Mawariskan Dagang 2: Mengapa China Pandai (Berdagang) dan Anda Tidak?

Mawariskan Dagang 2: Mengapa China Pandai (Berdagang) dan Anda Tidak?

Oleh: Alja Yusnadi 

Apa yang akan Anda wariskan kepada anak? Lazimnya itu yang diwariskan adalah harta. Ya, harta. Yang karenanya orang bertikai. Yang karenanya orang perperang.

Orang-orang tertentu, seperti Jack Ma dan Bill Gate akan mewariskan saham. Karena mereka memiliki banyak saham.

Ada lagi: ilmu. Ini investasi masa depan. Harta—termasuk uang di dalamnya—bisa saja habis, dijual. Apalagi, kalau tidak bisa mengelolanya. Beda halnya dengan ilmu, dia tidak akan habis, bahkan akan terus berkembang.

Ilmupun ada banyak sekali. Kali ini, saya fokus kepada ilmu dagang. Dalam kondisi apapun, yang memiliki ilmu dagang pasti akan menemukan cara untuk keluar dari kemelut. Dalam konflik bersenjata sekalipun, orang-orang seperti ini masih bisa bertahan.

Sepertinya, walau kelihatan sepele, ilmu dagang ini tidak semua orang memahaminya. Selain faktor-faktor yang sudah saya sampaikan pada AY Corner edisi sebelumnya, satu lagi yang sangat dominan: faktor genetik.

Ini bukan hasil penelitian, tapi hasil pengamatan mata telanjang yang tidak metodologis, tidak saintifik, tidak ilmiah. Disclaimer semacam ini penting saya tulis, biar tidak bias.

Perhatikanlah, hampir di setiap sudut kota selalu ada pedagang keturunan China. Andai saja mereka berbaur dan kawin silang dengan penduduk lokal, kita sudah tidak bisa membedakan lagi. Sebegitu lamanya mereka sudah menetap.

Ibarat semut, di mana ada gula di situ ada dia. Begitu juga dengan pedagang China. Di mana daerah yang ekonominya hidup, di situ ada pedagang China. Mungkin juga sebaliknya, di mana ada pedagang China, di situ ekonomi hidup.

Itu dalam skala yang paling kecil sekali. Dalam skala besar sama saja. China sebagai sebuah negara sudah tampil sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dalam taraf tertentu sudah mengalahkan Amerika.

Mungkin, sesekali, kita harus bertanya: Menapa China pandai bedagang, mengapa Anda tidak? China itu nyaris mendagangkan semua hal. Mulai dari motor china, sampai beras China. Rasa-rasanya, China itu hampir memiliki semua teknologi.

Apa yang diproduksi oleh negara lain, dengan entengnya pula dapat ditiru oleh China. Barangkali, mereka memakai motto: ATM. Amati, Tiru, Modifikasi. Bahayanya, harganya jauh lebih rendah. Lihat saja yang paling mutakhir industri telepon genggam. Biar tulisan ini tidak dikira iklan, saya hindari menyebut merk.

Setelah China, ada lagi: Padang. Urang awak ini juga dikenal lihai bedagang. Tidak percaya? Cobalah main-main ke Pasar Tanah Abang. Serasa kita lagi di ranah minang. Keberadaan pedagang Minang ini juga sampai ke pelosok negri, terutama rumah makan minang.

Lebih ke sini lagi, ada pedagang Pidie. Saya punya pengalaman hidup berdampingan dengan pedagang Pidie, di Meulaboh. Mayoritas pedagang di sana berasal dari Pidie. Termasuk anak muda yang membuka toko sepatu di samping tempat tinggal saya, dan pengusaha swalayan terbesar di Meulaboh di depan tempat tinggal saya.

Mungkin, kalau di sensus, mayoritas pedagang di Jalan Nasional dan di Jalan Sisingamangaraja, Meulaboh adalah pedagang Pidie.

Di daerah saya, Aceh Selatan, ada satu lagi yang punya hobi dagang: Samadua. Secara (penggunaan) Bahasa, Samadua mirip-mirip dengan Bahasa Padang.

Saya masih ingat, pedagang pakaian di hari peukan banyak yang berbahasa minang dengan dialek yang berbeda. Pun sampai sekarang, di kota-kota kecamatan yang baru tumbuh, pasti ada pedagang Samadua. Begitulah, mereka pintar melihat peluang.

Menarik kesimpulan dagang itu soal genetik juga kurang tepat. Dua orang pedagang sukses yang saya sebut dalam tulisan sebelumnya, anak-anak mereka tidak ada yang bedagang.

Saya sendiri bukan anak pedagang. Ayah saya pekerjaan utamanya mengajar. Sampingannya menyuling minyak nilam dan minyak pala. Kadang-kadang menjualnya. Secara genetik, saya tidak mewarisi ilmu dagang. Kalau dalam sistem usaha agribisnis masuk ke dalam agroindustry.

Masih ada satu harapan lagi. Saya dapat mempelajarinya, memulainya. Walau tidak mudah. Saya dapat belajar dari istri. Dia mewarisi darah dagang dari ayahnya.

Walaupun sudah terlambat, akhirnya, saya sampai pada kesimpulan: Ilmu dagang itu penting. Penting sekali. Termasuk dalam membangun pertanian. Tidak boleh hanya fokus pada on farm nya saja atau agroproduksi.

Kita juga harus menguasai agromarketing. Bagaimana mengemas hasil pertanian agar sampai ke tangan konsumen. Ada lagi agroinput. Di sana ada bibit, ada pupuk, ada pestisida, dll. Ada lagi agroproduksi. Bagaimana mengolah hasil pertanian menjadi produk turunan.

Sebagian orang, lihai dalam produksi, sudah kewalahan dalam pemasaran. Ini yang harus kita perbaiki. Padahal, margin yang paling luwes itu kita dapat melalui perdagangan atau agromarketing itu.

Itu untuk sektor pertanian. Sama juga untuk non pertanian. Apalagi bagi usaha mikro, kecil dan usaha informal. Susah sekali benar-benar lepas dari sektor yang satu itu, pasti masuk ke dalam salah satu subsistem tadi.

Akhirnya, kita harus menyadari betapa pentingnya ilmu dagang itu. Sektor itu tidak terbebani dengan lapangan kerja yang disediakan perusahaan atau pemerintah. Jadi, jika Anda ingin mewariskan sesuatu, masukkanlah ilmu dagang ini dalam manifesnya.

Komentar

Loading...