Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Mahasiswa Malaysia Positif, dan Pentingnya Tes Swab

Mahasiswa Malaysia Positif, dan Pentingnya Tes Swab

Kerajaan Malaysia melalui Kementrian Kesehatan membuat kejutan. Dalam pernyatan media yang disampaikan pejabat setingkat Dirjen itu, Kerajaan memberitahukan ada penambahan 84 kasus positif Corona. 43 diantaranya merupakan mahasiswa Malaysia yang belajar di Turki, Jawa Timur, Kalimantan dan Aceh.

Begitu kata Dirjen Dr. Noor Hisham Abdullah. Sebagaimana diberitakan, kerajaan Malaysia memulangkan seluruh mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, termasuk Indonesia dan Aceh.

Di Aceh, ada sekitar 400 orang mahasiswa dan santri asal Malaysia. Mereka tersebar di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Dayah Ulee Titi, Dayah Lam Ateuk, Dayah Mudi Mesra Samalanga, dan beberapa Dayah lainnya.

Dr. Noor mengatakan, dari 43 orang itu, Tiga diantaranya pulang dari Aceh, dua orang mahasiswa sedangkan satu orang lainya adalah pelancong. Mereka bertolak dari Aceh melalui  Bandara Sultan Iskandar Muda tanggal 16 April, kemudian transit di bandara Kualamu, Medan. Selanjutnya dikarantina oleh Kerajaan selama beberapa hari, dan dilakukan uji swab, hasilnya tiga orang dinyatakan positif.

Apa yang hendak kita katakan dengan data tersebut? Ada kemungkinan mereka membawa pulang virus dari Aceh. Walaupun masih ada kemungkinan lain, terjangkit diperjalanan misalnya, perlu tracking yang komprehensif.

Perlu kita wanti-wanti kemungkinan pertama, mereka terjangkit di Aceh. Jika benar demikian, pihak kampus dan pemerintah tidak boleh lalai, segera ambil tindakan. Lakukan tracking, mulai dari tempat tinggal, tempat belajar atau pasar yang pernah mereka kunjungi. Segera lakukan isolasi orang yang pernah bersentuhan dan lakukan tes swab.

Untuk melacak keberadaan pembawa (carrier) Covid-19 ini tidak ada yang lebih akurat daripada tes swab. Semakin banyak populasi dalam satu daerah diambil sampel air liur dan diuji di laboratorium, maka semakin akurat kita dapat mengetahui seberapa besar orang yang sudah terjangkit.

Ibarat air, tenang bukannya tak berikan. Perlu kita pancing, lempar umpan, barulah kita tahu ada atau tidaknya ikan. Kita apresiasi kepada pemerintah yang sudah melakukan rafid test kepada pengunjung beberapa warung kopi. Memang ada sedikit masalah, rafid test dianggap tidak begitu akurat, seperti salah seorang pasien di Abdya, positif versi rafid tetapi negatif versi swab.

Dari hari kehari, kita harus meningkatkan pola pencegahan, himbauan jaga jarak sudah, cuci tangan pakai sabun sudah, pakai masker juga sudah. Sekarang saatnya perbanyak uji laboratorium. Mekanismenya silahkan diatur, apakah disetiap daerah perbatasan, tempat keramaian, yang tujuannya menjangkau populasi lebih banyak.

Kasus mahasiswa Malaysia ini cukup menjadi pelajaran. Bagaimana daerah yang kita sangka aman ternyata diam-diam ditemukan, itu berkat uji swab. Apakah pihak berwenang masih menganggap tes swab hanya untuk pasien yang sudah menunjukkan gejala?.

Tes swab memang mahal, namun hasilnya, pemerintah dapat memetakan sebaran carrier. Semakin cepat diketahui, semakin baik untuk penanganan. Pemerintah dan masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi. Barangkali, anggaran Refocussing salah satunya dapat digunakan untuk memperbanyak sample tes swab, kalau perlu tambah laboratorium. Bisa saja, kan?

Komentar

Loading...