Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Mengupas Sejarah Pancasila, Aceh dan Bung Karno

Mengupas Sejarah Pancasila, Aceh dan Bung Karno

BANDA ACEH, ANTEROACEH.com - Soekarno, presiden Republik Indonesia pertama yang memiliki sejuta sejarah disepanjang tanah nusantara. Tak ayal Soekarno yang merupakan sang proklamator banyak menginspirasi para pemimpin pemimpin negara saat ini.

Ia memiliki peran besar dalam menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa yang kemudian dijadikan lambang negara.

Melalui tangan, menjadikan Pancasila sebuah perjanjian yang kuat dan agung sehingga mampu mengakomodir seluruh ragam perbedaan negara Indonesia, baik dari suku, budaya, dan agama. 

Dalam mengenang bulan Bung Karno, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan (DPD PDIP) Aceh menggelar diskusi webinar bertema "Aceh, Bung Karno, Islam dan Pancasila”, Rabu (17/6/2020) pukul 15.00 WIB. 

Dalam acara diskusi virtual menggunakan Zoom Cloud Meeting terbuka untuk umum itu, mengupas sejarah Bung Karno dalam menyatukan ragam perbedaan masyarakat bangsa Indonesia. 

Ketua PW NU Aceh Tgk H Faisal Ali menyebutkan, peran Bung Karno sangatlah besar, diantaranya mengenai Islam dan Pancasila.

Menurutnya, Pancasila merupakan titik temu yang mengakomodir semua perbedaan yang disusun melalui Panitia Sembilan dari berbagai golongan besar bersatu dalam tenda besar Pancasila. 

"Pancasila menjadi perjanjian yang yang kuat dan agung yang harus kita pertahankan. Pancasila juga sebagai konsensus nasional yang melindungi seluruh agama di Indonesia,” ungkap pria yang kerap disapa Lem Faisal itu. 

Lem Faisal menegaskan bahwa Pancasila sangat tidak bertentangan dengan Islam, bahkan pancasila merupakan dasar negara yang sangat mengandung unsur keislaman dalam kelima silanya.

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan dan juga Wakil Ketua MPR RI Dr. Ahmad Basarah mengatakan, dalam perumusan Pancasila, ada peran tokoh - tokoh Aceh didalamnya, dan kita sebagai bangsa besar tidak boleh melupakan hal itu. 

“Kita juga tidak boleh melupakan tokoh-tokoh Aceh seperti Teuku Haji Muhammad Hasan yang lahir di Pidie dan meninggal di Jakarta pada tahun 1997, sosok tersebut telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya yang sangat besar dalam merumuskan dan memperjuangankan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa," katanya. 

Ia juga menjelaskan bahwa perjuangan Soekarno sangatlah besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia, serta Bung Karno juga menunjukkan bukti-bukti bahwa dirinya adalah sosok yang agamais, tidak seperti banyak orang yang menuduhnya anti islam.

“Salah satu bukti  keislaman soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah pada saat persidangan PPKI, sebelum persidangan dimulai soekarno mengambil inisiatif untuk mendekati tokoh-tokoh islam agar bersedia mengubah tujuh kata dalam Piagam Djakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," katanya. 

Alasannya mengapa Bung Karno melakukan hal itu adalah demi persatuan Indonesia, sehingga para tokoh islam masa itu bersedia mengubah tujuh kata dalam Piagam Djakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Bukti bahwa Soekarno merupakan tokoh sejarah bangsa yang sangat berpengaruh besar dan juga mempunyai kaitan erat dengan bangsa Aceh itu diperkuat oleh pernyataan dan penjelasan Kepala Pusat Studi Pancasila IAIN Langsa Alkaf, M.Si. 

“Bung Karno merupakan tokoh pembangun solidaritas dalam mempersatukan bangsa, sama seperti halnya yang dilakukan tokoh Aceh Daud Bereu’eh pada masa itu," paparnya. 

Namun, karena ada kesepakatan yang tidak tercapai antara Bung Karno dan Aceh pada masa itu yang disebabkan oleh kontelasi politik nasional, Bung Karno menjadi kurang power full sebagai presiden. Sehingga dianggap Bung Karno ingkar janji terhadap Aceh pada waktu itu. 

"Ditambah dengan adanya upaya De Soekarnoisasi pada saat orde baru, sehingga sangat diperlukan dialog untuk menyelesaikan sekat-sekat ideologis," urai Ahmad Basarsah. 

Selanjutnya, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh Dr. Drs. Tgk. H. Gunawan Adnan, M.A, Ph.D mengulik rekam jejak Soekarno di Darussalam. 

Gunawan mengatakan bahwa masyarakat Aceh sangat perlu mengingat jasa Soekarno dalam membangun Sumber Daya Manusia di Aceh.

“Tugu Darussalam merupakan bukti nyata peninggalan soekarno dengan coretan tangan soekarno yang masih ada hingga sekarang," katanya 

Pada saat itu, tambahnya, Soekarno menyatakan bahwa Darusslam sebagai pusat pendidikan Daerah Aceh dimana berdiri tiga lembaga besar yaitu Universitas Syiah Kuala, IAIN (kini menjadi UIN Ar-Raniry), dan STAI Tgk Chik Pante Kulu sebagai modal pembangunan serta kemajuan Daerah Aceh Khususnya. 

“Selain itu, kita juga memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardida) yang diperingati setiap tanggal 2 September yang mengingatkan kita akan sosok tokoh visioner seperti Bug Karno,” ujarnya.|| ZULFITRA

Komentar

Loading...