Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Masjid Tuo Pulo Kambing, Wisata Religi di Aceh Selatan

Masjid Tuo Pulo Kambing, Wisata Religi di Aceh Selatan
Foto: Singgah ke Masjid

TAPAKTUAN, ANTEROACEH.com – Kabupaten  di  Aceh  yang  kaya  akan  peninggalan masa lalu, salah satunya adalah Aceh Selatan. Diantara peninggalan masa lalu yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan adalah masjid-masjid  kuno.

Masjid kuno di Aceh Selatan yang menyimpan  nilai-nilai  kesejarahan  sangat  berharga  salah satunya adalah masjid Nurul Huda, atau lebih dikenal dengan masjid Tuo Pulo Kambing. 

Terletak di Gampong Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, atau sekitar 36 kilometer dari Tapaktuan, Ibu Kota Aceh Selatan.

Keapikan dan keunikan sejarahnya, membuat masjid Tuo saat ini sudah masuk dalam salah satu benda cagar budaya sekaligus menjadi destinasi wisata religi di Aceh Selatan.

Dari berbagai literatur disebutkan, Masjid Tuo pertama sekali dibangun pada  masa  teuku  Kejruen Kluet, bertepatan dengan tanggal 28 Ramadan 1285 H/12 Januari 1869 M. Berdasarkan hitungan hijriah tersebut maka masjid ini sekarang telah berumur lebih kurang 151 tahun.

Kemudian masjid Tuo mulai ditunjuk kepengurusan serta imam masjidnya sejak tanggal 3 Rajab  1351  H/2  November  1932  M.  Imam pertamanya adalah Tengku Ali Basyah.

Secara  umum,  bangunan  fisik  Masjid  Tuo Pulo Kambing, sebagian besar bahan dasarnya adalah kayu.  Menurut  informasi  yang  ada  jenis  kayu yang  dipakai  adalah  kayu reusak (sejenis  kayu besi) atau kayu damar. 

Masjid ini memiliki arsitektur yang unik. Hal ini bisa dilihat dari sebuah kubah khas yang ditempatkan pada puncak atapnya. 

Pada bagian dasar masjid ini juga memiliki arsitektur yang sangat khas seperti masjid-masjid tua lainnya di Indonesia. Terutama pada bagian atap yang berbentuk limas bersusun tiga. Tetapi, di bagian atap paling atas masjid ini memiliki bentuk yang sedikit berbeda.

Masjid ini dibangun dengan tiga lantai. Pada bagian pondasinya dibangun dengan sangat kokoh, dindingnya terbuat dari kayu, dan pada bagian besi yang digunakan merupakan besi yang masih asli sejak masjid ini pertama kali dibangun.

Masjid ini memiliki empat soko guru seperti masjid-masjid tradisional Indonesia lain pada umumnya. Keempatnya memiliki diameter kurang lebih satu meter dengan ketinggian kurang lebih 15 meter, soko guru ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang menceritakan berbagai kisah-kisah sejarah kerajaan Islam Aceh.

Hal unik dari masjid ini, terdapat salah satu soko guru yang mengeluarkan air bening yang dingin sampai membasahi lantai masjid ini sejak masjid ini didirikan.

Namun, air yang keluar dari soko guru tersebut saat ini tidak sebanyak di masa lalu sejak bagian bawahnya disemen, dan bagian lantainya diubah menjadi keramik.

Komentar

Loading...