Update COVID-19 Aceh

0 ODP
0 PDP
0 Positif
0 Meninggal
0 Sembuh

-

Sumber: -

Macam Model Pengkritik Nova

Macam Model Pengkritik Nova

Oleh : Alja Yusnadi

Pemilihan kepala daerah masih lama. Tapi, arena tarung sudah mulai dibersihkan. Para pemain masih belum nampak, hanya pelatih dan supporter yang sudah ngetes lapangan. 

Gejala itu dapat kita lihat dari saling serang di media sosial. Salah satu sasarannya adalah Pemerintah Aceh yang sekarang dipimpin oleh Plt Gubernur, Nova Iriansyah.

Sejak naik tahta, Nova bisa dibilang tak henti-hentinya di terpa angin-badai, puting beliung. Banyak kebijakan di telanjangi. Celakanya, ada saja kesalahan non-teknis yang mereka lakukan, ributlah masyarakat, setidaknya pengguna media sosial.

Hampir tak ada minggu tanpa berita yang 'menertawakan' Pemerintah Aceh. Saya ambil saja beberapa yang viral, sebut saja kasus salah ucap atau salah ketik “Bencana disebabkan oleh medsos” dan “Siapa makan pakan sapi?”

Entah dapat wangsit darimana, Nova mengaitkan media sosial dengan bencana. Yang ada, pengguna media sosial nyinyir terhadap kepemimpinannya. Lantas, apa hubungannya dengan bencana? Mungkin saja pada saat itu Nova ingin menghibur korban longsor Paya Tumpi.

Terbaru, giliran pembantu bagian Hewan Ternak yang menjadi olok-olok pengkritik Nova. Hampir seminggu menjadi samsak pemberitaan. Dimulai dari liputan media daring, laporan langsung dari lokasi peternakan, menjadi headline media, hingga memaksa Nova melepaskan sendiri sapi-sapi itu dari kandang.

Kejam sekali bukan? Zaman sekarang, jangan main-main dengan netizen. Yang benar saja bisa jadi salah, apalagi yang salah, habislah ditelanjangi. Dan, itu pula yang di rasakan Nova selama ini. Memang, dia pernah berkata, tidak anti kritik, namun membenci hoax.

Dugaan saya, disamping karena lemahnya kinerja, banyaknya muncul pengkritik juga di sebabkan oleh korona.

Karena tidak bisa kemana-mana, memaksa orang untuk membaca dan menulis. Lahirlah banyak pengamat dan penulis. Setidaknya, ini yang saya rasa. Belum lagi lawan politik yang memang tidak menyukai Nova dan kawan-kawannya.

Alasan bisa bermacam ragam, tapi Nova dan para pembantunya harus meningkatkan kewaspadaan. Lihat saja, mulai dari salah ucap, salah kutip, sampai urusan binatang. Semua jadi persoalan.

Apa yang Anda tangkap dari riuh-renyahnya kritikan terhadap Nova ini? Ada yang menjawab inilah pemerintah demokratis, silahkan cerca, tidak akan dituntut. Ada pula yang menganggap lemahnya kinerja Nova. Tidak sedikit pula yang berfikir ini adalah pra kondisi menjelang Pilkada.

Bagi penganut paham yang pertama, tentu memiliki alasan. Sebagai sosok yang tidak temperamental, saya kira Nova memiliki cara tersendiri dalam menanggapi kritikan, sama seperti mantan ketua umumnya.

Berbeda dengan Nova, Irwandi, pendahulunya itu lebih temperamen. Banyak orang yang sudah merasakan. Dengan gaya greh-grohnya, Irwandi tak segan untuk berlaku kasar.

Bagi yang kedua, Nova tidak memiliki kekuatan untuk menahkodai Aceh tinggal landas dari kemiskinan. Banyak program yang tidak jalan. Aceh Hebat, Aceh Troe, Aceh Teuga, berubah menjadi Aceh Reuloh, Aceh Deuk, Aceh Leumoh, mudah-mudahan tak menjadi Aceh Pungo.

Kita harus angkat topi pada yang berlaku demikian. Biasanya, baik personal, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) akan berlaku sama pada setiap rezim. Dia akan ribut jika ada keganjilan. Tak bisa diam jika ada yang menggerogoti Anggaran publik.

Bukan perkara Nova, bukan Irwandi, bukan Zaini, bukan siapa-siapa. Tapi yang dikritik adalah kebijakan.

Lembaga semacam ini memang harus tetap ada. Agar, kekuasaan eksekutif, legislatif dan Yudikatif dapat di kontrol. Tidak kebablasan. Dan yang bertugas menjaga nalar publik agar tetap waras.

Ada lagi, model yang ketiga. Tajamnya sama, bahkan bisa lebih maju. Mengkritik sampai ke urusan pribadi. Pengkritik semacam ini biasanya berasal dari lawan politik atau yang memiliki masalah pribadi dengan Nova.

Beberapa diantaranya memiliki afiliasi politik praktis yang kental. Ada juga yang menjadi bagian dari pemerintah sebelumnya. Sekarang, dia mengkritik, berteriak, ada juga mengkritik karena keinginan belum terpenuhi. Ada juga memilih diam setelah mendapat SK, ada.

Dari ketiga model pengkritik ini, anda masuk bagian mana? Terserah, tak masalah. ada satu lagi model kritik, tidak masuk ke dalam ketiga tadi, lebih tepat disebut penghujat. Pengkritik yang menuduh Nova sebagai antek PKI.

Biasanya, issue ini muncul bulan September. Tahun ini muncul lebih awal, bulan Juni. Menghubungkan Nova dengan PKI tentu bukan kritik, ini hoax dan cara yang paling menjijikkan.

Saya rasa, ketiga model pengkritik tadi akan berbelok arah berdiri bersama Nova, termasuk saya. Pesan-pesan suara disebar melalui group WhatsApp. Ada suara laki-laki, ada suara perempuan.

Beberapa akun facebook juga memposting poto Nova dengan menyematkan logo palu arit di pecinya. Dua model terakhir ini benar-benar menjadi sampah, tak berguna. Padahal, Pramudya Ananta Toer sudah mengingatkan, Berlaku adillah sejak dalam pikiran.

Saya, anda bisa saja tidak suka dengan kepemimpinan Nova, tapi membunuh karakter dengan membawa serta partai terlarang itu adalah sikap pengecut yang harus kita lucut.

Komentar

Loading...