Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Mahkamah Syariat Lhokseumawe Gelar Sidang Perkara Pencabulan Santri Ponpes An-Nahla  

Mahkamah Syariat Lhokseumawe Gelar Sidang Perkara Pencabulan Santri Ponpes An-Nahla  
Foto: Pelaku pencabulan dan pelecehan seksual santri Ponpes An-Nahla Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE, ANTEROACEH.com - Mahkamah Syariat Lhokseumawe menggelar sidang perdana perkara dugaan pencabulan dan pelecehan seksual santri Ponpes An-Nahla Lhokseumawe dengan terdakwa bekas pimpinan Ponpes tersebut Tgk AI (45) dan oknum guru MY (25)  , Kamis (10/10/2019) pagi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe  Fakhrillah SH  saat dihubungi anteroaceh.com, menyebutkan  Sidang  tertutup untuk umum itu dipimpin ketua ketua majelis hakim Azmir SH. MH.  Dimulai pukul 9.30 WIB diawali  dengan terdakwa Tgk AI.

Fakhrillah menerangkan dalam materi dakwaan, Tgk AI  didakwa  dengan pasal 50 Qanun Aceh  No 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayah, jo Pasal 65 KUHP Subsider Pasal 47 Qanun Jinayah, jo Pasal 65 KUHP. Sedangkan terdakwa MY   didakwa dengan pasal 50 , jo pasal 1 (angka) 30  Qanun Aceh No 6 tahun 2014 tentang hukum jinayah.

“Terdakwa disidang sendiri-sendiri, karena berbeda berkas perkara. Usai pembacaan materi  dakwaan,  kedua pengacara terdakwa mengajukan eksepsi,” kata Fakhrillah yang mengaku didampingi JPU  Sahril di persidangan tersebut.

Katanya sidang akan dilanjutkan pekan depan tepatnya pada Kamis 17 Oktober mendatang dengan agenda eksepsi dari terdakwa.

Untuk diketahui, Polres Lhokseumawe menahan  Pimpinan Pondok Pesantren An-Nahla, Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Tgk AI dan seorang oknum guru inisial MY  pada awal Juli 2019. Keduanya  diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap belasan santri.

Modusnya korban diperintah membersihkan kamar Tgk AI, kemudian dipaksa menginap saat malam hari di kamar itu. Setelah itu dilecehkan. Ada juga korban mengaku sakit, kemudian dibawa ke kamar tidur pelaku, setelah diberi obat, korban dilecehkan.

Dari 16 korban , hanya enam  korban yang berani melaporkan kasus tersebut ke Polisi. Terungkapnya kasus besar itu, berkat laporan keluarga korban pada akhir Juni lalu.

Penyidik Kepolisian, menerapkan pasal 50 dan 47 Qanun Aceh no 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayah, dan tidak menerapkan pasal perlindungan anak kepada kedua pelaku  dengan dalih, untuk menyamakan penerapan hukum untuk kasus serupa.

Komentar

Loading...