Menikmati Ekowisata Manggrove di Aceh Jaya

Menikmati Ekowisata Manggrove di Aceh Jaya
Ekowisata Mangrove di Aceh Jaya. Foto: Uci Setiawan/anteroaceh.com

CALANG, ANTEROACEH.com - Jika kamu sedang melakukan perjalanan di lintas Barat Selatan Aceh, kamu akan mendapati banyak keindahan alam yang terbentang disepanjang perjalanan. Salahsatunya di wilayah Kabupaten Aceh Jaya, jika kamu kesana kami merekomendasikan satu tempat bagus untuk dikunjungi, tempat itu kawasan Ekowisata Manggrove yang terletak di Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti.

Jarak dari Kota Banda Aceh ke kawasan tersebut sekitar 143 kilometer atau memakan waktu tempuh sekitar 3 sampai 4 jam jika jalan santai. Lokasinya hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari kota Calang atau  8-10 menit jarak tempuh.

Tiba di lokasi itu nantinya kamu akan melihat rambu lalu lintas pembatas jalan (Road Barier) plastik berwarna merah yang diletakkan dari kedua sisi jalan. Wisatawan dapat langsung berbelok ke kiri jika datang dari arah Banda Aceh dan memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan.

Setelah memarkirkan kendaraaan, kita tinggal berjalan beberapa langkah ke depan dan menuruni tiga anak tangga yang terletak tepat di bawah gapura bertuliskan 'Sayeung Aceh Jaya Manggrove Park'. 

Saat masuk ke kawasan ekowisata manggrove, dari sisi kanan terlihat bangunan kayu dengan beberapa ruangan disana terdapat beberapa orang penjaga yang siap sedia menyambut kedatangan wisatawan.

Pengunjung akan diberikan tiket masuk berupa kertas kecil seharga Rp. 5 ribu per orang. Kemudian di sana juga tersedia sebuah meja yang diatasnya tertata sejumlah topi pantai bermacam model dan juga payung yang disewakan seharga Rp 5 ribu untuk dipakai seharian di kawasan tersebut. 

Uniknya lagi, pada salah satu bangunan kayu di sana terdapat ruangan perpustakaan baca yang telah diisi dengan ratusan buku.

Sebagian buku sengaja diletakkan di atas meja untuk menarik pengunjung membacanya. Buku-buku tersebut diperoleh dari berbagai sumbangan. Pihak pengelola juga akan menerima dengan senang hati jika ada wisatawan yang ingin ikut menyumbangkan buku ke sana untuk menambah koleksi buku mereka.

Foto: Uci Setiawan

Setelah membeli tiket, pengunjung akan mulai menyusuri jembatan kayu atau tracking kayu yang di cat dengan tiga warna yaitu merah, hijau dan kuning. Pemandangan manggrove kiri kanan mulai mendominasi dengan ketinggian pohon bervariasi diperkirakan mencapai belasan meter. 

Jika kita datang disaat matahari terik, ketika pertama menginjakkan kaki menyusuri manggrove suasana akan jauh berbalik menjadi sejuk dan rimbun.

Apalagi letak kawasan ekowisata ini hanya sekitar beberapa ratus meter dari pinggir pantai. Bisa dibayangkan sendiri angin pantai rasanya seperti apa.

Terik cahaya matahari hanya beberapa spot yang berhasil menerobos rimbunnya dedaunan pohon maggrove. Walaupun jika kita mendongak ke atas akan tetap sedikit menyilaukan. 

Pada tracking pertama kita akan menemukan sebuah gazebo dengan tulisan 'Rhizopora Apiculata'.  Sebuah nama dari jenis pohon maggrove yang ditanam di kawasan tersebut, disana juga tersedia meja kayu dengan bangku panjang yang juga terbuat dari kayu saling berhadapan.

Saat berkunjung kesana Uci Setiawan jurnalis anteroaceh.com disambut oleh seorang pengelola Ekowisata Manggrove, Karilman. Ia mulai menceritakan tentang ekowisata itu. 

Menurut Karilman Ekowisata Manggrove ini merupakan salah satu tempat wisata baru di kawasan tersebut yang diresmikan pada 13 Januari 2021 lalu oleh Bupati Aceh Jaya, T. Irfan TB.

"Dari setelah peresmian sampai dengan saat ini, kita sudah dikunjungi sebanyak 6.000 pengunjung. Kita juga sudah terima 38 paket untuk photo pra wedding," ucap Karilman, Kamis (8/4/2021).

Dikatakan Karilman, wisatawan datang dari berbagai wilayah di Aceh, bahkan ada yang dari Sumatera Utara. 

Masih menurutnya, kebanyakan wisatawan selama ini datang dari Aceh Barat dan Nagan Raya.

Kemudian, lanjutnya luas keseluruhan Ekowisata Manggrove itu 300 hektare namun untuk pembangunan track saat ini baru dilakukan pihaknya sepanjang 130 meter.

Lalu saat Uci kembali menyusuri track kedepan, terlihat beberapa bangku yang sengaja disediakan pengelola untuk pengunjung yang mungkin lelah berjalan. Ada berbagai spot bagus untuk berswafoto disana.

Foto: Uci Setiawan

Ketika tiba di gazebo kedua bernama 'Rhizopora Stylosa', terik matahari kembali menyengat karena pohon manggore hanya tertanam dibeberapa sisi saja. Apalagi saat itu jam menunjukkan pukul 13.45 WIB.

Menurut Karilman pada gazebo kedua ini nantinya akan dibangun kantin maggrove dan akan disediakan beberapa makanan. Namun, saat ini masih hanya terdapat beberapa bangku dan meja kayu serta seorang penjaga yang siap sedia memandu jika dibutuhkan.

Foto: Uci Setiawan

Kemudian berbelok sedikit, tepatnya di ujung track, terdapat sebuah menara besi dengan tinggi sekitar 10 meter yang seolah menggoda pengunjung untuk dinaiki. Dari atas menara tersebut, kita bisa menyaksikan tanaman manggrove yang sebagian sudah tumbuh besar dan sebagian lagi baru saja ditanam. 

Selain pemandangan gunung dan air sungai berkilau karena cahaya matahari, angin sepoi-sepoi juga menyejukkan dan membuat siapa saja betah berlama-lama di sana.

Tapi, tetap saja kita harus bertukar dengan pengunjung lainnya yang juga ingin naik ke sana. Apalagi, maksimal pengunjung yang bisa naik bersamaan maksimal hanya 6 orang saja.

Saat naik maupun turun tangga, kita juga harus berhati-hati memperhatikan langkah kaki karena bentuknya yang kecil dan sempit.

Lalu tepat di bawah tower, terdapat sebuah dermaga boat dan spanduk berupa jalur boat yang akan dilalui pengunjung jika ingin menaikinya. Dikatakan Karilman, selain bisa menikmati track, pengunjung juga bisa menaiki boat wisata untuk diajak berkeliling seluruh ekowisata manggove.

Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 15 ribu saja dan boat akan berangkat dengan maksimal 10 penumpang. Tersedia dua boat disana yang siap beroperasi kapan saja. Ternyata, kawasan ekowisata ini juga dekat dengan lokasi penangkaran buaya, loh.

"Iya kalau buaya memang banyak di sini. Tapi, alhamdulillah tidak menganggu ketika wisatawan keliling memakai boat," tambahnya.

Menariknya lagi, bagi pengunjung yang punya hobi memancing, di kawasan ekowisata ini juga menyediakan paket khusus mancing seharian sebesar Rp. 300 ribu/boat. Dan akan ditemani seharian menyusuri sungai manggrove bahkan juga bisa dibawa ke laut, sesuai permintaan.

Jika pengunjung ingin sholat, tak jauh dari lokasi wisata juga terdapat masjid, namun jika hanya ingin ke kamar mandi disana tersedia satu unit kamar mandi.  Dan untuk kuliner sendiri, sementara waktu pihak pengelola mengusulkan untuk mampir di beberapa pondok yang terletak di sebrang lokasi wisata.

Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai fasilitas dan pekerja akan ditingkatkan agar membuat pengunjung yang sudah pernah datang dapat kembali lagi menikmati setiap perubahan terbarunya.

"Nantinya kita juga berencana akan menambahkan beberapa fasilitas dan pekerja perlahan lahan agar dapat kembali menarik pengunjung yang penasaran," ucap Karilman.

Selain tempat ekowisata, lokasi tersebut juga dijadikan sebagai tempat edukasi dan penelitian dari berbagai kalangan. Untuk yang mau berkunjung, silahkan datang setiap hari Senin-Minggu kecuali Jum'at dari pukul 09.00 WIB-18.00 WIB. Dan perlu dicatat, hari weekend adalah hari di mana pengunjung membludak di kawasan tersebut. Selamat berlibur. 

Komentar

Loading...