usaha itu dirintis oleh ayah atau kakek mereka. Jenis usaha itu bisa apa saja, mulai dari dagang spare part kendaraan, sampai jasa foto copy.

Biasanya, bagi awam kebanyakan, jika ada jenis usaha yang lebih menggiurkan secara prospek, dia akan membuka usaha baru. Walaupun, usaha baru itu pada akhirnya akan seperti usaha lamanya, akan ada masa jenuh, akan ada titik balik, akan ada masa lelah. Jadi, mulai sekarang, bagi yang belum memulai, sudah saatnya mendalami ilmu yang satu ini: Ilmu Dagang. Selamat hari raya puasa.

Komentar

Loading...