Menjajal Anjungan Tapak Tuan Tapa, Ternyata Tapaknya Ada Dua

Menjajal Anjungan Tapak Tuan Tapa, Ternyata Tapaknya Ada Dua
Anjungan Tapak Tuan Tapa. Foto: @anteroaceh.com

HAWA panas mentari hari itu, Rabu (10/3/2021) masih cukup terasa, padahal jam hias kayu jati berukuran besar yang berdiri tepat di samping mimbar masjid Istiqamah Tapaktuan sudah menunjukkan pukul 16.37 WIB.

Bersama salah seorang wartawan lokal Negeri Pala, saya memacu kendaraan menuju jalan merdeka, lurus ke arah kantor Dinas Perkim, kemudian tepat di depan gerbangnya berbelok ke kanan.

Tujuan kami adalah ke objek daya tarik wisata (ODTW) Tapak Tuan Tapa. Disana jalannya masih bebatuan, belum beraspal bersisian dengan gunung dan sedikit menanjak. Tidak jauh, hanya sekitar 200 meter kami tiba di tempat parkir.

Secara geografis objek wisata legenda yang fenomenal ini berada kaki gunung Lampu, kelurahan Pasar, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Terletak di tengah kota, kisaran 1,5 kilometer dari masjid Agung Tapaktuan atau kurang dari 2 kilometer dari kantor Bupati.

Saat turun dari kendaraan, tepat di sebelah kanan berderet tiga toko kecil. Salah satunya terpajang pelaminan khas Aceh Selatan atau palamin khas suku aneuk Jamee. Bagi yang mau, pakaian adat itu boleh dikenakan untuk berfoto.

Sementara di sisi kiri terdapat sebuah mushalla lengkap dengan toiletnya, dua untuk perempuan dan dua untuk pengunjung laki-laki. Tak jauh dari situ, megahadap ke laut lepas berdiri sebuah tugu icon tapak tuan Tapa setinggi 2,5 meter, disetiap sisi tugu tertulis sejarah asal usul tapak tuan tapa.

Belum shahih rasanya jika perjalanan hanya sampai disitu. Kemudian kami berencana naik ke puncak gunung Lampu. Disana terdapat anjungan Tuan Tapa yang baru saja selesai dibangun.

Kabarnya dari lokasi itu kita dapat menikmati indahnya pemandangan laut lepas dan Kota Tapaktuan, bahkan dari ketinggian itu juga bisa menyaksikan bekas tapak Tuan Tapa.

Sampai di pintu masuk tangga, kami diarahkan bertemu pengelola. Namanya Andris K. Ia sudah sejak 2013 dipercaya sebagai pengelola disana.

Dari cerita Andris, anak tangga menuju puncak gunung Lampu yang baru saja selesai dibangun oleh Dinas Pariwisata tahun 2020 itu berjumlah 123. Sedangkan jarak dari tempat parkir mobil ke titik tapak tuan Tapa berkisar 110 meter.

Tapak Tuan Tapa diambil dari atas. Foto: instagram @potret.aceh_

Dari pria paruh baya itu kami mendapat banyak informasi terkait keberadaan destinasi wisata tapak Tuan Tapa. Bahkan ada satu peryantaannya yang mengejutkan, bahwa di lokasi tapak, terdapat dua bekas telapak kaki Tuan Tapa.

“Ya ada dua tapak tuan Tapa,” Andris mempertegas seakan ia tau kebingungan kami saat mendengar pernyataannya itu.

Menurutnya tapak Tuan Tapa yang asli berukuran 2 meter sedangkan tapak satunya lagi merupakan replika yang dibangun oleh Pemkab Aceh Selatan tahun 2005. Ukurannya sekitar 6 meter.

“Kalau yang asli itu tidak terlalu jelas, letaknya bersebalah hanya terapaut satu meter dari yang asli. Kalau yang asli ini agak susah terlihat karena seperti kolam berisi air dengan kedalaman sekitar 1 meter,” kata Andris.

Ia mengatakan jika dilihat dari atas anjungan tapak Tuan Tapa tampak dua bekas kaki itu bersisian. Namun replikanya terlihat lebih jelas, sebab ukurannya lebih besar juga bentuknya mencolok.

Matahari semakin condong ke Barat, jam tangan menunjukkan pukul 17.23 WIB. Itu artinya tak lebih dari 37 menit lagi, tepat pukul 18.00 WIB jalan menuju ke lokasi tapak akan ditutup, begitu aturannya.

tangga menujuk puncak gunung Lampu atau anjungan Tapak Tuan Tapa

Untuk menjawab rasa penasaran, kami mencoba menapaki satu persatu 123 anak tangga. Benar saja yang disampaikan Andris sebelumnya, bahwa itu tak mudah. Baru sekitar 25 anak tangga kami harus berhenti mengambil nafas.

Untuk sampai ke puncak, setidaknya kami harus berhenti dua kali untuk istirahat. Tangganya agak curam, pagar pengaman tangga terbuat dari tali kapal. Terlihat tidak begitu aman.

Namun setiba di puncak lelah itu terbayar lunas. Kami disuguhi indahnya pemandangan Samudera Hindia yang terhampar luas. Hembusan angin yang cukup kencang mampu melepas penatnya pendakian.

Saat itu matahari sudah mulai menguning, ada beberapa view indah disana selain bisa menyaksikan tapak Tuan Tapa dari ketinggian 50 meter. Jika agak memutar kearah kiri kita melihat betapa indahnya Kota Tapaktuan.

Oh iya, selama pandemi covid-19 disana menerapkan protokol kesehatan yang keren ditangga menuju pintu masuk telah disediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabun, selain itu petugas penjaga pintu masuk juga selalu mengingatkan pengunjung untuk menggunakan masker.

Akomodasi
Wisata tapak tuan Tapa juga sangat ramah kantong karena untuk naik menuju lokasi tapak Tuan Tapa tidak dipungut biaya alias gratis namun pengunjung boleh menyumbang seiklasnya untuk biaya kebersihan lokasi.

Sedangkan parkir dikenakan tarif Rp. 2.000 untuk sepeda motor dan Rp. 5.000 untuk mobil, biaya parkir yang kalian bayarkan juga resmi karena ada tiket parkirnya juga.

Sebagai informasi tambahan jika berkunjung kesana, tak jauh dari lokasi objek wisata tapak Tuan Tapa juga terdapat makam Tuan Tapa.

Dari keterangan Andris, jika ditarik garis lurus,  jaraknya sekitar 1 kilometer, makam itu masih berada satu kelurahan dengan lokasi tapak atau sekirtar 500 meter dari masjid Agung Tapaktuan.

Komentar

Loading...