Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Makrifat Sepeda

Makrifat Sepeda
Karikatur Dahlan Iskan. Foto : iphincow.com

Oleh: Alja Yusnadi 

Masih soal sepeda. Anda kenal Dahlan Iskan? Ya, menteri BUMN diera presiden SBY, pengusaha media. Kali ini yang kita bicarakan adalah sepeda dan Dahlan Iskan.

Pria yang akrab disapa Abah itu baru-baru ini mendirikan Disway. Memacam media masa. Disway merupakan Akronim dari namanya: Dahlan Iskan, ditambah Way, jadilah: DI’s Way. Mungkin saja maksudnya jalan hidup Dahlan Iskan.

Ada dua model, pertama situs web disway.id. Situs ini berupa catatan harian Abah. Dia menulis apa saja di portal itu. Mulai dari perseteruan Donald Trump dengan Kim Jong Un sampai soal Risma keliling kampung. Sejauh ini, saya adalah pembaca setia catatan harian itu. Saya menikmatinya.

Kedua, versi cetak. Abah menamainya Harian Disway. Terbit perdana 4 Juli 2020. Ini menarik, di saat bisnis media cetak yang terancam oleh kehadiran media daring dan media sosial, Abah justru mendirikan media cetak baru. Apalagi, di tengah ancaman Pandemi Covid-19.

Salah satu menu disway.id adalah Vlog. Saya mengikuti salah satu wawancara Abah di dalam vlog itu. Kali ini yang diwawancara adalah sosok anak muda, pengusaha sukses. Siapalagi kalau bukan Azrul Ananda. Anak kandung Abah, tidak lebih-tidak kurang.

Dalam hal sepeda, Abah memiliki sejarah pahit. Dia baru bisa bersepeda ketika sudah menginjak kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA).

Orang tua tidak mengizinkan Abah untuk belajar bersepeda, karena belum mampu membeli sepeda sendiri.

Abah kecil berasal dari keluarga biasa saja. Beda dengan Azrul, mewarisi kekayaan Abah, Azrul tumbuh sebagai anak pengusaha. Pun demikian, Azrul tidak lantas berfoya-foya.

Kali ini, Abah mewawancarai anaknya itu dalam tema sepeda, lebih lengkapnya: Takjub Sepeda Booming, Dahlan Iskan Tanya Azrul Ananda.

Dalam pengantarnya, Abah menjelaskan, sudah terjadi pergeseran nilai terhadap sepeda.

Dengan nada becanda, Abah menyebutkan sepeda sudah menjadi “kendaraan” founder perusahaan. Sementara direksi mengendarai Mercy. Abah mau bilang, “kemewahan” sepeda diatas mobil merk Mercy.

Begitulah, sepeda sudah merubah nilai.

Rupanya, Azrul adalah seorang maniak sepeda. Koleksi sepedanya lebih dari seratus unit. Ya, lebih dari seratus sepeda, mulai dari yang paling murah, sampai yang paling mahal.

Mulai dari harga dua jutaan sampai hmmmm, Azrul tidak menyebutkan harga termahal, tebakan saya ratusan juta.

Saya terkejut di saat Azrul menjawab soal jumlah sepedanya. Kalau diurut, dalam sebulan tidak habis dikayuh semua.

Lebih terkejut lagi, di saat dia bilang sudah menaklukkan jalur sepeda di beberapa negara bagian Amerika, seperti Colorado, Virginia. Dan beberapa negara di Eropa seperti Inggris, Perancis, Spanyol.

Bukan hanya itu, Founder Developmental Basketball League (DBL) ini merayakan ulang tahun juga dengan cara menaklukkan medan yang paling terjal: lebih kurang 2700 meter diatas permukaan laut. Kalau tidak salah jalur itu di Colorado.

Menariknya, Dia menekuni hobi untuk seterusnya dijadikan bisnis.

Sebelumnya, dengan hobi Basket, Azrul sampai masuk dalam industri basket dengan mengelola liga basket remaja se-Indonesia.

Hobi Bola juga menghantarkan Azrul sebagai pemilik Persebaya, klub sepakbola kebanggaan warga Kota Surabaya.

Begitu juga dengan hobi sepeda, Azrul sudah mendirikan pabrik sepeda yang sudah memperoleh standar internasional. Sepeda yang dia produksi sudah bisa mengikuti kompetisi internasional. Oiya, dia juga memiliki café dengan tema sepeda.

Azrul adalah salah satu contoh pesepeda yang paripurna. Dia bersepeda untuk berolahraga,  memiliki jadwal rutin, setiap Rabu. Dan atas kebiasaan itu juga Azrul menamai situs web pribadinya: happywednesday.id.

Azrul juga pengoleksi sepeda. Tidak perlu memanjat status sosial lagi.

***

Ada hal lain yang saya tangkap dari dialog ayah-anak ini. Azrul menjelaskan, jika bersepeda dengan konsisten hampir sama dengan semedi. Apalagi disaat tanjakan.  

Masing-masing pesepeda fokus dengan dirinya. Jadi kenal dengan diri sendiri. Sepeda mempertemukan, tanjakan memisahkan.

Jika pesepeda sudah sampai ke level ini, biasanya sukses hidupnya, karena tahan sakit, tahan sengsara.

Dalam hal itu, Abah menyebutnya Makrifat sepeda. Pesepeda yang sudah melampaui pesepeda kebanyakan.

Kita boleh memperdebatkan diksi makrifat itu. Saya menangkap apa yang disampaikan Abah adalah bentuk apresiasi kepada pesepeda seperti Azrul.

Ya, tidak mudah bersepeda seperti penjelasan Azrul. Bukan karena bersepeda di berbagai negara. Tapi, menempuh jarak sampai 200 kilometer sekali jalan, kalau tak biasa bisa pingsan di tengah jalan.

Seperti rencana Azrul dalam merayakan ulang tahunnya kedepan: bersepeda dari Surabaya ke Bromo. Jaraknya sekitar dua ratus kilometer, dengan tanjakan sekitar 3.000 meter.

Bersepeda tanpa henti dalam durasi waktu delapan jam itu bukan main menyiksanya. Kalau duduk “bersemedi” selama itu mungkin juga akan makrifat. Apalagi rutin dilakukan seminggu sekali seperti Azrul bersepeda.

Tiba-tiba saya membayangkan. Wajar saja manusia model si Azrul ini sukses dalam hidupnya.

Kalau dalam hal hobi saja yang menghabiskan uang dia bisa seserius ini, apalagi dalam urusan bisnis yang akan menghasilkan uang.

Saya teringat kata guru, setiap ahli, baik itu ahli musik, ahli olahraga, menghabiskan waktunya sekitar empat jam sehari untuk berlatih sampai menjadi ahli.

Kita mengenal seseorang di saat sudah menjadi tokoh, tapi pelajarilah bagaimana “menderita”nya saat berlatih. Ada airmata di situ, ada tangis, ada derita.

Oiya, hal menarik lainnya, Dahlan Iskan dalam salah satu catatannya menyebutkan, dia  hanya memiliki saham sebanyak dua persen di Harian Disway. Selebihnya milik karyawan. Katanya ingin mengikuti langkah Ren Zhengfei di Huawei.

Wah, barangkali, diusianya yang memasuki 70 tahun ini, Dahlan Iskan juga sudah Makrifat dalam bentuk yang lain. Selamat berkarya Pak Dahlan dan Pak Azrul.

Komentar

Loading...