Update COVID-19 Aceh

0 Terkonfirmasi
0 Dirawat
0 Sembuh
0 Meninggal

-

Sumber: -

Mafia Dapur dan Mafia-mafia Lainnya

Mafia Dapur dan Mafia-mafia Lainnya
Ilustrasi mafia

Oleh : Alja Yusnadi

Don Vito memutuskan gencatan senjata. Perang antar mafia telah merenggut nyawa anak sulungnya, Sonny Corleone. Para Pembesar bersidang. Pesertanya dari berbagai Mafia yang eksis pada saat itu.

Don Vito datang dengan besar hati, walau dia tahu, Emillio Barzini ada disitu. Seseorang yang telah membunuh Sonny dengan cara meperalat Carlo Rizzi, menantunya.
Guna menghindari konflik yang lebih parah, Don Vito tidak menuntut balas dan bersedia untuk kerjasama dengan keluarga mafia lainnya. Don Vito juga sepakat mengelola bisnis narkoba, asal tidak diedarkan di sekolah. Itu adalah kisah para mafia Amerika yang dikisahkan dalam film The God Father I.

Mafia menjadi cerita tersendiri dari perjalanan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini. Setidaknya, negara seperti Amerika, Italia, Jepang, Mexico, mafia menjadi bahagian sejarah yang tak bisa dipisahkan. Selain mengurus bisnis haram, perjalanan cerita mafia juga tidak lekang dari pertarungan sesamanya, ini menandakan begitu keras persaiangan.

Dalam kisah nyata, Lucky Luciano adalah seorang bos mafia yang pernah berkuasa di Amerika. Bersama Five Point Gengnya, Lucky juga merekrut beberapa anak muda Irlandia dan Italia untuk menjadi anak buah, salah satu yang terkenal adalah Al Capone dan Johnny Torrio yang kelak menjadi bos besar mafia yang namanya bisa dihapal oleh anak-anak muda Indonesia.

Mafia melakukan berbagai bisnis yang dilarang oleh negara, seperti perdagangan minum keras, prostitusi, perjudian dan dagang candu. Kehidupan mafia ini juga menarik perhatian para sutradara, beberapa film seperti The God Father, The Warriors, Snatch, American Gangster, berhasil merebut pasar.

Secara umum, Mafia ini lekat sekali hubungannya dengan kelompok besar, kuat dan terorganisir untuk melakukan bisnis terlarang. Walaupun, menurut Joseph Bonanno, salah satu mafioso besar di Amerika, dalam autobiografinya “A Man Of Honor”, Joe menyebutkan, bahwa Mafia itu berasal dari jeritan seorang Ibu yang putrinya diperkosa tentara perancis, “Ma Fia” yang berarti “Putriku.”

Namun dalam dalam praktiknya, mafia ini lebih laku sebagai definisi yang pertama tadi. Kalau begitu, Mafia tidak hanya di Amerika atau Italia saja. Macam-ragam mafia itu. Ada mafia Bawang, Mafia Ayam, Mafia Sapi, Mafia Bebek, Mafia Beras, ini mafia apa kebutuhan dapur? Ya, Mafia kebutuhan dapur.

Masih ingat bagaimana seorang bos partai yang terlibat dalam pengaturan kuota impor daging sapi, anggota parlemen yang terlibat mengatur impor bawang. Baru-baru ini, polisi ingin membongkar bantuan miliaran rupiah untuk anak bebek di Aceh Tenggara.  

Apa beda dengan Mafia yang ada di Italia, sekilas yang disini baik-baik saja, karena tidak mengorganisir perdagangan narkoba, prostitusi atau perjudian. Tapi kalau sudah dilakukan oleh kelompok kuat dan terorganisir, apa bedanya?

Akhir-akhir ini, Mafia juga di lakapkan setelah kata  proyek, sehingga menjadi mafia proyek. Jika mafia itu adalah kumpulan, para anggotanya adalah Mafioso. Bagaimana pula dengan Mafia Proyek? Yang paling prestisius itu adalah bagaimana pengaturan proyek wisma atlet hambalang.

Singkatnya, Mafia di Indonesia tidak mengenal sektor. Selain kluster narkoba yang dikuasai sindikat internasional, berbagai sektor lain juga berpotensi untuk dijadikan ladang oleh Mafioso. Kemudian, siapa saja yang berpeluang? Semua elit dan borjuasi. Kaum proletar atau lamiet sudah pasti tidak cukup syarat, karena untuk makan saja berat. Elit disini tentu kaum pengambil kebijakan baik eksekutif, legislative maupun yudikatif.

Iya, ketiga cabang kekuasaan ini sudah cukup memberi gambaran kepada kita. Kalau dua cabang pertama, jangan ditanya, mulai pusat sampai daerah, mulai menteri hingga kepala desa, mulai anggota DPR RI hingga anggota perwakilan rakyat daerah, sudah beleak kasusnya. Untuk cabang terakhir, yang menjadi tumpuan akhir dalam teori negara demokrasi yang akan mengadili eksekutif-legislatif juga ikut terseret kedalam jurang nista nan mengasyikan itu.

Bagaimana Akil Mukhtar, mantan ketua Mahkamah Konstitusi dapat disuap untuk memutus perkara. Djoko Susilo, mantan Kakorlantas Polri, Susno Duadji, Suyitno Landung, mantan Kabagreskrim, Edmon Ilyas, Raja Erizman, Ismoko adalah deretan perwira tinggi polisi yang tersandung kasus hukum, umumnya menyangkut kasus korupsi yang menggarong uang negara.

Jaksa juga demikian, Agus Winoto, Yadi Herdianto, Yuniar Sinar pamungkas, Eka Safitra, Satriawan Sulaksono adalah nama-nama Jaksa yang tersangkut kasus hukum dan berurusan dengan KPK.  

Hakim sebagai pemilik kekuasaan absolut untuk memutus suatu perkara juga tidak lepas, Kartini Marpaung, Heru Kisbandono, Pragsono, Asmadinata, Setyabudi Tejocahyono adalah nama-nama hakim yang tersandung kasus suap, yang lebih celaka adalah mereka ditangkap disaat sedang mengadili kasus korupsi.

Borjuasi, saya pinjam istilah ini untuk mewakili para pengusaha yang memiliki pendapatan berpuluh, beratus bahkan beribu kali lipat dibandingkan rakyat kebanyakan. Para borjuasi ini juga tidak sedikit jumlah yang berurusan dengan penegak hukum, mulai dari zaman Edi Tamsil semasa saya masih SD, hingga sekarang.

Yang paling berbahaya adalah permufakatan elit dengan borjuasi, hulu ledaknya dapat berwujud macam-macam, jual beli pasal, kebijakan, atur-atur proyek, dan entah apalagi, pokoknya apa saja bisa diatur, dari urusan bawang yang kecil sampai urusan sapi yang besar.

Cukup sampai disitu? Belum, perilaku sedemikian juga merasuk hingga kepada pengamat, perguruan tinggi, dan entah apalagi. Kalau ibaratnya semut, dimana ada gula pasti ada dia. Baru-baru ini, Arteria Dahlan dan Habiburokhman, dua orang anggota komisi III DPR RI ini menuding Najwa Shibab ada hubungannya dengan salah satu vendor yang ditunjuk pemerintah untuk mengurus program pra-kerja.

Rupa-rupanya, mengkritik adalah pekerjaan mudah dan bisa dilakukan semua orang. Yang susah itu adalah mempertahankan prinsip disaat menjadi tiga cabang kekuasaan tadi atau borjuasi atau yang dekat-dekat dalam pekarangan keempat kalangan itu.

Proletar dan lamiet, istilah ini saya pinjam untuk mewakili masyarakat, yang paling banyak di negeri ini, yang terkadang untuk hal-hal dasar saja susah memenuhinya. Dalam lakon yang berupa-rupa, para Mafioso telah hidup dan subur di negri ini, hanya tunggu waktu saja, apakah kita akan menjadi bagian didalamnya?

Cobaan terberat itu adalah disaat berada pada Quarted kekuasaan tadi. Bisa jadi, hari ini saya menulis, anda mengkritik, entah sebagai pengamat, penikmat, peminat, lalu pada periode politik berikutnya menjadi anggota perwakilan, memegang kekuasaan eksekutif, menjalankan fungsi yudikatif atau menjadi tauke. Disitulah prinsip diuji, apakah akan menjadi Don Vito, Alcapone lokal? Saya tidak tahu!

Komentar

Loading...