Mereka yang Terlupakan

Mereka yang Terlupakan
Ilustrasi (Foto: onedio.co)

Hayati (43), merupakan salah satu korban konflik Aceh yang sampai saat ini belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Kepada anteroaceh.com, perempuan paruh baya ini menceritakan bagaimana konflik telah merenggut nyawa suaminya.

Suaminya, Edi Wibowo hilang pada tahun 2001. Saat itu, Edi bersama  tiga rekannya pergi menarik uang karyawan PT. Dani Putra ke salah satu Bank di Kota Langsa.

Dalam perjalanan, Edi dicegat oleh orang tak dikenal. Sampai saat ini, jasad pria malang itu tak diketahui pusaranya. Hayati meyakini, suaminya telah menjadi salah satu korban konflik di Aceh.

Sejak saat itu, kehidupannya terombang-ambing. Pemerintah mengevakuasi Hayati beserta beberapa keluarga lainnya ke Sumatera Utara, untuk menghindari terjadi gelombang kekerasan berikutnya.

Apa yang dialami Hayati merupakan noda kecil dalam penanganan reintegrasi Aceh.

Sejak kesepakatan damai terjadi pada tahun 2005 silam, seharusnya tidak ada lagi korban konflik yang tidak mendapat perhatian pemerintah.

Hayati tidak sendiri. Masih banyak korban konflik yang belum mendapat bantuan pemerintah. Apalagi transmigran.

Disaat konflik berkecamuk, mereka diungsikan ke Provinsi tetangga. Mereka meninggalkan sepetak tanah dan rumah. Ada juga kebun atau hewan ternak.

Pada saat itu, pilihan utama adalah menyelamatkan nyawa. Disaat mereka kembali, beberapa harta benda sudah beralih tangan. Sedihnya, mereka tidak tercatat sebagai korban konflik yang mendapat bantuan.

Badan Reintegrasi Aceh (BRA) harus mendata ulang atau mengkaji ulang kebijakan. Siapa saja yang menjadi korban konflik harus mendapat perlakuan yang sama. Termasuk orang-orang seperti Hayati tadi.

Tentu, dia memiliki asa untuk menatap masa depan. Tidak muluk-muluk, suami yang telah pergi tak mungkin kembali. Paling tidak, ada sedikit bantuan dari Pemerintah untuk meringankan beban.

Komentar

Loading...