Menjaga Optimisme

Menjaga Optimisme

Oleh: Alja Yusnadi

PANDEMI ini sudah lebih setahun, belum ada tanda-tanda akan berakhir. Tahun ini, penyebarannya justru meningkat. Situasi ini membuat pemerintah harus berpikir empat belas keliling. Pertumbuhan ekonomi minus. Target pertumbuhan ekonomi tahunan diturunkan, dari 7 persen menjadi 3-4,5 persen, itupun kalau tercapai.

Kebijakan juga sudah variatif, untuk membatasi ruang gerak masyarakat, pemerintah sudah memberlakukan mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam berbagai tingkatan.

Untuk menjaga peredaran uang di tengah masyarakat, pemerintah sudah memberikan berbagai bantuan, mulai dari Bantuan Sembako, Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, Listrik Gratis.

Pemerintah juga sudah memberikan “subsidi” kepada pekerja melalui Kartu Prakerja, Subsidi gaji karyawan, BLT Usaha mikro kecil, silakan lanjutkan, jika ada program yang belum saya tulis.

Secara mikro, semua upaya itu, untuk menjaga keseimbangan ekonomi, agar tidak terjadi inflasi dan dampak ekonomi lainnya. Kebijakan fiskal juga berubah. Yang paling pusing itu Sri Mulyani, Menteri Keuangan. Berbagai upaya untuk menjaga pendapatan negara sudah dilakukannya, terutama soal pajak. Masih belum optimal.

Mulyani benar-benar diuji oleh pandemi ini. Kemampuan Fiskal dan Moneternya tidak diragukan. Dialah Menteri Keuangan yang bekerja di empat Kabinet, Dua Presiden.

Di bidang kesehatan, pemerintah juga sudah melengkapi fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, pengadaan vaksin, dan seterusnya. Ternyata, berbagai upaya itu belum mampu mengurangi angka penyebaran Korona.
***

Di kota padat penduduk seperti Jakarta, situasi seperti sekarang sangat mencemaskan, apalagi bagi rakyat kecil. Satu sisi, harus berada di rumah untuk menghindari terjangkit virus, di sisi lain harus bekerja.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca postingan Rina Purwaningsih yang menceritakan salah satu kerabatnya baru saja meninggal, positif Korona.

Almarhum, bekerja sebagai Satuan Pengamanan di salah satu penyedia makanan cepat saji.  Dia sempat mengeluh sakit di sekujur tubuh, batuk sampai mengeluarkan darah.

Saat itu tubuhnya tergeletak di lantai. Semula dikira pingsan. Lalu, dibawa ke Rumah Sakit, penuh. Akhirnya dibawa ke puskesmas untuk meminta pertolongan pertama. Tak dinyana, rupanya pasien dinyatakan sudah meninggal sebelum sampai ke puskesmas.  

Rina adalah teman satu kelas saya di Kursus Menulis Online. Cerita Rina itu di daerah padat penduduk, daerah urban.

Sejenak, saya termenung. Menghayati apa yang ditulis Rina. Pilu. Rasanya, ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Cerita itu berlanjut, Almarhum meninggalkan satu istri. Tidak bekerja. Empat anak, masih kecil, yang sulung masih SMK, yang bungsu belum sekolah.

Harusnya, konstitusi menjamin, akan dipelihara oleh negara. Di kondisi normal saja, negara terlihat sibuk, tidak sempat mengurus rakyatnya yang terlantar. Apalagi di masa pandemi.

Ini hanya satu cerita. Masih banyak kasus serupa yang lebih menyayat. Itulah potret buram yang dihadapi masyarakat. Rumah Sakit sudah tidak sanggup menampung lagi, penuh, tenaga kesehatan sudah mulai kewalahan. Orang berbondong-bondong antri gas. 

Situasi ini juga disampaikan Remol, teman saya yang sedang merantau di Jakarta. Dia pesimis dengan situasi yang ada. “Saya sudah pesimis, bang,” kata Remol dalam sebuah percakapan dengan saya. Dia bukan pesimis dengan dirinya, bukan pula dengan kehidupannya. Dia pesimis melihat cara pemerintah menangani Korona, khususnya Jakarta.

Saya kaget dengan jawaban anak muda itu. Bukan apa-apa, saya mengenal dia ketika mahasiswa. Dulu, dia memiliki semangat juang yang tinggi. Beberapa kali memancing saya untuk melaksanakan aksi, baik diskusi maupun demonstrasi. Dia juga pernah memimpin lembaga kemahasiswaan.

Pernyataan Remol menohok pemikiran saya. Apalagi, dia menantang saya dengan satu pertanyaan, “coba sebutkan alasan kita untuk optimis?”

Dari sekian banyak bahaya, salah satunya adalah pesimisme rakyat terhadap pemerintah. Jika sikap apatis ini berlanjut, masif, bisa-bisa negara guncang bukan karena Korona, tapi karena ketidak percayaan rakyat kepada pemerintahnya.

Ini yang harus diwaspadai. Pemerintah harus menjaga harapan rakyatnya. Caranya, tidak lain dan tidak bukan, itulah kebijakan yang terarah dan terukur. Memang, penanganan pandemi ini tidak menjadi tugas Kementrian Kesehatan saja. Ini adalah kerja gotong-royong. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, juga kita, sebagai masyarakat. Tentu, dengan wilayah yang berbeda.

Setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan Pemerintah. Pertama, adanya target kebijakan penanganan pandemi. Dijelaskan kepada publik. Kalaupun harus menunggu, jelas barangnya. Jangan biarkan masyarakat menunggu kematian, tanpa pertolongan negara.

Kedua, informasi yang sampai ke masyarakat jangan banyak sekali jumlahnya. Omongan pejabat harus bisa dipertanggungjawabkan. Jangan hari ini ngomong A, besok ngomong B. Lihatlah yang dipraktekkan Opung Luhut itu.

Itu tugas negara. Kita, sebagai populasi yang bisa kapan saja dihampiri oleh Korona harus mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, jangan ngeyel. Politisi, baik yang pro pemerintah apalagi yang kontra, jangan menjadikan isu pandemi untuk gontok-gontokan. Berikan masukan yang konsturuktif kepada pemerintah.

Jika merujuk kepada negara-negara maju yang angka penyebarannya sudah menurun, katakanlah seperti Amerika, China, dan Uni Eropa, upaya yang paling jelas mereka lakukan adalah mempercepat proses vaksinasi, hingga 70 persen.

Bagaimana dengan Indonesia, angka vaksinasi kita masih di bawah 30 persen. Masih ada 40 persen lagi dari setidaknya 181 Juta orang yang harus di vaksin. Atau, kalau ada langkah lain, sila disampaikan kepada publik. Kalau tidak ada, fokuslah pada vaksinasi itu. Sembari, berikan tugas kepada ahli virus, ahli obat-obatan, ahli kesehatan yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi itu untuk meneliti Vaksin Indonesia.

Kerahkan segala upaya untuk mencapai angka 70 persen itu, untuk mencapai kekebalan dalam waktu yang sama. Buat masyarakat riang-gembira, kalau perlu kasih hadiah. 

Masih banyak alasan untuk kita tetap optimis. Salah satunya seperti yang disampaikan Guru saya, kita harus melihat krisis ini dari sudut pandang yang berbeda. Jangan melulu melihat dari sisi musibah, bencana dan seterusnya. Ada yang usahanya jatuh, iya. Ada yang di PHK, benar. Ada yang kesulitan ekonomi, betul. Namun, lihatlah di seberang sana, angka orang kaya baru juga bertambah. Tangkaplah energi positif itu.

Komentar

Loading...